Karhutla Riau Tembus 20.691 Hektare, Kabut Asap Kian Pekat

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Situasi langit berkabut asap di Kabupaten Kampar, Riau, Rabu (14/10/2026). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Situasi langit berkabut asap di Kabupaten Kampar, Riau, Rabu (14/10/2026). Foto: Dok. Istimewa

Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau sepanjang 2026 mencapai 20.691,20 hektare. Kabupaten Bengkalis dan Pelalawan menjadi dua wilayah dengan luasan kebakaran terbesar. Sementara itu, kabut asap semakin mengganggu aktivitas masyarakat.

Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Riau membuat kondisi udara kian tidak nyaman. Asap mengurangi jarak pandang dan menimbulkan keluhan warga, mulai dari mata perih hingga tenggorokan terasa sakit. Akibatnya, aktivitas di luar ruangan pun terganggu.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, M Edy Afrizal, mengatakan Kabupaten Bengkalis dan Pelalawan menjadi daerah dengan luasan karhutla terbesar sepanjang tahun ini.

"Untuk saat ini, luas lahan yang paling banyak terbakar di Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Pelalawan," kata Edy kepada kumparan, Rabu (14/10).

Berdasarkan data BPBD Riau, luas lahan yang terbakar di Kabupaten Bengkalis mencapai 8.573 hektare. Sementara itu, luas lahan terbakar di Kabupaten Pelalawan mencapai 6.710 hektare.

"Disusul Kabupaten Indragiri Hulu berada di urutan berikutnya dengan luas lahan terbakar 1.674 hektare, Indragiri Hilir 1.408 hektare dan Kota Dumai 651 hektare," ujarnya.

Selain di wilayah tersebut, karhutla juga melanda sejumlah daerah lain di Riau. Luas lahan terbakar di Kabupaten Rokan Hilir mencapai 509 hektare, Kabupaten Siak 430 hektare, Kabupaten Kepulauan Meranti 307 hektare, Kabupaten Kampar 178 hektare, Kabupaten Kuantan Singingi 139 hektare, dan Kota Pekanbaru 106 hektare.

Salah seorang warga, Taufik, mengaku merasakan dampak kabut asap yang semakin pekat. Menurut dia, kondisi tersebut membuat masyarakat khawatir, terutama ketika harus beraktivitas di luar rumah.

"Belakangan ini asap semakin terasa. Saat keluar rumah, udara terasa tidak nyaman dan tenggorokan mulai terganggu. Kami berharap kebakaran segera bisa dipadamkan agar kondisi kembali normal," kata Taufik kepada kumparan, Rabu (14/10).

"Semoga pemerintah cepat dan serius dalam mengatasi permasalahan kabut asap di Riau," pungkasnya.