Kasus Temuan Senjata di Sekolah, Komnas Anak: Sekolah Harusnya Jadi Tempat Aman

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana sekolah di kawasan Jakarta Selatan yang ditemukan ratusan senjata, narkoba dan cd porno pada Jumat (7/8). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana sekolah di kawasan Jakarta Selatan yang ditemukan ratusan senjata, narkoba dan cd porno pada Jumat (7/8). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Kasus penemuan 995 senjata di salah satu sekolah swasta di Jakarta Selatan menjadi perhatian Komnas Perlindungan Anak (PA) untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Ketua Komnas PA DKI Jakarta, Cornelia Agatha, menyayangkan penemuan senjata di sekolah yang notabene semestinya menjadi ruang aman bagi anak-anak.

“Ketika ditemukan barang-barang seperti itu kan rasanya gimana ya, kayaknya tidak pantas ya ditemukan di sebuah tempat yang harusnya menjadi tempat aman,” ujar Cornelia di kantor Komnas PA, Jakarta Selatan, Minggu (9/8).

Cornelia Agatha hadir sebagai Ketua Komnas Perlindungan Anak DKI Jakarta dan juga sebagai sahabat ayah David Ozora, Jonathan Latumahina. Foto: Thomas Bosco/kumparan

Wakil Ketua Komnas PA DKI Jakarta, Lia Latifah, menambahkan bahwa kasus tersebut harusnya tidak terjadi jika dari awal pemantauan pihak sekolah pada anak telah dilakukan.

“Yang paling penting sekarang adalah screening. Yang dilakukan oleh sekolah adalah screening terhadap anak-anak. Jadi bisa mengetahui tentang perilaku dan latar belakang anak-anak,” jelas Lia.

Pada saat bersamaan, pemantauan terhadap orang tua murid juga menjadi hal yang krusial. Bila perlu, sekolah melakukan pendampingan terhadap orang tua, khususnya bagi mereka yang tidak bisa dipantau karena satu dan lain hal.

“Kalau misalnya ada orang tua yang tidak bisa dilakukan screening di awal, orang tua harus ada pendampingan dari pihak sekolah,” lanjutnya.

Selain terhadap orang tua dan anak, pihak yayasan sekolah mesti melakukan pemantauan terhadap guru-guru mereka. Hal yang dipantau terutama pendekatan cara mengajar guru di kelas.

“Yang kedua, screening di guru-gurunya juga. Latar belakang guru-gurunya, bagaimana caranya pendekatan dengan anak-anak itupun harus dilakukan,” kata Lia.