Kabar Corona Dunia: Jerman Beri Dosis Ketiga; Corona Kembali Muncul di Wuhan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi virus corona. Foto: Maulana Saputra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi virus corona. Foto: Maulana Saputra/kumparan

kumparan merangkum sejumlah perkembangan kabar corona dunia sepanjang Selasa (3/8).

Mulai dari Jerman yang akan segera memberi dosis ketiga hingga virus corona muncul kembali di Wuhan.

Seperti apa beritanya, berikut rangkumannya:

Jerman Segera Beri Dosis Ketiga Vaksin COVID-19 bagi Kelompok Rentan

Mulai September Jerman akan menawarkan pemberian vaksin COVID-19 dosis ketiga bagi orang-orang dalam kelompok rentan. Mereka adalah lansia dan orang yang memiliki sistem imun lemah.

Kabar tersebut disampaikan dalam keterangan para Menteri Kesehatan dari 16 negara bagian Jerman pada Senin (2/8).

Vaksin yang akan digunakan untuk dosis ketiga adalah vaksin tipe mRNA, yaitu Pfizer/BioNTech atau Moderna. Tak hanya menawarkan vaksinasi dosis ketiga, para Menkes juga mengizinkan pemberian vaksin COVID-19 untuk anak-anak usia 12-17 tahun.

Vaksinasi di Jerman. Foto: Alessia Cocca/Reuters

Dikutip dari Reuters, keputusan ini diambil akibat ancaman varian Delta. Penyebaran varian ini berpotensi memperburuk situasi corona di Jerman dan mengancam kembali diterapkannya kebijakan pembatasan ketat serta lockdown.

Seluruh 16 negara bagian Jerman telah setuju mempercepat dan memperluas cakupan vaksinasi demi mencegah terjadinya gelombang keempat pandemi COVID-19.

Per Senin (2/8), sekitar 52 persen dari total populasi 83 juta penduduk telah divaksinasi dosis penuh, sementara 62 persen sudah divaksinasi setidaknya satu dosis.

Pemberian vaksin corona untuk anak-anak usia 12-17 tahun bersifat sukarela. Vaksinasi hanya boleh dilakukan jika sudah mendapat izin dari orang tua dan sang anak terbebas dari komorbid.

Sekitar 10 persen dari 4,5 juta anak dalam kelompok umur ini sudah divaksinasi dua dosis.

Suasana Wuhan, China ketika satu tahun virus corona merebak. Foto: Ng Han Guan/AP PHOTO

Virus Corona Muncul Kembali di Wuhan

Virus corona muncul kembali di Wuhan, China. Ibu kota provinsi Hubei tersebut merupakan tempat lahirnya virus corona penyebab penyakit COVID-19.

Pada Senin (2/8/2021) otoritas Wuhan mengumumkan kemunculan 7 kasus infeksi corona. Seluruh kasus adalah penularan lokal.

Mereka yang terinfeksi merupakan pekerja migran, demikian dikutip dari AFP.

Sebelumnya selama hampir satu tahun lebih tidak ada infeksi corona muncul di Wuhan. Seluruh aktivitas kota Wuhan juga telah berangsur-angsur normal.

China sendiri pada Selasa (3/8/2021) melaporkan penambahan 61 kasus penularan lokal. Melonjaknya jumlah infeksi COVID-19 disebabkan penularan varian Delta.

Kasus varian Delta ditemukan pertama kali di sekelompok pembersih Airport Nanjing. Kini, kasus sudah menyebar di beberapa kota.

Virus corona yang sudah menewaskan 4.23 juta orang diseluruh dunia, pertama kali dilaporkan di muncul di Wuhan pada akhir 2019.

Meski demikian, China membantah sebagai negara asal virus corona. Mereka menduga virus tersebut sudah ditemukan terlebih dulu sebelum munculnya kasus pertama di Wuhan.

Warga mengantre untuk melakukan tes asam nukleat di Wuhan, Hubei, China, Sabtu (16/5). Foto: REUTERS/Aly Song

Seluruh Warga Wuhan Dites COVID-19

Otoritas China bertindak cepat merespons kemunculan kembali virus corona di Wuhan. Ibu kota Provinsi Hubei tersebut selama ini dikenal sebagai tempat lahir virus corona pada akhir 2019.

Pada Selasa (3/8/2021), Pemerintah China memerintahkan seluruh warga Wuhan yang berjumlah 11 juta orang menjalani tes COVID-19.

"Kota berpopulasi 11 juta orang ini secara cepat meluncurkan pengujian asam nukleat komprehensif kepada seluruh penduduk," kata pejabat senior Wuhan Li Tao seperti dikutip dari AFP.

Mantan Presiden AS Barack Obama dan istrinya Michelle Obama tiba pada pelantikan Joe Biden sebagai Presiden ke-46 Amerika Serikat di Front Barat Capitol AS di Washington, AS, Rabu (20/1). Foto: Kevin Lamarque/REUTERS

Obama Akan Gelar Pesta Ultah Besar-besaran Meski AS Dilanda Lonjakan COVID-19

Presiden Amerika Serikat ke-44, Barack Obama, disebut akan menggelar perayaan hari jadinya yang ke-60 tahun pada Jumat (6/8). Menurut sejumlah sumber, jumlah tamu yang diundang mencapai hampir 500 orang.

Dikutip dari CNN, acara besar itu akan diselenggarakan di kediamannya di Pulau Martha’s Vineyard, Massachusetts, AS, dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19 yang ketat.

Martha’s Vineyard masuk dalam wilayah dengan penyebaran COVID-19 sedang menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS atau CDC.

Pesta ini akan mengikuti protokol yang telah direkomendasikan oleh CDC dan digelar di luar ruangan. Koordinator keamanan COVID-19 akan disiagakan, tes corona juga diberikan bagi para tamu.

Para tamu diwajibkan membawa surat keterangan negatif COVID-19 dan sertifikat vaksinasi.

Sedangkan Daily Telegraph melaporkan, sekitar 475 tamu undangan diperkirakan akan hadir. Di antara ratusan tamu undangan itu adalah sejumlah tokoh terkenal seperti Oprah Winfrey, George Clooney dan Steven Spielberg.

Namun, mengingat kasus corona yang tengah meningkat di AS, acara besar-besaran Obama ini menyorot perhatian ahli kesehatan.

Direktur Institut Kesehatan Nasional AS, Francis Collins, mengatakan bahwa meski tak ada kebijakan atau larangan resmi soal perkumpulan di luar ruangan, acara besar disarankan untuk tidak digelar.

“Jika Anda berbicara soal pesta kecil, misalnya yang saya gelar di rumah saya dengan enam atau delapan tamu yang semuanya sudah divaksinasi. Saya pikir, pada titik ini, kami tak perlu menggunakan masker saat bersebelahan,” ujar Collins pada Minggu (1/8).

“Tetapi jika ada tamu sebanyak 100 orang, tentu saja, bagaimana Anda bisa sangat yakin soal status vaksinasi orang lain?” imbuhnya.

Collins menyarankan penggunaan masker di acara itu, meski Martha’s Vineyard bukan termasuk wilayah yang direkomendasikan untuk wajib masker.

“Bisa jadi terdapat orang-orang dengan gangguan imun, yang meskipun sudah divaksinasi, tetapi tidak sepenuhnya terlindungi. Harus ada akal sehat di sini,” tegasnya.

Suasana di Bandara Internasional King Abdulaziz Arab Saudi di Jeddah. Foto: AFP/GIUSEPPE CACACE

Arab Saudi Akan Denda Rp 2 M bagi Pelanggar Larangan Pergi ke Indonesia

Arab Saudi menutup rapat perbatasannya dari negara-negara yang mempunyai kasus COVID-19 tinggi, termasuk Indonesia. Negeri monarki itu memberi hukuman yang berat bagi warga negaranya yang melanggar larangan bepergian ke negara-negara yang dikenai travel ban.

Hukuman tersebut adalah larangan bepergian ke luar negeri selama 3 tahun. Terbaru, Kantor Kejaksaan Arab Saudi akan memberikan sanksi 500.000 riyal atau nyaris Rp 2 miliar mereka yang tiba di Arab Saudi dari negara-negara yang terpapar corona.

Mengutip Saudi Gazette, Selasa (3/8/2021), Kejaksaan dalam twitnya menegaskan bahwa:

"Penumpang yang datang ke Arab Saudi dengan penerbangan internasional dan mereka yang bertanggung jawab atas transportasi dan operator perjalanan melalui pelabuhan masuk harus mengungkapkan apakah mereka melakukan kunjungan ke salah satu negara yang terkena dampak wabah virus corona atau strain yang bermutasi. Jika mereka tidak mengungkapkan hal tersebut, tindakan hukuman berat akan diambil.”

Para penumpang harus mengungkapkan apakah dalam waktu 14 hari melakukan kunjungan ke negara yang masuk daftar larangan bepergian (travel ban) akibat pandemi corona. Jika tidak mengungkapkan, sanksi denda akan jatuh.

Jika pelanggaran itu dibarengi dengan tindak pidana, maka pelanggar akan dibawa ke meja hijau.

Kejaksaan tidak menyebutkan daftar negara yang “terkena dampak wabah corona” itu, tapi media lokal Arab Saudi menuliskan beberapa di antaranya, yaitu Afghanistan, Argentina, Brasil, Mesir, Ethiopia, India, Indonesia, Lebanon, Pakistan, Afrika Selatan, Turki, Vietnam, dan Uni Emirat Arab.

Sembilan dari negara-negara tersebut, termasuk Indonesia, telah dikenai travel ban sejak Februari 2021 karena tingginya penularan COVID-19 dan dinilai belum terkendali. Kebijakan ini ditempuh Arab Saudi sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona di negaranya.