Julukan Crazy Rich Mengalami Pelokalan Daerah, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

25 Maret 2022 10:59 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Crazy Rich Malang, Gilang Widya Pramana bersama Crazy Rich Andara, Raffi Ahmad. Foto: Instagram/juragan_99
zoom-in-whitePerbesar
Crazy Rich Malang, Gilang Widya Pramana bersama Crazy Rich Andara, Raffi Ahmad. Foto: Instagram/juragan_99
ADVERTISEMENT
Julukan Crazy Rich di Indonesia tengah menjadi sorotan, semenjak Indra Kenz dan Doni Salmanan yang kerap kali disematkan label 'Crazy Rich' ditangkap pihak Kepolisian, karena kasus penipuan trading.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya, Indra Kenz yang digadang-gadang sebagai 'Crazy Rich Medan' dan Doni Salmanan sebagai 'Crazy Rich Bandung', kini justru mendapatkan pelabelan baru menjadi 'Crazy Rich Abal-Abal' atas kasus yang menimpa keduanya.
Setelah insiden itu, tak sedikit juga yang mengkritisi soal penggunaan sebutan 'Crazy Rich' yang dengan mudah diberikan kepada orang-orang kaya di berbagai wilayah Indonesia.
"Kalau dipikir-pikir memalukan loh kata crazy rich, tapi lokalisasinya begitu (Crazy Rich Medan, Crazy Rich Bandung, dll). Jadi makin lama makin kecil kan," ujar Deddy Corbuzier dalam video podcast-nya di YouTube bersama Rudy Salim.
Lantas, bagaimana sebutan 'Crazy Rich' ini bisa semakin marak digunakan?
Sebutan 'Crazy Rich' semakin terdengar di kalangan publik, saat pertama kali film berjudul Crazy Rich Asians ramai diperbincangkan. Film ini memang menarik mata perhatian banyak orang, lantaran menceritakan konglomerat asal China-Singapura yang menguasai kekayaan di Asia.
Salah satu scene di film Crazy Rich Asians Foto: Warner Bross Pictures
Akan tetapi, pemaknaan 'Crazy Rich' semakin bergeser terlebih penggunaannya di Indonesia. Label 'Crazy Rich' semakin mengarah pada penggambaran orang-orang Kaya yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Bali, Bandung, Medan, Jakarta.
ADVERTISEMENT
Praktisnya, penggambaran 'Crazy Rich' di Indonesia merujuk pada skala yang lebih kecil, yakni dibatasi hanya dalam wilayah-wilayah. Penggunaan 'Crazy Rich' di Indonesia mengalami pelokalan wilayah.
Dari video podcast Dedi Corbuzier bersama Rudy Salim di YouTube, Rudy sebagai salah satu yang juga disematkan dengan istilah 'Crazy Rich' ini, mengaku bahwa sebutan itu semakin ramai di Indonesia saat Raffi Ahmad membuat vlog tentang diri Rudy dan menyebutnya sebagai 'Crazy Rich Pluit'.
"Ungkapan-ungkapan Crazy Rich ini sebenernya gara-gara Raffi ini. Pertama dibikin konten di vlog. Datang ke kantor kan, 'wah gila ya, kantor lu ini crazy rich nih. Judulnya (video) Crazy Rich Pluit. Mati gue. Muncul lah habis itu Crazy Rich PIK lah, Crazy Rich apa lah," ungkap Rudy.
ADVERTISEMENT
Dari penelusuran kumparan di YouTube, setidaknya ditemukan beberapa nama orang yang kerap disematkan label 'Crazy Rich'. Mulai dari Rudy Salim, Doni Salmanan, hingga Raffi Ahmad.
Sebagian besar dari mereka yang mendapat label 'Crazy Rich', mayoritas merupakan publik figur yang kebetulan juga hobi flexing kekayaannya. Istilah flexing juga erat kaitannya dalam pelabelan Crazy Rich, lantaran perilaku ini menjadi salah satu ciri khas yang selalu ditemui dalam deretan nama di atas.
Flexing merupakan salah satu frasa dalam bahasa Inggris. Mengacu pada kamus Merriam-Webster, flexing diartikan sebagai kegiatan memamerkan sesuatu atau yang dimiliki secara mencolok. Singkatnya, kini menjadi tren pamer harta di media sosial.
Indra Kenz dan Mobil Ferari California. Foto: Youtube/ Indra Kesuma

Bagaimana ahli memandang fenomena 'Crazy Rich' lokal ini?

Rhino Ariefiansyah, salah satu pengajar Antropologi di Universitas Indonesia (UI) yang juga memiliki ketertarikan dalam bidang Ekologi, Antropologi Visual, dan Geografi Manusia itu, menilai fenomena 'Crazy Rich' sebagai representasi multikultural yang keblinger.
ADVERTISEMENT
"Ini semacam representasi multikultural yang keblinger, salah arah. Ide Crazy Rich Asia muncul dalam konteks representasi kelompok etnis yang sebelumnya dianggap subordinat (terpinggirkan)," jelas Rhino kepada kumparan, Kamis (24/03).
Pengajar Antropologi Sosial di Universitas Indonesia, Rhino Ariefiansyah. Foto: Dok. Pribadi
Awalnya film Crazy Rich Asians yang tayang di Hollywood itu, Rhino nilai memiliki tujuan untuk menggambarkan sisi lain dari kelompok etnis Asia yang kerap terpinggirkan dalam kehidupan di Barat.
Dari representasi Crazy Rich Asians tersebut, kelompok etnis Asia ingin ditunjukkan sebagai kelompok yang juga memiliki kekuatan (power) dalam segi kekayaan.
Infografik Trader Abal-abal diciduk Polisi. Foto: Dok. kumparan
Rhino menyebut istilah 'Crazy Rich' di Indonesia yang semakin melokal itu atau terkotak-kotakan dalam wilayah tertentu, menjadi letak permasalahannya.
"Munculnya representasi crazy rich yang merujuk pada kelompok Juorang di daerah tertentu, bisa jadi adalah kegagapan kita memahami keragaman budaya," jelas Rhino.
ADVERTISEMENT
Rhino mengutip dari Antropolog Indonesia, Parsudi Suparlan, menjelaskan bahwa keragaman budaya (multikulturalisme) tidak hanya berbicara soal identitas kelompok etnis, tetapi juga persoalan kelas sosial, kondisi fisik atau mental, pekerjaan, dan lain-lain.
Parsudi Suparlan, Antropolog Indonesia. Foto: Dok.Forum Kajian Antropologi Indonesia
"Yang jelas munculnya fenomena ini tidak bisa menunjukkan sudah terjadi redistribusi kemakmuran. Malah bisa jadi makin mengaburkan persoalan ketimpangan. Karena kita diberi gambaran representasi bahwa sudah ada orang kaya di Bintaro, di Cisauk, atau di tempat-tempat yang selama ini identik dengan darah yang tidak mungkin ada orang kayanya," tambah Rhino.
Sementara, Devie Rahmawati, pengamat sosial dan Kajian Budaya UI melihat 'Crazy Rich' jelas sebagai simbol kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki kelompok sosial tertentu.
"Tidak heran banyak orang berupaya menunjukkan simbol-simbol bahwa mereka adalah orang-orang yang berada di puncak dari strata atau tingkatan sosial tersebut. Keuntungan yang diperoleh, pertama mereka bisa mendapatkan keistimewaan pengakuan. Kedua, mereka akan mendapatkan peluang keuntungan ekonomi yang jauh lebih besar. Ini yang kemudian bagi banyak orang akan berupaya untuk melakukan apa pun, agar bisa menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang berada di tingkatan atau level yang tinggi," ujar Devie kepada kumparan, Jumat (25/03).
ADVERTISEMENT