Kampus di AS Pecat Dosen yang Ucapkan Kata-kata Rasialis

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aksi protes atas kematian George Floyd oleh polisi Minneapolis, di New York, AS. Foto: REUTERS/Caitlin Ochs
zoom-in-whitePerbesar
Aksi protes atas kematian George Floyd oleh polisi Minneapolis, di New York, AS. Foto: REUTERS/Caitlin Ochs

Seorang dosen di sebuah kampus di Amerika Serikat dipecat karena mengucapkan kata-kata bernada rasial di sosial media. Dosen lainnya di kampus yang sama diskors karena perilaku serupa.

Diberitakan stasiun televisi lokal KLFY, pemecatan dilakukan oleh University of Louisiana Monroe (ULM) di Los Angeles, kepada profesor biologi Dennis Bell pada Senin (8/6). Skorsing dan penyelidikan juga tengah dilakukan terhadap profesor keperawatan Mary Holmes yang juga bisa berujung pada pemecatan.

Tindakan kepada keduanya dilakukan setelah percakapan mereka di media sosial ramai dibagikan. Keduanya memiliki kecenderungan rasialisme dan tak segan mengungkapkannya kepada publik.

Dalam berbagai tangkapan layar, Bell kerap menyebutkan kata "nigger" atau "negro", ungkapan rasialisme terhadap warga kulit hitam. Dia juga mendukung tindakan polisi Derek Chauvin yang membunuh George Floyd.

"Orang kulit hitam membuatmu bangga hah? Seperti bangganya saya kepada Derek Chauvin," kata Bell dalam salah satu postingan.

X post embed

Serupa dengan Bell, Mary Holmes juga dikecam karena komentarnya yang berbau rasialis. Dia bahkan menyebut bekas Presiden AS Barack Obama sebagai "monyet".

"Puji Tuhan untuk presiden kita. Dia tidak mengambil gaji untuk komitmennya yang setia. Tidak seperti monyet sebelum dia," kata Holmes.

X post embed

Pihak ULM menyatakan tindakan kedua dosennya tidak mencerminkan pihak kampus. Perkataan dan tindakan rasialisme tak diterima di lembaga pendidikan tersebut.

"ULM Mengutuk bahasa bigot dan rasialis di postingan media sosial anggota fakultas kami. Kampus kami mendukung toleransi dan saling menghormati di tempat kerja dan kelas," ujar pernyataan ULM.

Peristiwa ini terjadi di tengah aksi protes di seluruh AS atas kematian George Floyd, pria kulit hitam di Minneapolis. Pembunuhan Floyd oleh polisi kulit putih disebut hanya puncak gunung es dari rasialisme dan diskriminasi di AS.

Sejumlah demonstran memegang papan saat aksi protes atas kematian George Floyd, di London, Inggris. Foto: Christian Radnedge/REUTERS