Jusuf Kalla: Organisasi Islam Jangan Memperkecil Diri, Seakan Eksklusif

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jusuf Kalla usai menghadiri Kongres Umat Islam ke-VII di Bangka Belitung, Kamis (27/2). Foto: Andesta Herli Wijaya/ kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Jusuf Kalla usai menghadiri Kongres Umat Islam ke-VII di Bangka Belitung, Kamis (27/2). Foto: Andesta Herli Wijaya/ kumparan

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, menjadi pembicara dalam sidang pleno Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-VII di Bangka Belitung.

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) menyorot model kongres yang diusung KUII VII, karena dinilai berpotensi ekslusif. Sebab, para peserta kongres umumnya adalah dari unsur organisasi-organisasi atau kampus-kampus Islam, serta melibatkan unsur partai politik.

Padahal, kata JK, umat Islam juga adalah orang-orang tanpa organisasi keislaman atau pun orang dengan riwayat pendidikan Islam.

“Apakah masih relevan kita membuat seperti kongres umat Islam ini antara kita seakan-akan yang Islam itu hanya ormas Islam? Padahal Islam itu jauh lebih besar. Jadi nanti kita eksklusif,” ungkap JK di Hotel Novotel Bangka and Convention Centre, Kamis (27/2).

Jusuf Kalla saat menjadi pembicara dalam Kongres Umat Islam ke-VII di Bangka Belitung, Kamis (27/2). Foto: Andesta Herli Wijaya/ kumparan

“Jangan kita ini pimpinan organisasi Islam ini memperkecil diri, bahwa yang umat (cuma) kita. Padahal yang umat ini 220 juta orang. Itu juga penting kita sadarkan supaya jangan seakan-akan kita eksklusif,” imbuhnya.

JK memaparkan, hari ini jarak antarkelompok atau kalangan masyarakat sudah semakin tipis. Jarak tipis itu baik dalam konteks relasional masyarakat mau pun dalam konteks gerakan politik.

“Apabila kita berbicara tentang adanya paham-paham abangan, santri, kiai, sekarang hampir jaraknya sudah sangat kecil,” ujar JK.

“Perbedaan politik antara yang dikenal partai Islam dan nasional sudah hampir sama. Sama juga masalahnya, semua juga punya masalah,” tekannya.

JK didaulat berbicara dalam kongres dengan tema ‘Strategi Umat Islam di Bidang Politik’. Dalam konteks ini, JK mengatakan, yang mesti menjadi fokus perjuangan umat Islam saat ini bukanlah pada bidang politik, melainkan ekonomi.

Ketua DMI Jusuf Kalla acara groundbreaking Museum Sejarah Nabi dan Peradaban Islam di Ancol, Jakarta, Rabu (26/2). Foto: Helmi Afandi/kumparan

“Jadi dalam pertemuan apa masalah kita satu-satunya? Masalah ekonomi. Di sinilah perjuangan kita, perjuangan ekonomi. Kita sekarang harusnya masuk dalam perjuangan ekonomi, tidak lagi dalam perjuangan politik,” tutup JK.

KUII digelar oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 26 - 29 Februari di Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kongres ini diikuti para pengurus MUI seluruh Indonesia, perwakilan organisasi Islam, ulama, unsur pondok pesantren, hingga unsur perguruan tinggi.

Kurang lebih 800 peserta hadir dalam acara kongres lima tahunan ini, baik utusan lembaga dan organisasi mau pun undangan dari berbagai daerah.

Dalam kegiatan kongres ini, para ahli agama atau cendikiawan akan membicarakan berbagai topik, berikut membentuk tawaran-tawaran solusi yang akan disampaikan kepada pemerintah. Topik itu menyangkut pendidikan, ekonomi, budaya, hukum dan sosial dan politik.

Selain JK, beberapa tokoh nasional didaulat menjadi pembicara dalam kongres kali ini. Mulai dari Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin, hingga Chairul Tanjung.