Karawang Banjir hingga 2 Meter, 2.246 Jiwa Terdampak

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga terdampak banjir dievakuasi petugas untuk mengungsi di Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Karawang. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Warga terdampak banjir dievakuasi petugas untuk mengungsi di Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Karawang. Foto: Dok. Istimewa

Banjir melanda sejumlah wilayah Karawang, Jawa Barat. Tercatat 588 rumah terendam banjir dengan ketinggian air yang paling dalam mencapai dua meter.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang, Ferry Muharam, menyebut banjir kali ini melanda enam desa dan dua kelurahan dari tiga kecamatan, yakni Telukjambe Barat, Telukjambe Timur dan Karawang Barat.

Banjir terparah terjadi di Desa Mekarmulya dan Karangligar dengan ketinggian air mencapai 1,7 hingga 2 meter.

"Total ada 2.246 jiwa terdampak banjir dari 1.378 KK (Kartu Keluarga)," ucap Ferry, Selasa (8/7).

Banjir awalnya menerjang Desa Karangligar sejak Senin (7/7) malam akibat luapan air dari Sungai Cibeet dan kawasan industri.

"Karena intensitas hujan serta limpasan air dari kawasan, sehingga sebarannya semakin meluas dan ini berpengaruh," ujar Ferry.

Warga terdampak banjir dievakuasi petugas untuk mengungsi di Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat. Foto: Dok. Istimewa

Sejauh ini, kata dia, petugas sudah disiagakan di sejumlah posko pengungsian. Bantuan logistik pun sudah didistribusikan kepada warga terdampak.

"Bantuan logistik sudah dikirim. Saat ini kami masih fokus melakukan evakuasi menjemput warga terdampak," tandasnya.

18 Tahun Bertahan dari Banjir

Kepala Dusun 1 Pangasinan Desa Karangligar, Parman, mengatakan banjir tahunan di desanya sudah terjadi sejak tahun 2007.

"Banjir udah dari 18 tahun terjadi dan warga kita sudah terbiasa," ucap Parman.

Warga terdampak banjir dievakuasi petugas untuk mengungsi di Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat. Foto: Dok. Istimewa

Saking terbiasanya, ia menyebut mental warga sudah teruji dalam menghadapinya. Perabot rumah diganti berbahan plastik, dan rumah-rumah tidak lagi menggunakan lemari kayu, sofa, atau meja besar.