Kasus Beras Maknyus dan Ayam Jago Bisa Menekan Kinerja Induk Usaha

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Beras Cap Ayam Jago dan Beras Maknyuss (Foto: Instagram/@beras_capayamjago @officialberasmaknyuss)
zoom-in-whitePerbesar
Beras Cap Ayam Jago dan Beras Maknyuss (Foto: Instagram/@beras_capayamjago @officialberasmaknyuss)

Gudang beras PT Indo Beras Unggul (PT IBU) pada Kamis (20/7) digeledah oleh Direktorat Tindak Pidana Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri. Hal ini dikarenakan PT IBU diduga melakukan kecurangan penjualan beras subsidi, yang dijual dengan harga beras premium.

Beras dengan merek Maknyuss dan Cap Ayam Jago yang diproduksi PT IBU dipasarkan di pasar modern dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar Rp 9.500 per kilogram. Beras bermerek Maknyuss dan Cap Ayam Jago dijual di pasar modern dengan harga masing-masing Rp 13.700 dan Rp 20.400 per kilogram.

Menurut Analis Investa Saran Mandiri, Hans Kwee, kecurangan yang dilakukan PT IBU akan berdampak besar bagi kinerja bisnis perusahaan induk PT IBU, yakni PT Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA). Sebab, pendapatan AISA sebanyak 17 persen hingga 18 persen berasal dari penjualan beras PT IBU.

"Jadi berpengaruh, dua brand merek Maknyus dan Ayam Jago yang mereka miliki itu sedang ada kasus. Dua brand itu (pendapatan) tertinggi mereka, hampir 17-18 persen pendapatan AISA didapat dari beras, maka akan bermasalah," kata Hans, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Jumat (21/7).

Menurut Hans, hal tersebut bisa menjadi sentimen negatif bagi kinerja saham induk perusahaan yang merupakan perusahaan terbuka yang tercatat di BEI yang gerak-geriknya terpantau secara terbuka. Ini tentu akan berpengaruh besar bagi saham AISA.

Mengutip data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (21/7), saham AISA ditutup anjlok 400 poin (24,92 persen) ke level Rp 1.205. Saham AISA sempat menyentuh level tertingginya di Rp 1.605 dan terendahnya di Rp 1.205.

"Itu memperlihatkan terjadi auto rejection ke bawah pada saham AISA. Jadi sangat berpengaruh banget masalah yang dihadapi PT Indo Beras Unggul ke AISA," imbuh Hans.

Hans mengimbau kepada AISA untuk melakukan Public Expose (PE) kepada masyarakat dan pelaku pasar agar dampak kerugian yang ditimbulkan tak semakin membesar.

"Kalau perlu Bursa Efek Indonesia mendorong untuk AISA melakukan PE, seperti yang telah dilakukan induk usaha 7-Eleven, yakni PT Modern Internasional Tbk (MDRN), saat 7-Eleven tutup. Auto rejection bawah yang terjadi pada AISA itu sudah terlalu besar, jangan sampai turun lagi," pungkas Hans.