Kala Kasus Klitih Kembali Terjadi di Yogya: Pelajar Tewas hingga Proses Hukum

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi korban tawuran Foto: Muhammad Faisal Nu'man / kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi korban tawuran Foto: Muhammad Faisal Nu'man / kumparan

Seorang pelajar SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta bernama Daffa Adzin Albasith (17) tewas setelah disabet benda tajam yang diduga gir oleh orang tidak dikenal di Jalan Gedongkuning, Kota Yogyakarta pada Minggu (3/4) dini hari, lalu. Merespons peristiwa tersebut sejumlah warganet berkicau dengan tagar klitih di media sosial twitter.

Kejahatan jalanan memang kerap disebut klitih oleh masyarakat di Yogyakarta. Meskipun, sebenarnya makna asli klitih berkonotasi positif yaitu jalan-jalan untuk mencari udara segar.

Gubenur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan bahwa aksi tersebut bukan lagi klitih melainkan tindak pidana. Siapa pun pelakunya harus dihukum.

Sri Sultan Hamengku Buwono X. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

"Kalau saya itu pelanggaran hukum, bukan klitih. Itu kenakalan anak tapi sudah terlalu jauh," tegas Sultan, Senin (4/4).

"Satu-satu caranya ya harus berproses hukum. Hanya dengan cara seperti itu kita bisa mengatasi persoalan," katanya.

Diselidiki Polisi

Dirreskrimum Polda DIY Kombes Ade Ary Syam Indradi. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Dirreskrimum Polda DIY Kombes Ade Ary Syam Indradi mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan 3 kali olah TKP terkait kasus ini. Dari hasil penyelidikan meliputi keterangan saksi dan luka yang ada, korban diduga disabet gir yang diayunkan menggunakan tali.

"Korban mengalami luka di mukanya akibat kekerasan benda tajam yang diduga berdasarkan keterangan para saksi itu menggunakan gir dan menggunakan tali," kata Ade Ary di Polda DIY, Senin (4/4).

Polisi pun masih terus mendalami kasus ini dengan memeriksa CCTV yang ada di sekitar lokasi. Selain itu, saksi-saksi yang lain terus dimintai keterangan.

Berawal dari Warmindo

Ilustrasi rantai dan gir sepeda motor Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparanOTO

Ade Ary menceritakan kronologis peristiwa ini bermula dari korban bersama 6 rekannya mengendarai 5 sepeda motor berhenti di Warung Warmindo. Lokasinya, di Jalan Gedongkuning, Kota Yogyakarta.

Beberapa remaja ini sudah ada yang memulai memesan makanan. Namun, beberapa lagi masih memarkirkan sepeda motornya. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 02.10 WIB.

Tiba-tiba melintas lah 2 sepeda motor yang dikendarai 5 orang tidak dikenal. Motor tersebut bleyer atau mengeber-geber gas hingga suara knalpot meraung-raung. Tampaknya, hal itu memancing emosi kelompok korban. Sebanyak 4 motor lantas mengejar pelaku.

"Inilah yang menjadi pemicu, karena membleyer, kelompok korban Ini akhirnya berusaha mengejar kelompok pelaku ke arah utara di Jalan Gedongkuning ke arah utara," katanya.

Ade menjelaskan berdasarkan keterangan saksi rombongan pelaku yang dikejar ini justru berhenti. Mereka kemudian memutar balik dan menunggu kelompok korban tiba.

Ilustrasi pemukulan. Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan

Motor pertama lolos dari sabetan gir. Namun, nahas motor kedua yang ditumpangi oleh Daffa ini jadi sasaran selanjutnya. Gir mengenai Daffa yang saat itu membonceng rekannya. Dia mengalami luka di wajah.

"Korban berada di motor kedua, posisi dibonceng di belakang karena yang membonceng (di depan) mengelak kena ke mukanya korban (yang dibonceng), sehingga korban mengalami luka di mukanya akibat kekerasan benda tajam yang diduga berdasarkan keterangan para saksi itu menggunakan gir dan menggunakan tali," ujarnya.

Usai peristiwa tersebut kelompok pelaku melarikan diri ke arah selatan. Korban kemudian ditemukan oleh petugas Direktorat Sabhara Polda DIY yang sedang berpatroli dan langsung membantu menolong korban ke RSPAU Hardjolukito.

"Korban berhasil diamankan dan dibawa diselamatkan ke rumah sakit kalau pun akhirnya meninggal dunia di rumah sakit," katanya.

Untuk mengusut kasus ini, polisi setidaknya telah melakukan olah TKP sebanyak tiga kali. Sejumlah saksi juga telah dimintai keterangan seperti hansip di Kalurahan Banguntapan, petugas busway, dan sejumlah orang-orang yang berada di angkringan dekat TKP.

Siswa dari Luar Kota

Ilustrasi mayat. Foto: Shutterstock

Kepala SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta Slamet Purwo menjelaskan bahwa korban bernama Daffa Adzin Albasith (17). Daffa merupakan siswa kelas 11 IPS 3. Saat itu, menurut Slamet korban dan rekan-rekannya tengah mencari makan.

"Anak-anak kami itu akan mencari makan sahur. Kemudian dibuntuti oleh 2 motor (pelaku), 1 motor itu (boncengan) 3 orang, 1 lagi 2 orang," kata Slamet ditemui di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta, Senin (4/4).

Slamet mengatakan ada beberapa anak yang keluar naik motor untuk mencari makan, termasuk Daffa. Saat itu, Daffa membonceng salah satu rekannya.

Kepala SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta Slamet Purwo. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Anak-anak ini merupakan siswa yang berasal dari luar kota. Mereka sebenarnya hendak pulang kampung lantaran kembali bersekolah daring. Siswa kelas 10 dan 11 mulai hari ini bersekolah daring karena siswa kelas 12 menjalani ujian.

Daffa sendiri menurut Slamet merupakan anak dari seorang dewan di Kebumen, Jawa Tengah. Selama bersekolah di Yogyakarta dia indekos di daerah Kusumanegara Yogyakarta.

"Mereka mau pulang kampung. Karena besok mau pulang karena pembelajaran online, kelas 12 kan ujian masuk di sekolah. Kemudian kelas 11-10 online," ujarnya.