News
·
25 Mei 2021 19:12
·
waktu baca 2 menit

Kasus COVID-19 di Malaysia Makin Memburuk, Rumah Sakit Mulai Kewalahan

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kasus COVID-19 di Malaysia Makin Memburuk, Rumah Sakit Mulai Kewalahan (303328)
searchPerbesar
Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin menerima dosis pertama vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19 di sebuah klinik di Putrajaya, Malaysia, Rabu (24/2). Foto: Malaysia's Information Department/Handout via REUTERS
Kasus COVID-19 di Malaysia semakin memburuk. Pada Selasa (25/5) terdapat penambahan kasus COVID-19 harian hingga 7.289.
ADVERTISEMENT
Angka tersebut merupakan kasus harian tertinggi sepanjang pandemi COVID-19. Kini, total kasus COVID-19 di seluruh Malaysia berjumlah 525.889.
Lonjakan kasus di Malaysia ini menyebabkan rumah sakit kewalahan. Tingkat keterisian tempat tidur dan ICU untuk para pasien corona mencapai 70%.
Hal ini memicu kemarahan warga Malaysia, yang semakin diperparah dengan sebuah video yang tersebar luas di media sosial.
Video sepanjang satu menit tersebut menunjukkan lima tenaga kesehatan ber-APD yang mencoba menyelamatkan nyawa seorang pasien COVID-19 di sebuah pusat karantina di Kuala Lumpur. Tetapi, mereka gagal dan pasien tersebut meninggal dunia.
Warga Malaysia menyampaikan duka dan amarahnya lewat media sosial Twitter dengan menggunakan tagar #KerajaanGagal. Diketahui, tagar tersebut telah digunakan selama beberapa minggu terakhir.
ADVERTISEMENT
“Kapal kami tenggelam. Kapten kapal ini tak bisa dijangkau,” tulis salah seorang pengguna Twitter dengan menggunakan tagar tersebut, Selasa (25/5), dikutip dari Reuters.
Malaysia telah menetapkan kebijakan keadaan darurat di Januari. Meski begitu, pemerintahan di bawah Perdana Menteri Muhyiddin Yassin tampak kesulitan dalam mengendalikan laju infeksi corona.
Menteri Kesehatan serta kantor PM masih belum memberikan komentar soal hal ini.
Pasien yang tampak dalam video berdurasi satu menit itu bernama Abdul Malik Daim (43). Abdul Malik meninggal dunia pada Sabtu (22/5) lalu di lokasi karantina usai tiga hari dinyatakan positif COVID-19.
Menurut saudaranya, Abdul Rahim Daim, Abdul Malik dikategorikan sebagai pasien dengan dengan risiko rendah karena tak adanya gejala-gejala lainnya, meskipun ia mengalami batuk-batuk dan didiagnosis obesitas dengan tekanan darah tinggi saat skrining awal.
ADVERTISEMENT
“Mungkin mereka harus memiliki pemeriksaan lainnya atau memberitahukan kepada para pasien untuk mengawasi satu sama lain, sehingga mereka bisa mendapatkan bantuan sesegera mungkin,” kata Abdul Rahim.
Sebelumnya, PM Muhyiddin pada Minggu (23/5) mengatakan bahwa dirinya siap menghadapi kritik dari warganya, selama warga juga turut andil dalam mengendalikan pandemi yang melanda negerinya.
“Mereka boleh memanggil saya ‘perdana menteri bodoh’, tak apa. Saya tahu betapa sulitnya [pandemi] untuk dikendalikan, tetapi ini adalah tanggung jawab kita bersama,” kata Muhyiddin dalam wawancara yang disiarkan di stasiun televisi lokal.
Pemerintah Malaysia dikritik akibat tidak menerapkan pembatasan kegiatan yang lebih ketat atau tidak mengambil tindakan yang lebih tegas terhadap pelanggaran lockdown.
Bahkan, program vaksinasi yang sudah berjalan sejak Februari dituduh memberikan dosis yang lebih rendah dari yang dibutuhkan kepada beberapa penerima vaksin COVID-19.
ADVERTISEMENT