Kali Cikarang Tercemar, Ikan Mati Terpapar Limbah Beracun

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah ikan sapu-sapu mati akibat sungai tercemar. Foto: Dok. koalisi persampahan nasional (KPNAS)
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah ikan sapu-sapu mati akibat sungai tercemar. Foto: Dok. koalisi persampahan nasional (KPNAS)

Pencemaran lingkungan rupanya tak juga berhenti. Sejumlah kali menjadi tong raksasa berbagai jenis sampah, ada plastik, popok, pembalut, kain, ban/karet, busa sampai kasur. Kali ini Kali Cikarang dan Kali Cikarang Bekasi Laut terpapar limbah beracun.

Bahkan yang sangat menyedihkan kali atau sungai menjadi tujuan utama pembuangan limbah cair, yang terindikasi mengandung limbah berbahaya dan beracun (B3). Juga limbah cair ini bisa juga merupakan limbah domestik, limbah deterjen, limbah dari sejumlah pabrik yang berada di hulu dan sepanjang DAS.

"Perkara sampah tersebut dibuang di sepanjang Kali Cikarang, Kali CBL (Cikarang Bekasi Laut), selanjutnya menuju Muaragembong wilayah Kabupaten Bekasi dan laut Jawa," kata Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNAS) Bagong Suyoto, dalam keterangan yang diterima kumparan, Kamis (5/9).

Sampah-sampah tersebut, selain di Kali Cikarang dan Kali Cikarang Bekasi Laut, ada pula yang melewati Kali Citarum melalu kali anak Citarum. Sampah/limbah padat dan cair ini telah menimbulkan derita tersendiri bagi lingkungan, warga sekitar dan nelayan di pesisir Muaragembong.

"Dampak terhadap lingkungan hidup, pembuangan sampah di wilayah DAS (Daerah Aliran Sungai) dan badan Kali Cikarang dan CBL sangatlah jelas menurunnya kualitas tanah dan air. Biota air dan ikan merosot tajam, mati, bahkan ikan sapu-sapu yang paling tahan kondisi air keruh sekalipun mati karena terendam limbah B3," jelas Bagong.

Dari foto-foto yang diterim kumparan, terlihat ikan-ikan mati terpapar limbah beracun. Air sungai yang berbusa dan berwarna hitam, serta tumpukan sampah memenuhi sungai. Lokasi tersebut tepatnya berada di Cikarang Bekasi Laut (CBL) atau Cikeas, Kabupten Bekasi. Foto-foto tersebut dimbil pada tanggal 31 Agustus 2019.

Namun, saat ini belum diketahui apakah kondisi di lokasi yang sama sudah dibersihkan atau tidak.

Suasana sungai yang kotor akibat banyak sampah. Foto: Dok. koalisi persampahan nasional (KPNAS)

Menurut Bagong, para nelayan dan petambak ikan bandeng dan udang di Muaragembong penghasilannya menurun tajam. Bahkan beberapa nelayan mengatakan, nasibnya apes. Sejak Sabtu (31/8) mereka sama sekali tak dapat tangkapan ikan.

"Biasanya mereka bisa bawa pulang 10-20 kg ikan. Sebab hari itu limbah cair dari kali CBL turun dan belakangan makin sering. Saat air Pantai Harapan dan Pantai Sederhana Muaragembong terkana limbah, airnya hitam dan sangat bau," kata Bagong.

Sementara para petambak ikan bandeng dan udang setempat, biasanya dalam waktu 4-5 bulan dapat memetik panen. Namun akibat limbah beracun yang mencemari, mereka panen lebih lama, yakni memakan waktu 7 bulan.

"Ikan bandeng dan udang kerdil tidak dapat membesar sebab limbah. Sehingga pendapatan menurun dan sulit. Perlu penelitian mendalam dan uji laboratorium terhadap matinya ikan sapu-sapu dan jenis ikan lainnya di perairan kali CBL," jelas Bagong.

Sepanjang jalan menuju kali CBL ditemui sejumlah pelapak dan titik-titik pembuangan sampah dan penumpukan limbah B3, seperti bottom ash. Di sini juga ditemukan TPA liar yang cukup luas, yang berlangsung puluhan tahun. TPA CBL begitu dikenal, sebagai tempat pembuangan sampah lokal dan ada indikasi sampah industri dan medis.

"Pernah tersebar informasi, sampah medis itu sebagian berasal dari wilayah lain, seperti Karawang. Setelah ada pemberitaan media massa, sampah medis tersebut dioplos atau dicampur dengan sampah rumah tangga," ungkap Bagong.

Bagong menjelaskan, kenapa tumbuh tempat pembuangan sampah ilegal di sejumlah tempat di wilayah Kabupaten Bekasi?

Pertama, wilayah yang cukup jauh apalagi masuk kampung-kampung sangat jelas tidak mendapat pelayanan kebersihan. Tingkat pelayanan sekitar 45-48 % dari lebih 2.200 ton/hari produksi sampah Kabupaten Bekasi.

Sejumlah hewan mencari makan di tempat pembuangan sampah akhir. Foto: Dok. koalisi persampahan nasional (KPNAS)

"Namun data tersebut perlu dipertanyakan basis datanya real atau sekadar asumsi. Seperti wilayah Cabangbungin, Muaragembong, Pebayuran, dll di bagian utara. Nyaris semua penduduk buang sampah di pinggir-pinggir jalan, pekarangan kosong, kali," kata Bagong.

"Bahkan kali dijadikan bak sampah, para pedagang dan warga buang sampah langsung ke kali. Karena di sini tidak ada bak-bak sampah atau tempat penampungan sementara (TPS)," jelasnya.

Kedua, demikian pula pada wilayah ujung selatan Kabupaten Bekasi. Bahkan, wilayah jalan raya Bantargebang-Setu, Setu-Cileungsi banyak sampah dibuang di pinggir-pinggir jalan. Masih banyak titik pembuangan sampah sebagai bentuk kebiasaan dan budaya tidak bertanggungjawab terhadap kebersihan, kelestarian lingkungan, estetika dan kesehatan.

Ketiga, semakin banyaknya pembuangan sampah/limbah diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk, termasuk emigrasi, industri dan pembangunan dan jasa modern di Kabupaten Bekasi.

Bagong mengatakan Pemkab Bekasi dianggap tidak peduli terhadap sampah dan lingkungan hidup mereka. Apatisme tumbuh seperti semakin menumpuknya sampah, yang kini jadi TPA liar.

"Secara signifikan tumbuhnya TPA liar karena otoritas pengelola sampah Pemkab Bekasi sudah tidak peduli. Merupakan indikasi nyata otoritas pengelola sampah pemkab Bekasi tidak mampu tangani sampah, dan lebih banyak duduk-duduk di kantor dan ruang ber-AC," ungkapnya.