Karhutla di Kutai Timur, Orang Utan Mondar-mandir Cari Makan di Pinggir Jalan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seekor orangutan mondar mandir di tepi Jalan Poros Sangatta-Rantau Pulung, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Senin (14/9/2026). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Seekor orangutan mondar mandir di tepi Jalan Poros Sangatta-Rantau Pulung, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Senin (14/9/2026). Foto: Dok. Istimewa

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diduga menjadi salah satu faktor yang mendorong seekor orangutan dewasa keluar dari habitatnya hingga mencari makan di tepi Jalan Poros Sangatta-Rantau Pulung, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Orangutan tersebut terlihat mondar-mandir di kawasan vegetasi di pinggir jalan. Satwa dilindungi itu tampak memanfaatkan tanaman yang masih tersedia sebagai sumber makanan.

Kemunculan orangutan di dekat jalan raya menarik perhatian pengendara dan warga yang melintas. Kondisi ini juga menimbulkan kekhawatiran karena lokasi tersebut merupakan jalur yang cukup ramai kendaraan.

Salah seorang warga, Jufriadi, meminta pihak berwenang segera melakukan penanganan. Ia khawatir keberadaan orangutan terlalu lama di pinggir jalan dapat membahayakan keselamatan satwa tersebut.

“Kami berharap segera dievakuasi, karena kalau terlalu lama di pinggir jalan dikhawatirkan tertabrak kendaraan,” ujar Jufriadi.

Menurut Jufriadi, kondisi habitat di sekitar kawasan tersebut perlu menjadi perhatian. Kebakaran hutan dapat berdampak pada vegetasi yang menjadi sumber makanan bagi satwa liar.

“Jangan sampai nanti orangutannya tertabrak kendaraan,” kata Jufriadi.

Selain risiko tertabrak kendaraan, kemunculan orangutan di tepi jalan juga menimbulkan dugaan bahwa satwa tersebut mengalami kesulitan mendapatkan makanan di habitat alaminya.

Ketika vegetasi terbakar atau sumber pakan berkurang, orangutan dapat bergerak lebih jauh untuk mencari makanan.

Meski demikian, penyebab pasti orangutan keluar hingga ke tepi jalan masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan petugas konservasi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena lokasi kemunculan orangutan juga berada berdekatan dengan aktivitas pertambangan. Tekanan terhadap habitat akibat kebakaran dan aktivitas manusia berpotensi mempersempit ruang jelajah satwa.

“Sebaiknya segera ditangani dan dievakuasi ke tempat yang lebih aman,” ujar Jufriadi.

Ia berharap penanganan tidak hanya dilakukan untuk mencegah orangutan tertabrak kendaraan, tetapi juga memastikan satwa tersebut dapat kembali mendapatkan habitat dan sumber makanan yang aman.

“Kami berharap pihak berwenang segera turun tangan,” kata Jufriadi.

Seekor orangutan mondar mandir di tepi Jalan Poros Sangatta-Rantau Pulung, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Senin (14/9/2026). Foto: Dok. Istimewa

Kemunculan orangutan di sekitar jalan umum di Kutai Timur disebut bukan kali pertama terjadi. Kondisi ini menjadi perhatian karena keberadaan satwa liar di dekat aktivitas manusia dapat meningkatkan risiko konflik antara satwa dan manusia.

Warga berharap aparat maupun instansi terkait segera melakukan evakuasi dan memastikan kondisi orangutan tersebut, terutama di tengah ancaman karhutla yang dapat mengganggu habitat serta sumber pakan satwa liar.