Kapolri Titip Perusahaan Jadikan Buruh sebagai Mitra, Minta Jaga Persatuan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden FSPMI Suparno dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan keterangan pers di acara Konsolidasi Akbar Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia. Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Presiden FSPMI Suparno dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan keterangan pers di acara Konsolidasi Akbar Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia. Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo meminta perusahaan menjadikan buruh sebagai mitra dan bagian dari keluarga. Menurutnya, hubungan industrial yang baik penting untuk menjaga keberlangsungan perusahaan sekaligus kesejahteraan pekerja.

Hal itu disampaikan Sigit saat menghadiri Konsolidasi Akbar Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di Cikarang, Kabupaten Bekasi.

“Tolong saya titip betul: jadikan rekan-rekan pekerja ini sebagai mitra dan aset perusahaan, sebagai keluarga,” kata Sigit dalam sambutannya.

Menurutnya, perusahaan dan buruh sama-sama memiliki kepentingan untuk menjaga keberlangsungan usaha. Perusahaan membutuhkan pekerja agar dapat berkembang, sementara buruh membutuhkan perusahaan sebagai tempat bekerja dan memperoleh kesejahteraan.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo di Acara Konsolidasi Akbar Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jumat (11/9). dok Rayyan/kumparan Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

“Karena begitu beliau-beliau, teman-teman ini menjadi bagian dari keluarga, tentunya kita bersama-sama berpikir bagaimana agar rumah besar kita, perusahaan ini, kemudian bisa tumbuh,” ujarnya.

“Perlu diperoleh titik keseimbangan antara harapan pengusaha agar perusahaan terus beroperasi dan menghasilkan keuntungan, serta harapan buruh untuk hidup sejahtera,” tambah Sigit.

Sigit mengatakan perbedaan pendapat antara pengusaha dan buruh merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut seharusnya diselesaikan dengan dialog dan musyawarah.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah dinamika hubungan industrial.

“Jadi yang penting maksudnya adalah kita paham kalau kita rukun, kita bisa bersatu, tapi kalau kita selalu ribut, rusuh, selalu konflik, tentu akan membuat semuanya menjadi bubar. Dan ini tentunya yang harus kita hindari dalam situasi seperti ini,” kata dia.

Sigit juga menilai kerja sama antara pemerintah, pengusaha, dan buruh diperlukan untuk menjaga iklim investasi serta mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.