Kasus COVID-19 di DKI Meningkat tapi Masih Terkendali, Yuk Vaksinasi Keempat

19 Februari 2023 14:01
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Petugas kesehatan mengukur suhu badan calon penerima vaksin COVID-19 di RPTRA Teratai Tebet Timur, Tebet, Jakarta Selatan, Senin (12/12/2022). Foto: Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas kesehatan mengukur suhu badan calon penerima vaksin COVID-19 di RPTRA Teratai Tebet Timur, Tebet, Jakarta Selatan, Senin (12/12/2022). Foto: Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO
Kasus COVID-19 di Jakarta meningkat sejak 30 Januari 2023. Meski begitu Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dr. Ngabila Salama, mengatakan peningkatan kasus tersebut tidak disertai kenaikan angka kematian.
"Tanda COVID-19 terkendali, walaupun ada kenaikan kasus, tidak disertai kenaikan kematian dan perawatan RS (rumah sakit) yang signifikan. Perlu terus dipantau 2-4 minggu ke depan karena ada tren sedikit kenaikan kasus tetapi kondisi sangat terkendali dan tidak terjadi kenaikan kematian," kata Ngabila dalam keterangannya, Minggu (19/2).
Dari data yang dibagikan Ngabila terlihat kasus positif mingguan pada 30 Januari-5 Februari 2023 meningkat menjadi 520 kasus dari minggu sebelumnya yang sebesar 488 kasus. Kemudian pada 6-12 Februari 2023 ada 719 kasus positif. Lalu pada 13-19 Februari 2023 ada 631 kasus positif.
Meski begitu dalam tiga minggu tersebut positivity rate masih berada di angka 3%. Itu artinya masih di bawah standar WHO yakni 5%.
Dari sisi angka kematian peningkatan pada 30 Januari-5 Februari jumlahnya meningkat menjadi 4 kasus, sedangkan pekan sebelumnya ada 3 kasus kematian. Kemudian pada 6-12 Februari ada 6 kasus kematian. Begitu juga pada 13-19 Februari terjadi 6 kasus kematian.
Sementara untuk case fatality rate (CFR) pada 30 Januari-5 Februari nilainya 0,77%, lalu pada 6-12 Februari nilainya 0,83%, dan pada 13-19 Februari nilainya 0,95%.
Kepala Seksi Surveillance, Epidemologi dan Imunisasi Dinkes DKI Jakarta dr Ngabila Salama, MKM. Foto: Instagram/@ngabilasalama
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Seksi Surveillance, Epidemologi dan Imunisasi Dinkes DKI Jakarta dr Ngabila Salama, MKM. Foto: Instagram/@ngabilasalama
"CFR hampir 1% artinya missing cases di lapangan tinggi. 1 dari 100 orang yang terdiagnosis meninggal," kata Ngabila.
"Semua yang meninggal usia 40 tahun ke atas dan belum vaksin dosis 4," kata Ngabila.
Melihat hal itu, Ngabila meminta masyarakat untuk segera melakukan vaksin dosis keempat. Sebab dengan begitu antibodi untuk menangkal COVID-19 semakin tinggi.
"Semoga vaksin anak <12 tahun segera ada untuk mencegah misc (longcovid) dan kematian. Vaksinasi dosis 4 pada 18 tahun ke atas dapat meningkatkan antibodi 3x lipat dibandingkan yang belum dan mencegah longcovid dan kematian. Mari vaksin selagi ada dan gratis!" pungkasnya.