Jurnal: COVID-19 Akan Tetap Ada Usai Omicron, tapi Pandemi Segera Berakhir
ยทwaktu baca 6 menit

Dunia sedang mengalami gelombang besar virus SARS-CoV-2 varian Omicron. Perkiraan berdasarkan model Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan bahwa sekitar 17 Januari 2022 ada 125 juta infeksi Omicron sehari di dunia.
Dikutip dari jurnal kedokteran terkemuka Lancet yang ditulis Christopher J.L Murray, gelombang ini 10 kali lipat lebih tinggi dari puncak gelombang Delta yang dimulai April 2021.
Christopher Murray adalah penyelidik Amerika dalam bidang kesehatan global di Universitas Washington, Seattle. Ia juga merupakan petinggi di IHME.
Varian Omicron tak terhindarkan mencapai semua benua dengan hanya beberapa negara di Eropa Timur, Afrika Utara, Asia Tenggara, dan Oceania yang belum memulai gelombang peningkatan kasus.
Tingkat infeksi yang belum pernah terjadi sebelumnya menunjukkan bahwa lebih dari 50% dunia akan terinfeksi Omicron antara akhir November 2021 dan akhir Maret 2022.
Meskipun model IHME menunjukkan bahwa infeksi SARS-CoV-2 harian global telah meningkat lebih dari 30 kali sejak akhir November 2021 hingga 17 Januari 2022, kasus COVID-19 yang dilaporkan pada periode ini hanya meningkat enam kali lipat.
Sebab, proporsi kasus yang asimtomatik (tanpa gejala) atau ringan meningkat dibandingkan dengan varian SARS-CoV-2 sebelumnya. Sementara itu kini infeksi perlahan telah menurun secara global dari 20% menjadi 5%.
"Memahami beban Omicron sangat bergantung pada proporsi infeksi tanpa gejala. Tinjauan sistematis berdasarkan varian SARS-CoV-2 sebelumnya menunjukkan bahwa 40% infeksi tidak menunjukkan gejala," tulis Murray dikutip kumparan, Kamis (20/1).
Bukti menunjukkan bahwa proporsi infeksi tanpa gejala jauh lebih tinggi untuk Omicron, mungkin setinggi 80โ90%. Studi menunjukkan antara 230 orang di Afrika Selatan yang mendaftar dalam uji klinis, 71 (31%) adalah PCR positif untuk SARS-CoV-2 dan memiliki varian Omicron dan tidak ada gejala.
Dengan asumsi prevalensi infeksi ini mewakili populasi, insiden tersirat dibandingkan dengan kasus yang terdeteksi menunjukkan bahwa lebih dari 90% infeksi tidak menunjukkan gejala di Afrika Selatan.
Sementara itu, survei infeksi Kantor Statistik Nasional (ONS) Inggris memperkirakan titik prevalensi infeksi PCR positif SARS-CoV-2 sebesar 6,85% untuk Inggris pada 6 Januari 2022. Washington Medical Center di Seattle, AS, kasus tak bergejala tidak melebihi 2% selama pandemi COVID-19 tetapi melebihi 10% pada minggu 10 Januari 2022.
Selain proporsi infeksi tanpa gejala yang jauh lebih besar, di AS rasio rawat inap COVID-19 terhadap kasus yang terdeteksi telah menurun sekitar 50% di sebagian besar negara bagian dibandingkan dengan puncak sebelumnya.
Proporsi pasien COVID-19 di rumah sakit yang membutuhkan intubasi atau bergejala berat juga telah menurun sebanyak 80-90% di Kanada dan Afrika Selatan.
Meskipun tingkat keparahan penyakit per infeksi berkurang, gelombang besar infeksi Omicron berarti penerimaan pasien COVID-19 di rumah sakit meningkat di banyak negara. Dan akan meningkat menjadi dua kali atau lebih jumlah penerimaan rumah sakit dari lonjakan kasus COVID-19 sebelumnya menurut model IHME.
Namun, sebagian besar individu yang datang ke rumah sakit untuk alasan non-COVID-19 ternyata memiliki infeksi SARS-CoV-2 tanpa gejala.
Mengingat prevalensi populasi infeksi SARS-CoV-2 lebih dari 10%, seperti yang dilaporkan oleh survei infeksi ONS di London, Inggris, sejumlah besar petugas kesehatan dinyatakan positif dan diharuskan dikarantina, yang memberikan tekanan ganda pada rumah sakit.
Murray mendorong negara-negara memprioritaskan dukungan untuk sistem kesehatan dalam 4-6 minggu ke depan. Data dari Yunani, ungkap Murray, gelombang Omicron parah terjadi pada periode 21 Desember 2021 hingga 17 Januari 2022.
"Kasus COVID-19 meningkat hampir 10 kali lipat tetapi intubasi rumah sakit di antara pasien rumah sakit COVID-19 tetap sama seperti pada Desember 2021," katanya.
Namun masih menurut IHME, peningkatan kesadaran masyarakat untuk memakai masker dan vaksinasi ternyata tak berpengaruh signifikan terhadap pengurangan kasus Omicron. Disebutkan hanya akan mengurangi kasus kumulatif sebesar 10 persen.
Booster juga tidak akan berdampak besar pada gelombang Omicron. Sebab pada saat intervensi dilakukan, gelombang Omicron ternyata sudah berakhir.
Hanya di negara-negara yang gelombang Omicron belum mulai dapat memperluas penggunaan masker sebelum wabah memiliki efek yang lebih substansial. Intervensi ini masih berfungsi untuk melindungi individu dari COVID-19, tetapi kecepatan gelombang Omicron begitu cepat. Sehingga tindakan kebijakan tidak akan banyak berpengaruh secara global dalam 4โ6 minggu ke depan.
Masih ada pertanyaan terkait negara-negara yang mengejar strategi nol COVID-19, seperti China dan Selandia Baru. China memiliki transmisi Omicron lokal pada Januari 2022.9.
Mengingat tingginya transmisi Omicron, tampaknya China atau Selandia Baru tidak akan dapat secara permanen menihilkan gelombang omicron. Untuk negara nol COVID-19, pertanyaannya adalah waktu.
Omicron Pertanda Pandemi Segera Berakhir
Murray menjelaskan, lonjakan Omicron selanjutnya akan memungkinkan kemajuan pesat dalam meningkatkan cakupan vaksinasi. Dan pemahaman yang lebih baik tentang dampak varian Omicron pada populasi yang cukup naif secara imunologis.
"Pada Maret 2022, sebagian besar dunia akan terinfeksi varian Omicron. Dengan terus meningkatnya vaksinasi COVID-19, penggunaan dosis vaksin ketiga di banyak negara, dan tingkat kekebalan yang didapat dari infeksi, untuk beberapa waktu tingkat kekebalan global SARS-CoV-2 semakin tinggi," tutur dia.
"Selama beberapa minggu atau bulan, dunia akan memperkirakan tingkat penularan virus yang rendah," lanjutnya.
Murray menggunakan istilah pandemi untuk merujuk pada upaya masyarakat yang luar biasa selama 2 tahun terakhir untuk menanggapi patogen baru yang telah mengubah cara individu menjalani hidup mereka.
Kebijakan pemerintah negara-negara dalam menghadapi pandemi telah menyelamatkan banyak nyawa secara global.
Varian baru SARS-CoV-2 pasti akan muncul dan beberapa mungkin lebih parah dari Omicron. Kekebalan -- baik dari infeksi atau vaksinasi yang diturunkan -- akan berkurang, menciptakan peluang untuk penularan SARS-CoV-2 yang berkelanjutan. Terkait musim, negara-negara harus mewaspadai peningkatan potensi penularan di bulan-bulan musim dingin.
Namun, dampak penularan SARS-CoV-2 di masa depan terhadap kesehatan akan berkurang karena paparan virus sebelumnya yang luas. Vaksin yang secara teratur disesuaikan dengan antigen atau varian baru, munculnya antivirus, dan pengetahuan bahwa mereka yang rentan dapat melindungi diri mereka sendiri, menjadi faktor utama.
Murray mengingatkan, ke depannya saat dibutuhkan dengan menggunakan masker berkualitas tinggi dan jarak fisik. COVID-19 akan menjadi penyakit berulang yang harus dikelola oleh sistem kesehatan dan masyarakat.
Misalnya, jumlah kematian akibat Omicron tampaknya serupa di sebagian besar negara dengan tingkat musim influenza yang buruk di negara-negara belahan bumi utara.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) memperkirakan musim influenza yang lebih buruk selama dekade terakhir pada 2017โ2018 menyebabkan sekitar 52.000 kematian akibat influenza dengan kemungkinan puncaknya lebih dari 1.500 kematian per hari.
"Era tindakan luar biasa oleh pemerintah dan masyarakat untuk pengendalian penularan SARS-CoV-2 akan berakhir. Setelah gelombang Omicron, COVID-19 akan kembali, tetapi pandemi tidak," tutup Murray.
