Kata BMKG soal Fenomena 'Siang Panas, Sore Hujan Deras'

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga menggunakan payung saat berjalan di trotoar kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (16/3/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Warga menggunakan payung saat berjalan di trotoar kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (16/3/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena cuaca yang belakangan terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Memasuki awal musim kemarau April 2026 kondisi siang hari terasa panas terik, tetapi berubah menjadi hujan deras pada sore hingga malam hari.

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Agie Wandala Putra, menjelaskan kondisi ini dipicu oleh pemanasan permukaan yang kuat pada pagi hingga siang hari.

“Kondisi hujan yang terjadi di awal April ini umumnya dipengaruhi oleh pemanasan permukaan yang kuat pada pagi-siang hari sehingga memicu naiknya massa udara ke atmosfer,” kata Agie dalam keterangan tertulisnya pada Minggu (5/4).

Kendaraan bermotor melintas saat hujan lebat di Jalan Sudirman, Jakarta, Rabu (25/3/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Selain itu, menurut Agie, kelembapan udara yang relatif basah, disertai tingkat kelabilan atmosfer dan indeks konvektif yang mendukung, turut berperan dalam pertumbuhan awan hujan, khususnya di wilayah Jabodetabek, sehingga berpotensi menimbulkan hujan lebat, kilat/petir, serta angin kencang.

"Selain itu, sejak akhir Maret hingga awal April, aktivitas gelombang ekuatorial Rossby di wilayah Jabodetabek dan MJO yang aktif secara spasial di wilayah Sumatera juga turut mendukung pertumbuhan awan hujan," lanjutnya.

Agie mengatakan, dari sisi musiman, fenomena ini berkaitan erat dengan masa peralihan musim yang menurutnya sedang berlangsung.

“Wilayah Jabodetabek diprakirakan mulai memasuki awal musim kemarau pada April-Mei 2026, yang berlangsung secara bertahap. Oleh karena itu, pada periode awal ini hujan masih berpotensi terjadi sebagai bagian dari fase transisi musim,” jelasnya.

Agie memperkirakan, pola cuaca ini masih akan berlangsung dalam waktu dekat.

“Pola curah hujan yang cukup signifikan di wilayah Jabodetabek ini diprakirakan masih berpotensi terjadi hingga sepekan ke depan, dengan kecenderungan menurun,” ungkapnya.

Meski demikian, potensi hujan lebat masih perlu diwaspadai di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jakarta dan Jawa Barat, khususnya pada periode 5-8 April 2026.

Untuk itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang cepat.

“BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu, potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem, maupun potensi kebakaran hutan di sejumlah wilayah rentan,” terang Agie.

Selain itu, masyarakat diharapkan lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, terutama perjalanan dan kegiatan luar ruang.

"BMKG juga mengimbau masyarakat untuk secara aktif memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem resmi dari BMKG melalui berbagai kanal informasi, antara lain www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg," pungkasnya.