Kata Gus Ipul soal Rapat Gus Yahya dan Ulama NU di Tengah Isu Pemakzulan
·waktu baca 3 menit

Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf bicara soal rapat Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dengan sejumlah ulama NU di tengah isu desakan mundur sebagai Ketum PBNU.
Rapat digelar di Kantor PBNU, Jakarta, Minggu (23/11) malam. Gus Ipul tak terlibat dalam rapat itu.
Menurut Gus Ipul, persoalan di PBNU merupakan ranah internal organisasi dan akan diselesaikan dengan mekanisme para ulama.
“Saya sampaikan bahwa itu adalah masalah internal yang akan diselesaikan dengan cara-cara ulama. Tentu kita harapkan semua ikut bersabar, tidak terjebak dalam spekulasi-spekulasi, tunggu pengumuman resmi. Karena namanya Nahdlatul Ulama maka yang memimpin adalah para ulama,” ujar Gus Ipul di Pusdiklatbangprof Margaguna, Gandaria, Jakarta Selatan, Senin (24/11).
“Para ulama akan mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan nilai-nilai agama dan sesuai dengan seluruh ketentuan yang ada. Nah untuk itu saya berharap semuanya bersabar dan tidak beropini,” tambahnya.
Terkait surat Rais Aam PBNU soal pemakzulan Gus Yahya, Gus Ipul menjawab singkat dan meminta publik khususnya warga NU menunggu perkembangan resmi dalam waktu dekat.
“Ya nanti ditunggu saja, mungkin dalam 1-2 hari kan ada penjelasan lagi. Saya terus terang tidak dalam posisi untuk bisa menjelaskan itu ya,” kata Gus Ipul yang juga Mensos RI ini.
Sebelumnya, rapat yang dihadiri para ulama PBNU menyepakati tidak adanya pemakzulan Gus Yahya.
“Sepakat kepengurusan PBNU harus selesai sampai satu periode yang muktamarnya kurang lebih satu tahun lagi. Semuanya, tidak ada pemakzulan, tidak ada pengunduran diri, semua sepakat begitu. Semua gembleng 100 persen ini,” kata Katib Aam Ahmad Said Asrori usai rapat.
Ada tiga poin yang dihasilkan dalam rapat alim ulama tersebut. Selain menyepakati tidak adanya pemakzulan, dua poin lainnya yakni adanya usulan silaturahmi lebih besar antara alim ulama.
Kemudian, satu poin lainnya yakni adanya tafakur atau renungan demi kebaikan bersama, kebaikan masyarakat, dan warga NU serta Indonesia.
Rapat itu dihadiri 50-an ulama/kiai NU.
Menurut Gus Yahya, dalam unggahan di Instagram, turut hadir, Syaikh Ali Akbar Marbun dari Medan yang juga anggota Ahlul Halli wal Aqdi di Muktamar Ke-34 Lampung, Katib Aam KH Ahmad Said Asrori, KH Muadz Thohir, KH Muhyiddin Ishaq, Waketum PBNU KH Amin Said Husni, dan kiai-kiai lainnya.
Sementara, Gus Yahya didesak mundur dari jabatan Ketum PBNU karena mengundang akademisi pro-Zionis [Peter Berkowitz] pada kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional NU (AKN) pada Agustus lalu serta adanya masalah tata keuangan di organisasi.
Surat itu ditandatangani Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, pada 20 November 2025, berdasarkan musyawarah antara Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam.
