Kasus Ibu Tiri Aniaya Anak hingga Tewas: Diduga Dilakukan Berkali-kali
·waktu baca 3 menit

Kasat Reskrim Polres Metro Depok Kompol Made Gede Oka mengatakan ada dugaan aksi penganiayaan berujung tewas terhadap Muhammad Arrasya Alfarizky (6) yang dilakukan ibu tirinya, Rita Novita Sari (30), dilakukan beberapa kali.
“Kami menduga memang ada tindakan kekerasan yang dilakukan oleh tersangka bukan hanya di hari kejadian, tapi sudah berkali-kali dilakukan,” kata Made, Kamis (23/10).
Berdasarkan pengakuan tersangka, kata Made, tindakan kekerasan dilakukan karena korban kerap dianggap tidak menuruti perintah.
“Kadang disuruh makan tidak mau, minta uang jajan juga tidak diberi, lalu tersangka memukul korban,” ujarnya.
Made menyebut dugaan penganiayaan yang dilakukan berulang kali ini dikuatkan oleh keterangan para saksi yang melihat kondisi korban sebelum dia ditemukan tewas. Tapi, Made tak menjelaskan lebih lanjut di hari apa para saksi tersebut melihat kondisi korban sebelum dia ditemukan tewas.
“Dari keterangannya, saksi melihat korban [sebelum meninggal] sudah memiliki luka di bibir dan lebam-lebam di bagian punggung,” ucap dia.
Kesaksian Tetangga
Yuni, salah satu tetangga sekitar mengatakan bahwa ia dan ibu-ibu kerap menyaksikan keadaan Arrasya pascadisiksa.
“Katanya dari awal Oktober, padahal enggak. Dari awal sebelum pindah ke sini. Setiap hari tanpa ada liburnya,” ujarnya kepada kumparan, di Griya Citayam Permai, Bojonggede, Kabupaten Bogor, Rabu (23/10).
Yuni menjelaskan, bahwa keluarga Arrasya sebelumnya sudah 3 kali pindah rumah sebelum akhirnya menyewa rumah kontrakan di Griya Citayam Permai (GCP).
“Dari di Tiang 2, lalu pindah ke Desa Rawa Panjang. Pindah lagi ke kontrakan dekat sini, di Jalan Kampung Kelapa, terus ke GCP terakhir,” ungkapnya.
Ketika Arrasya masih tinggal di Jalan Kampung Kelapa, kata Yuni, ia terlihat masih aktif bermain bersama anak-anak sebaya. Yuni mengaku, anaknya kerap bermain bersama Arrasya.
“Waktu itu, Juni atau Juli, karena belum masuk sekolah, dia main pagi sama anak saya. Tapi itu mukanya emang udah bonyok,” kata Yuni.
Yuni berujar bahwa ia dan ibu-ibu di sekitar telah terbiasa melihat keadaan wajah Arrasya yang ia sebut mirip zombie. “Matanya hitam, dalamnya merah, pipinya biru. Di sebelah kanan dan kiri bibir, ada bekas disekap,” ujarnya. “Karena kalau dia dibikin nangis, makin ditambahin,” tambah Yuni.
Ia mengaku tahu hal tersebut setelah bertanya kepada pihak kepolisian sebelumnya. “Saya tahu dari polisi. Saya tanya, ‘Itu kenapa kalau digebuk enggak ada suaranya ya, Pak?”
Yuni menambahkan, selama ini ia tak pernah mendengar suara tangisan dari dalam rumah Arrasya. “Tapi kalau nangis, enggak ada suara gedebag-gedebug, silent,” kata Yuni dengan yakin.
Ia mengatakan, selama ini tak pernah mendengar tangisan Arrasya kecuali pada Senin (13/10), ketika ia menawarkan untuk mengantar Arrasya pulang dari PAUD.
“Tumben-tumbennya dia nangis. Biasanya enggak pernah. Ternyata dia bilang kakinya sakit,” tandas Yuni.
