Jurnalis Meksiko Dibunuh Usai Beritakan Kasus Penghilangan 43 Siswa
ยทwaktu baca 2 menit

Usai membuat unggahan tentang kasus hilangnya 43 siswa, seorang jurnalis ditembak mati di Meksiko pada Senin (22/8).
Fredid Roman ditemukan tewas dalam mobilnya di Chilpancingo, Negara Bagian Guerrero. Selang beberapa jam sebelumnya, Roman sempat mengunggah tulisan berjudul 'Kejahatan Negara Tanpa Menuntut Bos' melalui Facebook.
Roman membahas dugaan pertemuan antara empat pejabat saat hilangnya para siswa. Dalam unggahan itu, dia menyebutkan mantan Jaksa Agung Meksiko, Jesus Murillo Karam.
Organisasi kebebasan media tengah menyelidiki keterkaitan profesinya dengan kematian Roman. Jurnalis tersebut sering menerbitkan karyanya melalui berbagai halaman media sosial. Dia juga berkontribusi dalam sebuah surat kabar lokal.
Meksiko merupakan salah satu negara paling berbahaya di dunia bagi pers. Sekitar 150 jurnalis telah terbunuh sejak 2000.
Kekerasan terhadap pers telah meroket di bawah pemerintahan Presiden Meksiko, Andres Manuel Lopez Obrador. Dia mulai menjabat pada 2018.
Negara itu kemudian menyaksikan masa paling mengerikan bagi jurnalis sepanjang tahun ini. Pihak berwenang melaporkan setidaknya pembunuhan tiga jurnalis selain Roman pada Agustus.
Komisi Kebenaran mempublikasikan laporan kasus tersebut pada 18 Agustus. Otoritas lantas mengeluarkan puluhan surat perintah penangkapan bagi tersangka, termasuk personel militer, polisi, dan anggota kartel. Murillo Karam juga telah ditangkap.
Meksiko mencatat bencana hak asasi manusia terburuk dalam sejarahnya pada September 2014. Saat itu, 43 siswa hilang ketika sedang menumpangi bus di Iguala. Mereka tengah melakukan perjalanan untuk mengikuti protes dari Guerrero.
Komisi Kebenaran mencap kekejaman itu sebagai 'kejahatan negara' yang melibatkan agen dari berbagai institusi.
"Pemerintah sebelumnya menyembunyikan kebenaran fakta, mengubah TKP, menutupi hubungan antara pihak berwenang dengan kelompok kriminal," jelas pejabat tinggi hak asasi manusia Meksiko, Alejandro Encinas, dikutip dari AFP, Selasa (23/8).
Encinas menjelaskan, salah satu pelajar tersebut adalah informan militer. Tetapi, pihak berwenang tidak menjalankan protokol untuk menemukan tentara yang hilang.
Tindakan itu dapat mencegah penghilangan dan pembunuhan para siswa. Pencarian akhirnya hanya dapat menemukan jasad tiga pelajar.
Pakar HAM telah mengkritik penyelidikan resmi lantaran penuh kesalahan dan pelanggaran. Versi peristiwa sebelumnya menyatakan bahwa mereka dibunuh oleh geng narkoba lokal. Mengabaikan penjelasan itu, Obrador berjanji akan mengungkap kebenaran.
Protes kerap menyerukan harapan agar mereka kembali dengan selamat suatu waktu. Namun, Encinas menepis kemungkinan itu.
"Tidak ada indikasi bahwa para siswa masih hidup. Semua kesaksian dan bukti membuktikan bahwa mereka dibunuh dan dihilangkan," ujar Encinas.
