Kampung Berseri Astra Cidadap: Saat Semangat Cinta Lingkungan Berbuah Cuan
ยทwaktu baca 3 menit

Semangat mencintai alam ternyata tak hanya berdampak pada keberlangsungan ekosistem. Dengan mencintai bumi rupanya juga bisa membuahkan cuan bagi mereka yang melakukannya.
Itulah yang terjadi di Kampung Berseri Astra Cidadap, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Kampung ini adalah salah satu program sosial yang dibesut PT Astra International.
Head of Internal Communications PT Astra International, Regina Panontongan, mengatakan memang pihaknya sudah lama berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan.
"Dan juga tujuannya untuk memberikan kontribusi positif yang bermanfaat luas bagi masyarakat di sekitarnya. Astra sendiri menjalankan kontribusi sosial sudah sejak lama," kata Regina dalam Workshop Lingkungan Astra di Cidadap, Jumat (21/11).
Dalam program Kampung ini, lanjut Regina, ada 4 aspek yang menjadi semangat utama untuk dikembangkan. "Jadi ada bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan juga kewirausahaan," sambung dia.
"Tentunya hari ini senang sekali karena bisa memperkenalkan kepada teman-teman ada namanya Kampung Berseri Astra Cidadap," ucap Regina.
Kampung ini berdiri dalam wilayah administratif Desa Padalarang. Di sekeliling kampung terdapat barisan gunung batu karst Hawu-Pabeasan.
Sosok penggerak Kampung Berseri Astra Cidadap ini adalah Deden Syarif Hidayat. Pria berdarah Sunda itu mengungkapkan, dorongan melestarikan alam muncul dari keresahannya sendiri.
"Bahwa KBA Cidadap ini memang kita ingin berupaya menyelesaikan permasalahan lingkungan dengan cara kita," ungkap dia.
Deden bilang, semua ini dimulai pada sekitar 2009 silam. Saat itu, dia merupakan Ketua Karang Taruna tingkat RW. Keresahan timbul lantaran banyaknya aksi penambang ilegal di wilayah gunung batu karst.
Menurutnya, jika terus dibiarkan, masyarakat sekitar akan menjadi terbiasa dengan praktik tersebut. Hal ini yang dinilainya akan menimbulkan bahaya.
Deden pun mulai melakukan sosialisasi tentang pentingnya merawat alam. Namun, prosesnya tak semulus itu. Ada sejumlah oknum yang menentangnya.
"Dulu saya pernah ditanya oleh ya pengusaha ilegal itu, 'kalau gunung ini tidak ditambang masyarakat mau makan apa?' Itu yang kemudian pada akhirnya kita jawab dengan justru jawabannya kita sederhana ya, 'justru kalau gunung ini habis nanti masyarakat mau makan apa?'," cerita Deden.
"Nah, itu tidak bisa dijawab dijawab dengan ancaman pembunuhan malah pada saat itu. Kita dikejar-kejar," sambung dia.
Pelan tapi pasti, Deden tak berhenti. Gayung pun bersambut, pada 2015, Astra melalui PT Astra Honda Motor masuk memberikan bantuan untuk pelestarian lingkungan.
Kawasan yang sempat tergerus pertambangan ilegal akhirnya disulap menjadi kawasan wisata geologi. Sejak 2016, kawasan itu kini disebut Stone Garden Citatah.
"Sehingga kawasan-kawasan yang zonanya sudah terselamatkan kita masih punya Stone Garden dan Gua Pawon sekitarnya tadi dan kawasan Hawu-Pabeasan ini," tuturnya.
Apalagi, jika menilik sejarah, kawasan dibuatnya Stone Garden ini merupakan salah satu titik untuk melihat sisa-sisa peradaban purba. Konon, kawasan ini merupakan dasar laut purba yang terangkat. Di sekitarnya juga terdapat jejak peradaban manusia purba.
Tak sekadar melestarikan lingkungan, Deden menyebut, ini juga menghasilkan manfaat bagi masyarakat sekitar. Perekonomian masyarakat menjadi salah satu yang terdampak.
Banyak warga yang ikut pelatihan kelompok sadar wisata (pokdarwis) untuk mengelola area wisata tersebut. Selain itu, ada pula yang membuka homestay hingga berjualan di sekitar lokasi.
"Peningkatannya sepertinya bahkan 5 kali lipat lah ya atau 10 kali lipat yang saya lihat," beber Deden.
Tak berhenti di situ, selain di aspek perekonomian, pendidikan masyarakat sekitar juga ikut terbantu berkat program Kampung Berseri Astra ini.
"Kawasan Karst Citatah itu dulu dikenal sekolahnya itu paling tinggi hanya SMP. SMP gitu. Kita dorong terus dan alhamdulillah sekarang kita kerja sama dengan berbagai kampus swasta. Itu kita mampu sekarang mengkuliahkan, memfasilitasi fasilitasi KIP kuliah itu hampir 150 orang yang sudah kita kuliahkan," paparnya.
"Jadi kita tidak main-main jadi tidak main-main, hanya berbicara yang sifatnya teknis. Tapi kita berbicaranya yang sifatnya visi masa depan, generasi kita ke depan, termasuk edukasi dan pendidikan yang terus kemudian kita tingkatkan," pungkas dia.
