Kabar Terbaru Vaksin Merah Putih: Dari 7 Hanya 2 Penelitian yang Berjalan Lancar

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rancangan roadmap vaksin Merah Putih. Foto: Kemristek/BRIN
zoom-in-whitePerbesar
Rancangan roadmap vaksin Merah Putih. Foto: Kemristek/BRIN

Indonesia saat ini tengah mengembangkan produksi vaksin COVID-19 dalam negeri dengan bekerja sama dengan 7 lembaga penelitian maupun pendidikan tinggi. Vaksin yang dinamakan Vaksin Merah Putih ini melibatkan Eijkman, Universitas Airlangga (Unair), LIPI, UI, ITB, Unpad, dan UGM.

Vaksin ini diharapkan bisa menjadi andalan Indonesia di tahun 2022. Sebab, pandemi belum ada yang bisa memprediksi kapan berakhir.

Tapi jalan tak selalu mulus atau lancar. Dari ketujuh lembaga yang mengembangkan vaksin tersebut, hingga saat ini hanya ada 2 lembaga yang punya harapan untuk dapat segera lanjut ke tahap selanjutnya, yaitu Eijkman dan juga Unair.

Ketua Indonesia Technical Advistory Group on Immunization (ITAGI), Prof. Dr. Sri Rezeki Hadinegoro, mengatakan keduanya telah selesai dalam tahap preklinik. Sehingga, vaksin yang dikembangkan Eijkman maupun Unair ini dapat segera melakukan uji klinik.

ITAGI adalah pihak yang juga selalu dilibatkan dalam pengembangan vaksin di Indonesia. Untuk dimintai saran.

"Ya kan dua yang kelihatan selesai ini Eijkman dan Unair. Dua itu yang kelihatannya sudah selesai di prekliniknya jadi akan disampaikan untuk uji klinik gitu. Kalo Eijkman kan uji kliniknya nanti di Bio Farma kalo Unair itu kayaknya ada satu perusahaan lagi saya nggak ingat namanya tapi bukan Bio Farma," katanya saat dihubungi kumparan pada Kamis (22/7).

Ilustrasi Vaksin Corona pada Anak. Foto: Shutterstock

Terkait rencana pelaksanaan uji klinik kedua lembaga tersebut, ia mengatakan kemungkinan akan dilakukan tahun ini. Namun persiapan menuju uji klinik tidaklah mudah dan ini yang bisa memakan waktu cukup lama.

"Tya (tahun ini). Tetapi memang kan persiapan juga agak lama mempersiapkan uji klinik. Uji klinik itu kan menyangkut kita harus cari subjeknya, harus rekrut yang sakit dan sebagainya. Tapi kayaknya sih tahun ini. Tapi uji klinik nya uji klinik I, II, dan III itu baru bisa diproduksi tahun depan kayaknya sih," tambahnya.

Vaksin yang dikembangkan Lembaga Eijkman ini merupakan vaksin yang menggunakan platform protein rekombinan. Sedangkan buatan Unair ini menggunakan inactivated virus seperti Sinovac.

Terkait alasan mengapa dari ketujuh lembaga tersebut hanya ada 2 yang berpotensi lanjut, Prof Sri mengatakan bahwa memang tahap preklinik merupakan tahapan yang paling sulit. Sehingga, perlu waktu yang cukup lama untuk bisa menyelesaikannya.

"Memang preklinik itu kan paling sulit itu untuk mendapatkan bijinya untuk dipakai sumber sebagai vaksin itu memang tidak mudah. Mungkin apa namanya ya semuanya perlu waktu sih karena kalau mau membiakkan sesuatu itu kan perlu waktu ya," tutupnya.