Jumlah Pasien COVID-19 Rawat Inap di RS Prancis Meroket

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana di unit gawat darurat rumah sakit Universitas Pierre Zobda-Quitman (CHU) di Fort-de-France di pulau Martinique, Karibia Prancis saat lonjakan kasus COVID-19 PADA rABU (1/12/2021).  Foto: Alain Jocard/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Suasana di unit gawat darurat rumah sakit Universitas Pierre Zobda-Quitman (CHU) di Fort-de-France di pulau Martinique, Karibia Prancis saat lonjakan kasus COVID-19 PADA rABU (1/12/2021). Foto: Alain Jocard/AFP

Seiring dengan lonjakan kasus COVID-19, jumlah pasien rawat inap akibat corona di Prancis juga meroket.

Dikutip dari Reuters, Kementerian Kesehatan Prancis melaporkan jumlah pasien COVID-19 di rumah sakit bertambah 618 orang pada Selasa (7/12). Saat ini, total pasien rawat inap mencapai 12.714 orang.

Ini menjadi lonjakan harian tertinggi kedua di Prancis. Penambahan harian tertinggi tercatat pada 6 April 2021 dengan 732 pasien. Saat itu, total pasien rawat inap di Prancis melampaui 30.600 orang.

Pasien di ruang perawatan intensif (ICU) RS bertambah 160 orang pada Selasa. Kini, total pasien di ICU mencapai 2.351 orang. Ini juga merupakan lonjakan tertinggi kedua pada 2021.

Pada 6 April 2021, 193 pasien masuk ICU dalam kurun waktu 24 jam, sehingga total pasien perawatan intensif mencapai 5.626.

Ilustrasi tes virus corona di Prancis. Foto: Pascal Guyot/AFP

Prancis saat ini tengah menghadapi gelombang kelima pandemi COVID-19. Menurut ahli, gelombang ini masih dipicu oleh varian Delta, meskipun varian Omicron sudah terdeteksi di negara ini.

Per Senin (6/12), Pemerintah Prancis sudah mendeteksi 25 kasus varian Omicron. 21 di antaranya adalah pendatang yang tiba dari wilayah selatan Afrika, sedangkan 4 lainnya adalah pasien penularan lokal.

Pada Selasa, kasus harian COVID-19 bertambah 59.019 orang dan 172 kematian. Total kasus corona Prancis sejak awal pandemi hingga sekarang mencapai 7.987.591 infeksi dan 119.988 kematian.

Meskipun penambahan kasus harian tetap tinggi, angkanya masih di bawah 60.000 kasus, sebagaimana yang terjadi pada April lalu.

Suasana di unit gawat darurat rumah sakit Universitas Pierre Zobda-Quitman (CHU) di Fort-de-France di pulau Martinique, Karibia Prancis saat lonjakan kasus COVID-19 PADA rABU (1/12/2021). Foto: Alain Jocard/AFP

Tidak Akan Ada Lockdown

Dengan peningkatan kasus yang signifikan ini, Pemerintah Prancis tetap kukuh pada pendiriannya untuk tidak memberlakukan lockdown. Hal ini disampaikan oleh Perdana Menteri Prancis, Jean Castex, pada Senin (6/12).

Menjelang Natal, kelab malam akan ditutup dan kebijakan jaga jarak sosial akan diperketat. Tetapi, tidak ada lockdown atau jam malam yang akan berlaku.

Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat vaksinasi di Prancis. Castex mengatakan, 52 juta orang sudah menerima vaksinasi dosis penuh. Ini setara dengan 90% dari total penduduk yang laik vaksin.

Oleh karenanya, Castex melihat situasi Prancis saat ini lebih baik dibandingkan dengan gelombang sebelumnya.

Ilustrasi tes virus corona di Prancis. Foto: Christophe Archambault/AFP

Menteri Kesehatan Prancis, Olivier Veran, mengatakan kombinasi dari dosis booster dan aturan jarak sosial yang ketat akan membantu Prancis dalam menghalau lockdown.

“Kami ingin melewati gelombang pandemi ini tanpa adanya pembatasan pada seluruh populasi Prancis, baik bagi yang sudah divaksinasi atau belum,” kata Veran.

Selain pemberian vaksin dosis booster, vaksinasi untuk anak di Prancis juga akan digalakkan. Mulai 15 Desember, anak usia 5-11 tahun yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, seperti penderita penyakit serius atau obesitas, akan bisa divaksinasi.

Sedangkan anak usia 12 tahun ke atas sudah bisa menerima vaksinasi. Vaksin Pfizer yang ditujukan untuk program ini akan tiba di Prancis pada 13 Desember, dan vaksin ini diharapkan dapat sampai ke seluruh anak Prancis mulai 20 Desember.