Kapal Selam dan 5 Penjelajah Bangkai Titanic Hilang di Samudra Atlantik
·waktu baca 3 menit

Sebuah kapal selam penjelajah berteknologi tinggi dilaporkan hilang ketika sedang menyelam dan melakukan ekspedisi menuju bangkai kapal Titanic di perairan Samudra Atlantik Utara, pada Minggu (18/6).
Per Selasa (20/6), misi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung demi menemukan kapal selam itu dan menyelamatkan lima orang penumpang di dalamnya.
Dikutip dari Associated Press, menurut Canada's Joint Rescue Coordination di Nova Scotia, kapal selam yang dinamakan Titan ini dilaporkan hilang sekitar 700 km di sebelah selatan St John's Newfoundland.
Menurut Penjaga Pantai, kapal Titan tenggelam pada pagi hari bersama rombongannya, kapal pemecah es milik Kanada bernama Polar Prince. Namun, Polar Prince kehilangan kontak dengan kapal Titan sekitar satu jam 45 menit kemudian.
"Polar Prince akan terus melakukan pencarian di permukaan sepanjang malam dan pesawat P8 Poseidon Kanada akan melanjutkan pencarian di permukaan dan bawah permukaan di pagi hari," demikian pernyataan Polar Prince di Twitter.
Adapun misi pencarian dan penyelamatan ini dibantu oleh tim gabungan dari kapal milik Penjaga Pantai Kanada, pesawat militer, dan dipimpin oleh Penjaga Pantai Amerika Serikat di Boston.
Seorang Miliarder Inggris Ikut Hilang
Kapal selam Titan diketahui dioperasikan oleh OceanGate Expeditions — sebuah perusahaan yang berfokus pada ekspedisi dan eksplorasi kehidupan dunia di bawah laut.
Ekspedisi OceanGate ke lokasi bangkai kapal Titanic melibatkan para arkeolog dan ahli biologi kelautan. Di antara para penumpang itu terdapat seorang pengusaha asal Inggris, Hamish Harding, yang berperan sebagai ahli misi dalam ekspedisi tersebut.
Harding merupakan seorang miliarder, petualang sejati, dan memegang rekor dunia Guinness Record sebanyak tiga kali atas kemampuannya bertahan di bawah lautan dalam kapal.
Pada Maret 2021 dia dan rekannya, seorang penjelajah samudra Victor Vescovo, menyelam ke salah satu perairan terdalam di bumi dan terletak di dasar Samudra Pasifik Utara, Palung Mariana.
Menurut keterangan OceanGate, kapal ini mampu menyelam hingga kedalaman 4.000 meter dan memiliki berat hampir 10.000 kg. Kapal ini juga dikatakan mampu bertahan lama di bawah lautan dan menahan tekanan tinggi.
"Titan terbuat dari titanium dan serat karbon yang dililitkan filamen dan telah terbukti tahan terhadap tekanan yang sangat besar dari lautan dalam," kata pihak OceanGate.
Untuk mengunjungki bangkai kapal Titanic, kapal selam Titan membutuhkan waktu dua jam agar bisa turun sedalam 3.800 m hingga tiba di sana.
Sementara itu, penasihat OceanGate, David Concannon, mengatakan kapal Titan memiliki pasokan oksigen selama 96 jam yang dimulai sekitar pukul 6 pagi sejak Minggu (18/6).
Dengan kata lain, mengingat berkurangnya oksigen yang tersisa tim pencarian dan penyelamatan memiliki waktu yang cukup singkat untuk menemukan kapal Titan beserta kelima penumpangnya.
Tak Ada GPS
Ekspedisi kali ini merupakan perjalanan tahunan ketiga yang diselenggarakan OceanGate untuk menjelajahi Titanic.
Kelompok peminat pertama yang berangkat pada 2021 membayar minimal USD 100 ribu (Rp 1,5 miliar) per orang agar bisa berangkat.
Ekspedisi tersebut dijadwalkan berangkat pada awal Mei dan berakhir pada akhir Juni. Sementara rute perjalanan dimulai dari St John's, Newfoundland, menuju sekitar 640 km ke Alantik Utara hingga menyelam ke bangkai kapal Titanic.
Namun, seorang wartawan media CBS David Progue yang berangkat tahun lalu menceritakan bahwa kapalnya sempat berputar-putar mencari bangkai kapal Titanic.
"Tidak ada GPS di bawah air, jadi kapal permukaan seharusnya memandu kapal selam menuju kapal karam dengan mengirimkan pesan teks," kata Pogue.
"Namun dalam penyelaman ini, komunikasi entah bagaimana terputus. Kapal selam tidak pernah menemukan bangkai kapal," terang dia.
