Jokowi Undang Kaisar Jepang Bahas Hubungan Dua Negara

12 Januari 2020 10:24 WIB
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Kaisar Jepang Naruhito berdiri di balkon Istana Kekaisaran selama upacara penyambutan Tahun Baru di Tokyo, Kamis (2/1). Foto: Kazuhiro NOGI / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Kaisar Jepang Naruhito berdiri di balkon Istana Kekaisaran selama upacara penyambutan Tahun Baru di Tokyo, Kamis (2/1). Foto: Kazuhiro NOGI / AFP
ADVERTISEMENT
Presiden Jokowi mengundang Kaisar Jepang, Naruhito, untuk membangun kerja sama internasional. Undangan tersebut disampaikan ke Menteri Luar Negeri Jepang, Motegi Toshimitsu, saat menyambangi Istana Merdeka pada Jumat (10/1).
ADVERTISEMENT
"Undangan Presiden Joko Widodo kepada Kaisar Naruhito adalah proses penting bagaimana konsep politik Indonesia dan simbol Negara Jepang yang berlandaskan pada keselarasan (harmoni) bertemu," ujar juru bicara presiden, Fadjroel Rachman, dalam keterangan tertulis, Minggu (12/1).
Ini adalah undangan pertama Jokowi ke Naruhito sejak kaisar pengganti Akihito itu naik takhta pada Mei 2019. Menurut Fadjroel, rencana pertemuan Jokowi dan Naruhito akan memberikan dampak yang baik bagi kedua negara.
"Penguatan jaringan kerja sama diplomasi global berdasar konsep keselarasan, yaitu saling kerja sama dan peduli, yang dibutuhkan untuk menghadapi krisis global," kata Fadjroel.
Presiden Joko Widodo menerima kunjungan dari rombongan Menteri Luar Negeri Jepang Motegi Toshimitsu di Istana Merdeka, Jumat (10/1). Foto: Fahrian Saleh/kumparan
"Terbentuk simbol kekariban lintas negara dengan agama berbeda yang hidup berdampingan secara damai," tambahnya.
Menurut Fadjroel, rencana pertemuan Jokowi dan Kaisar Reiwa --era Naruhito-- menjadi sangat menarik. Walaupun tidak secara langsung mengelola kekuasaan politik pemerintahan, kaisar merupakan representasi kekuatan sosial karena menjadi pucuk tertinggi agama Shinto. Kaisar Jepang menjadi simbol juga dalam membangun hubungan antar negara.
ADVERTISEMENT
Selain itu, kata Fadjroel, era Reiwa yang memiliki arti keselarasan nan indah juga akan menjadi simbol masyarakat Jepang dalam konteks hubungan-hubungan internasional.
"Presiden Joko Widodo pun memiliki konsep yang serupa, yaitu keselarasan seluruh komponen bangsa untuk mencapai Indonesia," ungkap Fadjroel.
"Hal ini bisa dilihat pada hubungan negara Jepang dengan Cina dan Korea Selatan. Hubungan mereka berubah baik ketika Kaisar Akihito menciptakan kebijakan ‘permohonan maaf’ kepada kedua negara tersebut terkait Perang Dunia II. Kaisar Akihito sendiri sejak menjadi kaisar mendapat julukan atau gelar Kaisar Heisei yang bermakna ‘era perdamaian’," tuturnya.