Kado Sweet 17 Cangkok Ginjal untuk Atlet Paralympic

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Atlet Paralympic Prasetyo Teguh Utomo (Foto: Dok. Yuyun)
zoom-in-whitePerbesar
Atlet Paralympic Prasetyo Teguh Utomo (Foto: Dok. Yuyun)

Di tengah kemeriahan perhelatan SEA Games 2017, ada sekelumit kisah pilu atlet Indonesia. Atlet paralympic asal Surakarta, Prasetyo Teguh Utomo, harus terbaring di rumah sakit karena divonis mengidap gagal ginjal kronis.

Vonis ini dinyatakan oleh dokter RSUD Ngipang Surakarta pada 31 Juli lalu, tepat pada hari ulang tahun Prasetyo yang ke-17. Kado yang amat tidak diharapkan oleh remaja difabel yang energik ini.

Atlet Paralympic Prasetyo Teguh Utomo (Foto: Dok. Yuyun)
zoom-in-whitePerbesar
Atlet Paralympic Prasetyo Teguh Utomo (Foto: Dok. Yuyun)

Setelah rawat inap selama 1 hari, tim dokter memutuskan Prasetyo harus transplantasi atau cangkok ginjal. Prasetyo yang sedang giat-giatnya latihan, harus terbaring lemah di rumah sakit dan menunda seluruh aktivitasnya sebagai atlet.

"Betapa syok keluarga kami mendengar kabar tersebut. Pihak RSUD Ngipang kemudian merujuk Prasetyo ke RSUD Dr Moewardi Surakarta, tapi Ibu kami menolak dan lebih memilih rujuk di RSUD Dr Soedjati Purwodadi agar perawatannya mudah karena dekat dengan rumah," tutur kakak Prasetyo, Yuyun Putri, Senin (28/8).

Atlet Paralympic Prasetyo Teguh Utomo (Foto: Dok. Yuyun)
zoom-in-whitePerbesar
Atlet Paralympic Prasetyo Teguh Utomo (Foto: Dok. Yuyun)

Di RSUD Dr Soedjati, Prasetyo langsung transfusi darah dan menghabiskan 4 kantong darah golongan B+. Selama 8 hari dia terbaring di kasur dan sudah melakukan cuci darah selama 2 kali.

Yuyun mengatakan, adiknya sudah sempat dibawa pulang ke rumah. Namun hanya sehari istirahat, dia harus kembali ke rumah sakit dan melakukan cuci darah.

"Sampai saat ini, dia 4 kali cuci darah. Setiap kali cuci darah menghabiskan dana Rp 1,2 juta," ujarnya.

Atlet Paralympic Prasetyo Teguh Utomo (Foto: Dok. Yuyun)
zoom-in-whitePerbesar
Atlet Paralympic Prasetyo Teguh Utomo (Foto: Dok. Yuyun)

Menurut Yuyun, saat ini pihaknya telah mengurus BPJS untuk adiknya itu. Namun ada beberapa obat dan penanganan medis yang tidak dicover oleh BPJS.

Berdasarkan anjuran dokter, seharusnya Prasetyo melakukan cuci darah 2 kali dalam seminggu. Namun sayangnya kondisi siswa kelas X SMKN 9 Surakarta ini kerap memburuk, sehingga cuci darah baru dapat dilakukan 4 kali selama sebulan ini.

Piagam penghargaan Prasetyo Teguh (Foto: Dok. Yuyun)
zoom-in-whitePerbesar
Piagam penghargaan Prasetyo Teguh (Foto: Dok. Yuyun)

Prasetyo menjadi atlet Paralympic sejak masih bersekolah di SMP Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Surakarta. Banyak prestasi yang telah dia raih selama menekuni bidang olahraga, khususnya olahraga balap kursi roda (paralympic difabel). Dari juara antar kabupaten/kota, juara antar provinsi hingga juara 1 balap kursi roda pada ajang Peparnas(Pekan Paralympic Pelajar Nasional), juara 2 tolak peluru pada ajang Peparnas dan juara 3 O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional) yang membuatnya memperoleh banyak piagam penghargaan dan medali emas.

Sertifikat dan piagam penghargaan Prasetyo Teguh (Foto: Dok. Yuyun)
zoom-in-whitePerbesar
Sertifikat dan piagam penghargaan Prasetyo Teguh (Foto: Dok. Yuyun)

"Saat ini, kami menunggu donasi yang terkumpul untuk biaya transplantasi/cangkok ginjal secepatnya. Sambil menunggu donasi yang terkumpul, Prasetyo harus berhadapan dengan mesin dialisis ginjal (cuci darah) setiap minggunya," ujarnya.

Bagi Anda yang tergerak untuk membantu Prasetyo, silakan salurkan bantuan Anda melalui kitabisa.com dalam tautan berikut: