Kamboja Larang Penjualan dan Ekspor ASI ke Amerika

kumparanNEWSverified-green

clock

Simpan asi perah dengan baik dan benar (Foto: thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Simpan asi perah dengan baik dan benar (Foto: thinkstock)

Pemerintah Kamboja secara resmi melarang penjualan dan ekspor air susu ibu (ASI) ke Amerika Serikat. Larangan dikeluarkan menyusul aduan eksploitasi ibu-ibu miskin Kamboja untuk menjual ASI mereka ke pengepul.

Diberitakan AFP, kabinet pemerintahan Kamboja pada Selasa (28/3) melalui surat resmi memerintahkan kementerian kesehatan untuk "ambil tindakan secepatnya mencegah penjualan dan ekspor AS dari ibu-ibu di Kamboja".

"Walau warga Kamboja miskin dan kehidupan sulit, tapi belum sampai ke taraf akan menjual ASI dari ibu," ujar surat perintah itu lagi.

Baca juga: The Power of Emak-emak

ASI-ASI itu yang diekspor diambil dari wanita-wanita miskin di ibu kota Phnom Penh dan dikapalkan ke perusahaan Ambrosia Labs di Utah, Amerika Serikat. Ambrosia mengklaim sebagai perusahaan pertama yang mengimpor ASI dari luar negeri dan menjualnya di AS.

Ilustrasi ASI (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ASI (Foto: Thinkstock)

ASI-ASI itu mengalami proses pasteurisasi sebelum dipasarkan dengan harga 20 dolar AS (Rp 266 ribu) per kemasan berisi 150 ml susu. Pelanggan Ambrosia adalah ibu-ibu AS yang tidak bisa memproduksi ASI sendiri sementara ingin agar bayi mereka mendapat ASI eksklusif.

Ambrosia berdalih, bisnis mereka telah membantu memberi penghasilan tambahan bagi wanita miskin Kamboja, mendorong mereka terus menyusui, dan demi memenuhi pasokan ASI di AS.

Baca juga: Thailand Namakan Daerah Prostitusi Pattaya "Happy Zone"

Namun praktik tersebut dikecam oleh UNICEF, lembaga pelindung anak PBB. Menurut UNICEF, Ambrosia telah mengeksploitasi warga miskin dan ASI-ASI yang berlebih seharusnya tetap berada di Kamboja untuk disumbangkan ke anak-anak yang kurang nutrisi.

Keputusan pemerintah Kamboja membuat para ibu di Phnom Penh kecewa. Salah satunya adalah Chea Sam, 30, yang mengaku mendapatkan pemasukan 7,50-10 dolar AS (Rp 100-140 ribu) per hari dengan menjual ASI-nya.

"Kami menyesalkan perdagangan ini dilarang. Bisnis ini sangat membantu kehidupan kami," kata Chea Sam kepada AFP..