Kapolri Singgung Ratusan KPPS Meninggal di Pemilu 2019: Kita Antisipasi di 2024

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyampaikan keterangan pers di Polsek Astana Anyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (7/12/2022). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyampaikan keterangan pers di Polsek Astana Anyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (7/12/2022). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyinggung insiden banyaknya petugas KPPS meninggal dunia dalam Pemilu Serentak 2019.

Masalah ini disampaikan Sigit dalam acara penandatanganan MoU KPU dengan Polri, AIPI, MIPI, APHTN-HAN di Kantor KPU RI, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (29/12).

"Mungkin sedikit merefleksi Pemilu 2019. Ada 984 yang terganggu kesehatannya kemudian meninggal, kemudian ini menjadi evaluasi bagi kita," kata Sigit.

Berdasarkan data KPU, tercatat sebanyak 895 KPPS meninggal dunia dan 5.175 sakit akibat beban kerja berlebih dalam pelaksaan Pemilu 2019.

Penandatanganan nota kesepahaman KPU dengan Polri di Kantor KPU, Jakarta, Kamis (29/12/2022). Foto: Luthfi Humam/kumparan

Sigit menuturkan, memang ada banyak faktor yang menjadi pemicu banyak petugas KPPS meninggal dunia.

"Kita dihadapkan dengan rentang kondisi geografis yang sangat luas. Data jumlah pemilih, walau terus berubah dibanding 2019, tahun ini (pemilih) lebih menurun, di satu sisi tantangannya keserentakannya," jelas Sigit.

"Jumlah parpol juga bertambah, ini memerlukan waktu lebih panjang, OKI, hal-hal ini haris kita antisipasi," tambah dia.

Lebih lanjut, eks Kapolda Banten ini mengatakan evaluasi menjadi tugas bersama tidak hanya KPU dan Polri. Ia ingin Pemilu 2024 berjalan dengan lancar dan tidak ada lagi petugas KPPS meninggal dunia.

"Yang masih membekas, saat itu terjadi politik identitas, ini menjadi tantangan, ancaman. Ini tidak boleh terulang kembali. Kita berada di posisi persimpangan, kita mau maju, diam di tempat, atau mundur ke belakang," tutup Sigit.