Jumlah Muslim Pemegang Hak Suara di Pemilu AS Meroket

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Imam Omar Niass memimpin salat magrib bersama sebagian besar pendatang asal Senegal, sebelum berbuka puasa Ramadhan dan menyajikan jamuan makan malam berbuka puasa di Masjid Ansaru-Deen Bronx, New York Jumat (15/3/2024). Foto: Bebeto Matthews/AP Photo
zoom-in-whitePerbesar
Imam Omar Niass memimpin salat magrib bersama sebagian besar pendatang asal Senegal, sebelum berbuka puasa Ramadhan dan menyajikan jamuan makan malam berbuka puasa di Masjid Ansaru-Deen Bronx, New York Jumat (15/3/2024). Foto: Bebeto Matthews/AP Photo

Jumlah pemilih pemeluk Islam atau berlatar muslim di Amerika Serikat mengalami peningkatan. Pemilu untuk menentukan presiden baru di AS akan digelar pada awal November 2024 mendatang.

Menurut perhitungan Council on American–Islamic Relations (CAIR), pada Februari 2024 terdapat kenaikan angka pemilik tradisional muslim di AS dari 1.785.755 ke 2.204984 pemilih.

CAIR merupakan organisasi advokasi dan hak sipil muslim terbesar di AS. Mereka menyebut, kenaikan pemilih muslim di AS terjadi di Connecticut, Colorado, dan Virginia.

Masjid Al Hikmah New York Foto: Andreas Gerry/kumparan

Riset perihal kenaikan angka pemilih dilakukan CAIR bersama lembaga riset data pemilu, Aristotle. Perhitungan untuk mengidentifikasi pemeluk muslim pemegang hak suara, yaitu dengan melihat nama depan atau belakang berserta informasi geografis dan kewarganegaraan.

CAIR juga mengidentifikasi ada pula pemilih muslim yang berasal dari kelompok Afrika-Amerika, kulit putih, dan Amerika Latin. Data ini didapat lewat metodologi konvensional.

Sementara itu, negara bagian dengan pemilih muslim terbanyak di AS yaitu: California, New York, Virginia, Texas, Michigan, New Jersey, Florida, Illinois, Maryland, Georgia, dan Ohio.

Warga menyaksikan kembang api kemenangan Joe Biden di Pemilu AS, di Wilmington, Delaware, AS (7/11). Foto: Mark Makela/REUTERS

Dengan adanya peningkatan pemilih dari kelompok muslim, Direktur Eksekutif CAIR Nihad Awad meminta agar mereka bersatu. Itu ditujukan agar ada tekanan terhadap pemerintah atau calon pemimpin AS mengenai sikap negara terhadap perang Gaza.

"Ketika jumlah pemimpin muslim Amerika meningkat dan bersatu menolak keras keterlibatan AS pada genosida Israel yang sedang terjadi terhadap warga Palestina di Gaza, surat suara kami punya kekuatan untuk membentuk kebijakan serta menentukan pemimpin kami, dan menentukan arah lebih baik bangsa," kata Awad dalam keterangan pers CAIR.