Kader di Kendari Tewas Ditembak, DPP IMM Desak Kapolri Usut Tuntas

Demonstrasi mahasiswa memakan korban jiwa. Randi (22 tahun), tewas dengan luka tembak saat demonstrasi menolak sejumlah RUU di Kantor DPRD Sultra, Kendari, Kamis (26/9). Randi dikenal sebagai aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Merespons itu, Ketua DPP IMM, Najih Prastiyo, mengungkapkan bela sungkawa yang sangat mendalam. Menurut Najih, peristiwa ini menjadi bukti nyata dari tindakan represif aparat terhadap mahasiswa.
“Secara pribadi saya mengecam atas terjadinya peristiwa ini. Bagaimana bisa dibenarkan prosedur pengamanan unjuk rasa dengan memakai senjata lengkap dengan peluru tajam? Ini mau mengamankan aksi, atau mau perang kepada mahasiswa. Pihak kepolisian harus bertanggung jawab mengusut kasus ini sampai tuntas, dan kami kader IMM se-Indonesia akan mengawal penuh kasus ini," ucap Najih dalam rilisnya, Kamis (26/9).
Randi tercatat menjadi kader IMM di Komisariat Haluoleo (UHO) Cabang Kendari. Dalam jenjang pengkaderan, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan itu lulus DAD (pengkaderan tingkat II IMM) tahun 2017.
Atas kasus ini, Najih menuntut Kapolri Jenderal Tito Karnavian mencopot Kapolda Sulawesi Tenggara yang dinilai gagal dan lalai dalam memberikan jaminan keamanan bagi mahasiswa dalam menyuarakan aspirasi yang dilindungi oleh UU.
“Kami menuntut kepada Kapolri untuk mengusut kasus ini sampai benar-benar terang dan pelaku penembakan kader kami Immawan Randi dapat tertangkap secepatnya."
Najih lalu menyerukan kepada seluruh kader IMM se-Indonesia untuk konsolidasi di masing-masing level sambil menunggu hasil investigasi dari kepolisian atas tewasnya Randi.
“Kepada seluruh kader IMM se-Indonesia, mari kita rapatkan barisan dan melakukan konsolidasi di basis dan setiap level kepemimpinan untuk menyerukan aksi atas tewasnya saudara kita Immawan Randi," terang Randi.
"Mari kita merahkan Indonesia untuk menuntut keadilan. Mari suarakan perlawanan," tutupnya.
Randi tewas dengan luka tembak di dada saat berdemonstrasi menolak sejumlah RUU kontroversial di DPRD Sultra. Randi dibawa menuju RSAD Dokter Ismoyo (RS Korem), namun 15 kemudian dinyatakan meninggal.
