Kabar Terbaru Jurnalis Diduga Diculik Israel saat Menuju Gaza
·waktu baca 8 menit

Pencegatan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) oleh militer Israel di Laut Mediterania memicu kecaman luas dari berbagai pihak di Indonesia. Sejumlah jurnalis dan aktivis WNI yang ikut dalam pelayaran menuju Gaza diduga turut ditahan setelah kapal mereka diintersep di perairan internasional.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri, Kantor Staf Presiden (KSP), hingga sejumlah tokoh dan organisasi pers mendesak Israel segera membebaskan para relawan dan jurnalis tersebut. Hingga Selasa (19/5), jumlah WNI yang diduga diculik bertambah menjadi sembilan orang, terdiri dari jurnalis dan aktivis kemanusiaan.
Jumlah WNI yang Diduga Diculik Israel Bertambah, jadi 9 Orang
Pada Senin (18/5) kabar buruk datang dari Global Sumud Flotilla. Kapal-kapal misi kemanusiaan untuk Gaza ini dicegat militer Israel di perairan Mediterania. Sejumlah orang diduga ditangkap, termasuk 9 WNI.
Berikut daftar mereka yang diduga ditahan Israel, berdasarkan informasi yang diberika Koordinator Media Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) Harfin Naqsyabandi.
Thoudy Badai (Jurnalis Republika) - Kapal Ozgurluk
Rahendro Herubowo (sebelumnya tercantum Rahendro adalah jurnalis iNews namun Pemred iNews Aiman Witjaksono menyatakan Rahendro telah resign dari iNews pada Agustus 2022) - Kapal Ozgurluk
Bambang Noroyono (Jurnalis Republika) - Kapal Boralize
Andre Prasetyo Nugroho (Jurnalis TV Tempo) - Kapal Ozgurluk
Andi Angga (Aktivis) - Kapal Josef
Herman Budiyanto Sudarsono (Aktivis) - Kapal Zafiro
Ronggo Wirasano (Aktivis) - Kapal Zafiro
Asad Aras Muhmmad (GPCI) - Kapal Kasri Sadabat
Hendro Prasetyo (GPCI) - Kapal Kasri Sadabat
Dudung: Indonesia Desak Israel Bebaskan Seluruh Relawan Global Sumud Flotilla
Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman, mengatakan Indonesia mendesak Israel untuk membebaskan seluruh relawan yang tergabung dalam misi perdamaian Global Sumud Flotila yang diculik.
Dalam rombongan yang diduga diculik itu, lima orang di antaranya merupakan warga negara Indonesia (WNI).
"Pemerintah Indonesia mendesak Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan serta menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina secara hukum humaniter internasional," kata Dudung di Kantor KSP, Jakarta, Selasa (19/5).
Dia mengatakan, perwakilan Indonesia juga tengah melakukan pendekatan kepada otoritas setempat guna memastikan akses transit dan proses kepulangan WNI berjalan lancar.
Di sisi lain, perwakilan Indonesia juga terus dalam posisi siaga agar apabila ada perkembangan terbaru bisa langsung ditindaklanjuti.
"Indonesia juga telah bergabung dengan sembilan negara lainnya yaitu Turki, Bangladesh, Brasil, Kolombia, Yordania, Libya, Maladewa, Pakistan, dan Spanyol dalam suatu pernyataan bersama yang mengutuk keras serangan Israel ke GSF," ucapnya.
Israel Cegat 41 Kapal Kemanusiaan untuk Gaza di Laut Mediterania
Israel mencegat 41 kapal bantuan kemanusiaan yang sedang menuju Gaza, Palestina, di Laut Mediterania timur, menurut penyelenggara armada bantuan Global Sumud Flotilla (GSF) pada Selasa (19/5).
Penyelenggara menyebut masih ada 10 kapal yang terus melaju menuju Gaza. Kapal yang paling dekat dengan Gaza, yakni Sirius, disebut berada sekitar 145 mil laut dari wilayah tersebut.
GSF mengatakan armada itu terdiri dari 54 kapal dengan 426 peserta dari 39 negara. Armada bantuan tersebut berangkat dari Turki selatan pada Kamis (15/5), dalam upaya ketiga mereka mengirim bantuan ke Gaza.
Sebelumnya, dua upaya serupa juga dicegat Israel di perairan internasional. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Israel menegaskan pihaknya tidak akan membiarkan armada bantuan menembus blokade laut Gaza.
Jurnalis Tempo Juga Diduga Diculik Tentara Israel
Jurnalis Tempo, Andre Prasetyo Nugroho diduga juga diculik tentara Israel saat kapal yang ditumpanginya dalam misi perdamaian Global Sumud Flotilla (GSF) dicegat di perairan internasional sekitar 250 mil dari Gaza pada Senin (18/5).
Kabar ini dibagikan lewat akun Instagram @tvtempochannel.
“Jurnalis Tempo, Andre Prasetyo Nugroho ikut dalam misi Global Sumud Flotilla ini. Andre berada di kapal Ozgurluk bersama dua jurnalis lain, yang terkonfirmasi telah mengalami intersept atau pencegatan oleh militer Israel,” ucap akun tersebut (akun Instagram @tvtempochannel, 19 Mei 2026).
Andre pun sudah mengirim video pesan SOS yang ia buat sebelum mereka berlayar sebagai syarat protokol.
Kini, pihak Tempo menyebut belum mengetahui lokasi pasti dari Andre.
"Kabar terakhir, kami lost contact dengan Andre. Kami akan menyiapkan statement resmi Tempo,” ucap Corporate Secretary PT Tempo, Jajang Jamaludin, saat dihubungi kumparan, Selasa (19/5).
Kecaman Keras Usai Dua Jurnalis Republika Diduga Diculik Israel
Pelayaran kapal-kapal kemanusiaan yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF) kembali mendapat rintangan. Kali ini, ada dua kapal GSF yang dicegat, yakni kapal Borales dan Osgurluk.
"Jadi sejak sekitar pukul tiga dini hari sampai jam empat, karena pada saat itu baik Abeng maupun Ody bilang, oke kita sudah di perairan bebas, di perairan internasional. Jadi dari tim Global Sumud Flotilla internasionalnya bilang kalau sudah di perairan internasional di Laut Mediterania, itu besar kemungkinan kapal Israel bisa intercept (cegat) lebih cepat," kata Wakil Pimpinan Redaksi Republika, Stevy Maradona, Senin (18/5).
Pihak Republika lalu memantau keberadaan kapal jurnalisnya itu.
Sekitar pukul 11.oo WIB, kapal yang ditumpangi Abeng memunculkan peringatan adanya kapal perang yang melintas di dekat mereka.
MUI yang mengetahui kabar ini, segera mengeluarkan pernyataan resmi mereka yang mengecam aksi tersebut.
"Atas nama MUI saya ingin menegaskan bahwa tindakan Israel yang menghalangi langkah kemanusiaan melalui kapal Sumud Flotilla termasuk penculikan wartawan Republika yang ikut serta dalam misi ini adalah tindakan yang memalukan," Kata Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim.
Kemlu RI Kecam Keras Israel Cegat Misi Kemanusiaan GSF yang Bawa WNI
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia mengecam militer Israel, yang mencegat rombongan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) di perairan Siprus, Mediterania Timur.
Pada rombongan ini, turut pula sejumlah WNI, yakni 2 jurnalis Republika Bambang Noroyono (Abeng) dan Thoudy Badai (Ody) serta perwakilan Rumah Zakat Andi Angga Prasadewa.
"Kementerian Luar Negeri mengecam keras tindakan Militer Israel yang telah mencegat sejumlah kapal yang tergabung dalam rombongan misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur," kata Jubir Kemlu, Yvonne Mewengkang, lewat keterangannya, Senin (18/5).
Kemlu mendata, ada 10 kapal yang ditangkap. Antara lain; Amanda, Barbaros, Josef dan Blue Toys.
"Kementerian Luar Negeri RI mendesak Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan, serta menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional," kata Yvonne.
KSP Sebut 4 WNI Relawan GSF yang Lolos dari Tentara Israel Masih Rawan
Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman, menyebut ada 4 WNI relawan Global Sumud Flotila (GSF) yang lolos dari pencegatan tentara Israel. Mereka saat ini berada di laut Mediterania Timur, dan kondisinya masih rawan.
"Empat Warga Negara Indonesia lainnya masih berada di kapal berbeda di sekitar perairan Siprus atau Mediterania Timur," kata Dudung di kantornya, Selasa (19/5).
Situasi di lapangan masih sangat dinamis.
Keempat warga negara Indonesia yang masih berlayar tersebut tetap berada dalam kondisi rawan.
"Indonesia juga telah bergabung dengan sembilan negara lainnya yaitu Turki, Bangladesh, Brasil, Kolombia, Yordania, Libya, Maladewa, Pakistan, dan Spanyol dalam suatu pernyataan bersama yang mengutuk keras serangan Israel ke GSF," ucapnya.
Menkomdigi Kecam Israel Cegat Misi Kemanusiaan GSF dan Diduga Culik Jurnalis
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, mengecam keras tindakan militer Israel yang mencegat dan menahan rombongan misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) di perairan Mediterania Timur menuju Gaza.
Dalam rombongan tersebut terdapat sejumlah jurnalis Indonesia, yakni Bambang Noroyono (Abeng) dan Thoudy Badai (Ody) dari Republika, Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo, dan Rahendro Herubowo dari iNews.
“Kami mengikuti dengan penuh keprihatinan kabar mengenai jurnalis Indonesia yang tengah menjalankan tugas peliputan dalam misi kemanusiaan menuju Gaza. Di tengah situasi konflik, keselamatan insan pers harus selalu menjadi perhatian kita semua,” ungkap Menkomdigi Meutya Hafid di Jakarta, Senin (18/05).
Meutya menyatakan pihaknya mendukung langkah diplomatik Kemlu untuk memastikan perlindungan dan keselamatan seluruh WNI dalam rombongan tersebut.
Kemkomdigi akan terus berkoordinasi dengan Kemlu dan pihak terkait lainnya untuk memantau perkembangan dan mendukung langkah perlindungan bagi warga negara Indonesia dalam misi tersebut.
“Doa dan harapan kami menyertai seluruh jurnalis dan relawan kemanusiaan agar senantiasa diberikan keselamatan,” pungkas Meutya.
Kecaman Untuk Israel dan Desakan Pada PBB Untuk Bebaskan
Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta mengecam tindakan Israel yang disebut menangkap sekitar 100 aktivis dalam misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza, termasuk dua jurnalis Republika, Bambang Noroyono (Abeng) dan Thoudy Badai (Ody).
Ia mendorong pemerintah Indonesia agar lebih tegas mendesak Dewan Keamanan PBB dan Amerika Serikat untuk membantu membebaskan para aktivis dan jurnalis tersebut.
“Saya mengecam ulah Israel ini. Saya mendukung pemerintah RI lebih tegas untuk mendesak DK PBB dan AS melobi Israel agar membebaskan para aktivis dan jurnalis Republika tersebut,” kata Sukamta dalam keterangannya, Senin (18/5).
Sukamta mengatakan penangkapan terhadap para aktivis dan jurnalis itu terjadi setelah Israel mencegat armada bantuan kemanusiaan yang tengah menuju Gaza di perairan internasional.
Menurut dia, tindakan tersebut tidak sejalan dengan upaya berbagai pihak yang tengah mendorong perdamaian di Timur Tengah.
