Kasus Meninggalnya Siswi SMKN 1 Cihampelas: Keluarga Tolak Autopsi
·waktu baca 3 menit

Keluarga siswi SMKN 1 Cihampelas, Bunga Rahmawati (17), menolak autopsi. Padahal autopsi ini diperlukan untuk mengetahui penyebab meninggalnya Bunga.
RSUD Cililin menegaskan, satu-satunya cara mengetahui penyebab kematian melalui pemeriksaan forensik, namun langkah itu urung dilakukan karena keluarga Bunga menolak hal itu.
Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Cililin, dr Dwi Anggitasari Puspita, mengatakan Bunga sudah dalam kondisi meninggal dunia saat tiba di rumah sakit pada Selasa (30/9/2025) siang.
“Pasien datang pukul 13.30 WIB dalam keadaan pucat, kebiruan, tidak ada pernapasan, tidak ada denyut jantung, dan pupil midrasis total. Pemeriksaan EKG menunjukkan asistol. Kami nyatakan meninggal,” ujar Dwi, Kamis (2/10/2025).
Dwi menuturkan, berdasarkan anamnesis singkat dengan pihak keluarga, Bunga tidak memiliki riwayat penyakit berat. Ia hanya tercatat pernah mengalami gastritis atau sakit maag.
“Tidak ada penyakit bawaan serius, tidak ada penggunaan obat-obatan,” katanya.
Namun, Dwi tidak memiliki rekam medis lain yang bisa menjelaskan kondisi Bunga sebelum kematiannya. Pasalnya, Bunga tidak pernah menjalani perawatan di rumah sakit itu usai insiden keracunan MBG yang terjadi pada Rabu (24/9).
“Pasien datang dalam keadaan death on arrival. Untuk memastikan penyebabnya harus melalui pemeriksaan forensik. Kami sudah menyarankan autopsi, tetapi keluarga menolak,” jelasnya.
Dwi menambahkan, pemeriksaan toksikologi hanya bisa dilakukan melalui sampel lambung dan itu menjadi kewenangan tim forensik.
“Tanpa autopsi, kami tidak bisa menyimpulkan apakah kematian pasien berkaitan dengan kasus keracunan MBG atau tidak,” tandasnya.
Diketahui, Bunga adalah siswi kelas XII SMKN 1 Cihampelas yang sempat mengkonsumsi paket MBG berisi telur rebus, lotek, kentang, dan pisang pada 24 September lalu.
Dari 300 paket makanan yang dibagikan hari itu, 121 siswa tercatat mengalami keracunan hingga dilarikan ke fasilitas kesehatan.
Namun Bunga, menurut Kepala Puskesmas Cihampelas Edah Jubaedah, tidak termasuk siswa yang mengalami keracunan. Juga tidak menunjukkan gejala keracunan.
"Tapi bunga ini dari sejak kejadian keracunan sampai hari Senin (29/9/2024) kurang lebih 5 hari itu tidak ada mengeluh keracunan. Jadi kami tidak ada datang ke posko, tidak tercatat data sebagai pasien keracunan," jelasnya.
Meninggalnya Bunga bukan karena MBG
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menegaskan bahwa kasus meninggalnya siswi SMKN 1 Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, tidak ada kaitannya dengan program MBG.
“Itu kan sudah dijelaskan dari sana bahwa itu tidak ada hubungan,” kata Dadan usai konferensi pers terkait penanggulangan kejadian luar biasa program MBG di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Kamis (2/10).
Terkait apakah BGN akan melakukan investigasi, Dadan menyampaikan bahwa orang tua siswi tersebut menolak untuk melakukan autopsi.
“Kemarin sebenarnya kita bertanya, tapi orang tuanya kan tidak boleh tidak mengizinkan untuk autopsi. Jadi kita serahkan ke pemerintah setempat yang menyampaikan ya,” ujarnya.
