Karyawan BUMD di Yogya Demo di Depan DPRD, Protes soal Dirut hingga Uang Lembur

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah karyawan BUMD PT Taru Martani demo di DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (27/8/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah karyawan BUMD PT Taru Martani demo di DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (27/8/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sejumlah karyawan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Taru Martani demo di DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (27/8).

Mereka menyampaikan aspirasi mulai dari potongan uang lembur hingga soal Direktur Utama PT Taru Martani yang dinilai arogan.

"Ini ketidaknyamanan di lingkungan kerja Taru Martani. Terutama arogansi direktur juga kebijakan-kebijakan yang sangat-sangat membuat tidak nyaman karyawan," kata Ketua Serikat Pekerja PT Taru Martani, Suharyanto, ditemui di lokasi.

Arogansi yang dimaksud adalah Dirut mudah marah ketika karyawan melakukan kesalahan sedikit saja.

"Ya dibentak-bentak istilah kalau sesuatu yang nggak seharusnya dibentak itu udah dibentak-bentak. Keras. Perintah apa-apa itu keras. Kata-katanya keras," jelasnya.

Lantaran hal itu, banyak karyawan memutuskan keluar. Catatan Suharyanto ada 12 orang yang memutuskan keluar.

"Banyak yang resign juga walaupun di alasan resign-nya kan nggak berani tertulis langsung dengan alasan begitu (direktur galak). Tapi kan curhat ke serikat pekerja," jelasnya.

12 karyawan ini berasal di berbagai bidang ada di produksi hingga HRD.

"Bahkan HRD yang baru, baru 2 bulan menjabat sudah minta resign," bebernya.

Sejumlah karyawan BUMD PT Taru Martani demo di DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (27/8/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Uang Lembur Dipotong

Suharyanto mengatakan uang lembur juga saat ini tak penuh seperti dahulu.

"Ada pemotongan sekitar 4 jam (lembur upah) dikurangi setengah jam," katanya.

"Bantuan Pak Komisaris lemburnya sudah terbayarkan," bebernya.

Para pekerja menurut Suharyanto menuntut kenyamanan dalam bekerja. Sehingga tak diliputi rasa takut.

Perwakilan massa kemudian diterima masuk oleh DPRD DIY untuk audiensi.

Setelah audiensi massa membubarkan diri. Demo berlangsung tertib.

Kata Dirut

Direktur Utama PT Taru Martani, Widayat Joko Priyanto, juga hadir dalam audiensi.

Ditemui setelah audiensi, Widayat mengatakan dirinya selalu tegas dalam memimpin.

"Saya selalu tegas dalam beberapa hal kaitannya dengan produktivitas dan penyimpangan. Bisa dicek juga saya dalam banyak hal juga," kata Widayat.

Misalnya dia mempersilakan karyawan yang sudah mengundurkan diri karena alasan mengurus anak untuk gabung kembali ketika sudah kembali siap bekerja.

Soal 12 karyawan keluar, Widayat mengatakan 12 karyawan yang keluar itu memiliki alasan masing seperti mengurus anak hingga mendapatkan tawaran gaji yang lebih tinggi.

"Itu tidak benar (keluar karena arogansi). Yang terakhir menyatakan resign karena diterima perusahaan lain. Dan gajinya saya tanya naiknya signifikan. Dan itu nasib dia. Kita tidak bisa melarang karena kan ada yang lebih baik," tuturnya.

Direktur Utama PT Taru Martani, Widayat Joko Priyanto. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Soal Uang Lembur

Di sisi lain, Widayat juga membantah uang lembur karyawan berkurang. Hal ini hanya miskomunikasi menurutnya.

Dia juga mengatakan semua karyawan Taru Martani bergaji di atas UMR.

"Kita sudah mengikuti regulasi yang terkini. Seluruh karyawan Taru Martani upah tidak ada yang di bawah UMR. Semuanya di atas UMR," jelasnya.

Kata Komisaris

Komisaris PT Taru Martani, Yudi Ismono, mengatakan sebagai komisaris dari unsur Pemda DIY, dia memastikan akan mengawal hak-hak karyawan.

"Mencoba mengawal sebaik-baiknya hak-hak yang ada di karyawan Taru Martani," kata Yudi.

Dia akan selalu mendengar suara-suara dari karyawan.

"Akan selalu kita tindak lanjuti sebagai referensi untuk perbaikan manajemen. Yang kalau manajemen untung pasti ke karyawan," bebernya.

Namun jika hal-hal yang masih bisa diselesaikan internal maka dirinya mengajak duduk bersama. "Diskusi bagaimana solusi cepat dan solusi baiknya untuk mengawal teman-teman yang ada serikat pekerja," pungkasnya.