Jokowi Tegaskan Tak Marahi Menteri: Memotivasi Agar Kerja Lebih Keras

Presiden Jokowi menarik perhatian publik ketika membuka sidang kabinet di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada 18 Juni lalu. Dalam rapat tertutup itu, nada Jokowi meninggi seakan terlihat emosional dan marah.
Dia kesal dengan kinerja menteri yang biasa saja di tengah pandemi corona. Bahkan, dia mengancam akan melakukan reshuffle jika kinerja para menteri tak punya sense of crisis.
Menanggapi hal itu, Jokowi menjelaskan bahwa pada saat itu dia tidak dalam kondisi marah. Dirinya hanya sekadar memberikan motivasi pada para menterinya agar bisa bekerja lebih keras lagi.
"Tapi kalau mintanya, dengan nada berbeda, yang memotivasi para menteri untuk bekerja lebih keras lagi," kata Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (13/7).
"Bukan marah, memotivasi. Agar lebih keras lagi bekerjanya,"
Sejauh ini, Jokowi memprediksi Agustus hingga September akan terjadi lonjakan penyebaran COVID-19. Maka dari itu, diperlukan kerja keras untuk mengantisipasi itu.
"Kalau melihat angka-angka memang nanti perkiraan puncaknya ada di Agustus atau September, perkiraan terakhir," ujarnya.
"Tapi kalau kita tidak melakukan sesuatu, ya bisa angkanya berbeda. Oleh sebab itu saya minya pada para menteri untuk bekerja keras," tutur dia.
Sebelumnya, dalam video berdurasi 10.20 menit yang dirilis Istana pada Minggu (28/6), Jokowi sudah bicara keras sejak awal menegur menteri yang tidak punya sense of crisis di masa pandemi corona.
Jokowi juga mengutip data yang memprediksi pertumbuhan ekonomi bisa minus akibat pandemi COVID-19.
