Kabasarnas: Banjir Sumatera Bawa Lumpur Tebal Jadi Kendala Operasi Pencarian

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kabasarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii saat konferensi pers terkait operasi SAR KMP Tunu Pratama Jaya, Kamis (3/7/2025). Foto: Instagram/ @sar_nasional
zoom-in-whitePerbesar
Kabasarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii saat konferensi pers terkait operasi SAR KMP Tunu Pratama Jaya, Kamis (3/7/2025). Foto: Instagram/ @sar_nasional

Kepala Badan SAR Nasional (Kabasarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, mengungkapkan kendala operasi pencarian korban banjir Sumatera.

Ia mengatakan, banjir yang membawa endapan lumpur ditambah longsor menghambat proses pencarian korban.

“Saat ini yang kita hadapi adalah bencana banjir yang juga menimbulkan banjir lumpur, kemudian dari debit hujan yang luar biasa akhirnya ada beberapa titik yang terjadi longsor,” kata Syafii kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (1/12).

Selain itu, Syafi'i mengungkapkan, endapan lumpur yang makin lama makin mengeras itu membuat pencarian korban semakin sulit.

Lumpur dan batu besar memenuhi Lembah Anai usai Banjir bandang, Sabtu (29/11). Foto: Irwanda/STR/kumparan

“Jadi pada saat korban itu sudah tertimbun lumpur, di situ yang memang membutuhkan penanganan khusus. Karena itu kita juga mengerahkan dari kantor SAR terdekat bersama dengan potensi SAR yang ada di wilayah, kita sudah mulai menggunakan K-9 anjing pelacak untuk membantu tugas pencarian,” tuturnya.

Dari segi personel, Syafi'i mengungkapkan kurangnya tim SAR di lapangan. Ia menilai, proses pencarian korban bencana banjir dan longsor membutuhkan tenaga yang lebih besar. Ia membandingkan dengan pencarian korban runtuhnya ponpes Al Khoziny yang tugasnya bisa dibagi lebih merata.

“Personel SAR yang melaksanakan tugas akan berjalan dari satu titik menyusuri sampai sepanjang mana yang tidak bisa diprediksi. Di mana pada saat dia berjalan sambil melaksanakan tugas, tidak ada jeda harus diganti atau dia harus istirahat untuk makan,” jelasnya.

Warga menyaksikan sejumlah rumah rusak tertimbun lumpur dan sampah kayu pascabanjir bandang di Desa Manyang Cut, Kecamatan Mereudu, Kabupaten Pidie, Aceh, Kamis (27/11/2025). Foto: Ampelsa/ANTARA FOTO

“Tidak seperti bencana pada saat misalkan terjadi reruntuhan gedung kayak kemarin yang di Al Khoziny, mereka potensi yang ada kita bikin shift-shiftan itu bisa,” tambah dia.

Sementara itu, terkait waktu operasi pencarian, Syafii mengatakan, Tim SAR memiliki waktu tujuh hari. Namun, operasi itu bisa diperpanjang sesuai kebutuhan dan akan dihentikan apabila proses pencarian sudah tidak efektif.

Tim Unit Polsatwa K-9 bersama personel Polres Tapanuli Utara melakukan pencarian korban di Tapanuli Utara. Foto: Instagram/ @baharkam_polri

“Bahwa sesuai aturan, operasi SAR dalam keadaan normal itu dilaksanakan tujuh hari. Kata-kata tujuh hari bukan berarti ditutup selesai, tidak,” kata dia.

“Tapi tujuh hari ini akan dievaluasi, dan pada saat situasi masih memungkinkan untuk dilaksanakan operasi lanjutan dalam rangka entah itu menyelamatkan atau mungkin kita mencari korban-korban yang masih belum ketemu,” pungkasnya.