Kata Prof Wiku soal Situasi Terkini Virus Corona di Indonesia

Kasus positif terjangkit virus corona di Indonesia masih terus bertambah. Berdasarkan data dari laman www.covid19.go.id, tercatat terdapat penambahan kasus positif sebanyak 1.761 sehingga total penderita COVID-19 kini berjumlah 95.418 orang.
Sementara angka pasien sembuh pada Jumat (24/7) juga bertambah sebanyak 1.781 orang dengan total pasien sembuh seluruhnya berjumlah 53.945 orang. Sedangkan, jumlah pasien meninggal dunia juga masih mengalami penambahan sebanyak 89 orang, sehingga total kasus meninggal tercatat sebanyak 4.665 orang.
Mengingat tugas Satgas COVID-19 yang tidak hanya menyampaikan perkembangan jumlah kasus harian corona, maka juru bicara Satgas COVID-19, Prof Wiku Adisasmito turut merangkum data lain terkait penanganan COVID-19 termasuk yang berkaitan dengan bidang ekonomi.
Berikut kumparan rangkum sejumlah informasi terkini terkait penanganan pandemi COVID-19 yang disampaikan Wiku.
1. 240 Nakes di Jayapura Terinfeksi Corona
Wiku menyebut setidaknya terdapat 240 tenaga kesehatan dinyatakan positif terjangkit COVID-19 di Jayapura, Papua. Meski begitu Wiku meyakini bahwa Pemkot Jayapura telah berupaya keras dalam memenuhi kebutuhan APD yang mumpuni bagi para tenaga kesehatan dalam menangani pasien corona. Wiku juga turut mengingatkan pentingnya proses transparansi kasus di sejumlah daerah, agar pihak yang terdampak dapat langsung ditangani oleh tenaga kesehatan yang ada.
"Ini berlaku bagi seluruh tenaga kesehatan yang ada di Indonesia yang jumlah terbatas dan harus kita lindungi. Maka dari itu selalu waspada menggunakan APD yang baik," ujar Wiku.
"Oleh karena itu ini bagian dari transparansi yang harus ditunjukan, dan kami mohon pada semua anggota masyarakat betul-betul transparan menyampaikan yang ada dalam rangka reaksi cepat. Khususnya beberapa daerah yang nakes menjadi klaster," sambungnya.
2. Angka Kesembuhan Melesat Naik, Kematian Menurun
Meski angka positif terus melonjak tiap harinya, Wiku menyebut angka pasien sembuh perlahan namun pasti terus mengalami peningkatan. Menurut dia, bahkan angka kesembuhan tertinggi sempat menyentuh rekor pada 19 Juli, dengan 2.000 orang dinyatakan sembuh. Meski begitu diakuinya angka penurunan justru terus menurun tiap harinya, tingginya angka kematian beberapa hari ini menurut Wiku dikarenakan pelaporan dari daerah yang belum optimal alias terkadang telat.
"Di bulan Maret angka rata-rata kematian 4,89 persen, meningkat di bulan April jadi 8,64 persen. Lalu terus menurun hingga Juli kini di angka 4.86 persen," kata Wiku.
3. Wiku Ungkap Klaster Corona DKI di RS Wilayah Kebon Jeruk dan Cempaka Putih
Peningkatan jumlah kasus yang cukup signifikan tiap harinya menurut Wiku turut dipengaruhi munculnya klaster-klaster baru penularan corona di Indonesia. Klaster penularan corna itu pun beragam, mulai dari rumah peribadatan hingga rumah sakit. Wiku menyebut ada RS di wilayah Kebon Jeruk, Jakarta Barat dan Cempaka Putih, Jakarta Pusat yang menjadi klaster baru penyebaran corona di DKI Jakarta. Meski begitu, Wiku enggan merinci rumah sakit mana yang dia maksud.
"Kecenderungan klaster makin meningkat akhir-akhir ini. Bentuk klaster ada beberapa macam, kegiatan sosial pertama awalnya pengajian. Klaster Gowa, Temboro, Gereja Bethel, dan itu klaster menyebar ke daerah lain dan menimbulkan masalah," kata Wiku.
"Sekarang terlihat meningkat di klaster RS. Rumah sakit rupanya cukup tinggi di beberapa tempat, di Jatim, di Yogya, Jakarta. Beberapa RS di Kebon Jeruk, Cempaka Putih," jelas dia.
4. Pelaporan Data Belum Optimal Berimbas Pada Laporan Corona Fluktuatif
Wiku tak menampik angka korban meninggal akibat corona yang fluktuatif tiap harinya. Ia menyebut hal itu dikarenakan sistem pelaporan kasus yang belum maksimal dan terintegrasi dengan baik, sehingga masih ditemukan adanya keterlambatan data tiap harinya. Hal itu menurut dia, dipengaruhi dari proses pengumpulan data yang dilakukan di tiap daerah tiap harinya.
"Kalau kita lihat jumlah meninggal terlihat fluktuatif. Salah satu hal penanganan kasus berat sehingga meninggal. Namun juga bisa disebabkan sistem pelaporan yang belum terintegrasi optimal di Indonesia," kata Wiku.
"Namun demikian proses ini membutuhkan waktu lama. Kami belum bisa jadikan satu mengingat ada beberapa kendala dalam pengumpulan data di setiap daerah dan kemudian verifikasi Kemenkes membutuhkan waktu lama," lanjut dia.
5. Munculnya Klaster RS dan Perkantoran Bukti Masyarakat Masih Belum Disiplin
Pemerintah meminta agar masyarakat lebih waspada akan potensi timbulnya klaster penularan baru COVID-19. Tak hanya di Rumah Sakit, penularan baru ditemukan pula di wilayah perkantoran. Wiku menyebut munculnya klaster-klaster penularan virus corona itu dikarenakan sikap masyarakat yang masih belum sepenuhnya patuh dan disiplin untuk menerapkan protokol kesehatan. Wiku menegaskan penggunaan masker, menjaga jarak, hingga mencuci tangan dengan sabun masih menjadi kunci utama dalam mengindari potensi penyebaran virus corona.
"Terkait klaster industri sudah kami sampaikan bahwa klaster bisa terjadi di mana saja. Klaster dari pertemuan agama, industri, RS, perkantoran dan lain. Ini klaster menunjukkan bahwa masyarakat belum disiplin menjalankan protokol kesehatan, apabila masyarakat lengah maka virus bisa menular," kata Wiku.
"Tolong agar semua disiplin mematuhi protokol kesehatan ini investasi untuk kita, kami dan seluruh masyarakat Indonesia agar produktif dan aman COVID-19," pungkasnya.
6. Corona Akan Semakin Buruk Dampaknya Bila Tak Pikirkan Ekonomi
Setelah merestrukturisasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona. Presiden Jokowi berulangkali ingatkan pentingnya atasi corona dengan tetap memikirkan dampak ekonominya. Menurut Wiku Pemulihan ekonomi, jelas dapat mempercepat pemulihan di bidang kesehatan. Sehingga dua hal ini harus diselesaikan secara bersamaan. Ia memastikan satgas corona akan berupaya untuk melakukan perbaikan terhadap keduanya secara bersamaan, sehingga dampak multidimensi yang diakibatkan oleh pandemi tak semakin memburuk.
"Jadi pemerintah lihat bahwa masalah ini ternyata tidak hanya kesehatan. Masalahnya berlanjut ke ekonomi dan pemerintah antisipasi ini sebelum keadaan lebih buruk, maka dibuat Perpres untuk gabungkan penyelesaian masalah," ungkap Wiku.
"Kalau enggak ditangani dengan bagus dari aspek ekonomi juga maka akan jadi masalah yang besar. Jadi fokusnya diperkuat," tutup dia.
7. Prof Wiku Pastikan Pemerintah Tak Tutupi Data Penanganan Corona
Wiku menegaskan tidak ada upaya pemerintah untuk menutupi data harian penanganan corona. Meski tak ditayangkan lagi setiap hari, Wiku memastikan masyarakat masih bisa mengakses data itu secara di lama www.covid19.go.id yang telah disiapkan pemerintah. Meski begitu, ia belum bisa memastikan kapan data-data COVID-19 di portal tersebut bisa ditampilkan secara real time. Sebab, proses pengumpulan data nasional bisa berbeda-beda antardaerah.
"Tidak ada yang ditutup-tutupi. Kami berharap data-data akan bisa diakses dengan real time. Kami sedang berusaha keras agar betul-betul data bisa diakses real time dan datanya enggak berbeda antara nasional dan daerah," ungkap Wiku.
"Proses ini membutuhkan waktu lama. Kami belum bisa jadikan satu, mengingat ada beberapa kendala dalam pengumpulan data di setiap daerah. Dan kemudian verifikasi Kementerian Kesehatan membutuhkan waktu lama," lanjut dia.
8. Pembuatan Vaksin Corona Dipercepat, Dipastikan Aman dan Tanpa Efek Samping
Indonesia saat ini telah menerima vaksin corona buatan China, Sinovac, yang statusnya kini tengah diuji klinis oleh PT Bio Farma bekerja sama dengan Universitas Padjadjaran serta Balitbangkes Kemenkes. Tak hanya memastikan vaksin itu dapat digunakan pada awal 2021, Wiku juga memastikan nantinya penggunaan vaksin akan aman dan tak memberikan efek samping pada pasien. Tak hanya aman, Wiku memastikan vaksin itu bila berhasil akan segera diproduksi secara massal untuk memenuhi kebutuhan akan vaksin secara nasional.
"Dalam perkembangan vaksin, pemerintah Indonesia memprioritaskan: pertama, aman. Kedua, tepat, dan ketiga, cepat. Kami perlu jelaskan aman adalah vaksin tersebut harus mampu memberikan perlindungan pada masyarakat dan tidak ada efek samping," papar Wiku.
"Karena kondisi yang dihadapi dunia harus cepat melindungi rakyat Indonesia, maka dari itu dilakukan seluruh uji cepat dan benar," ujar Wiku.
9. Corona Virus Pintar, Siapa yang Lengah Maka Dia Tertular
Masih tingginya angka positif terinfeksi virus corona, disebut Wiku dikarenakan turunnya tingga kewaspadaan masyarakat akan dampak virus tersebut. Menurut Wiku, meski ada sebagian masyarakat sudah patuh menjalani protokol kesehatan. Namun, virus ini juga pintar yakni dengan menyasar orang-orang yang masih tidak menerapkan protokol kesehatan dengan baik.
"Virus ini tinggal menunggu saja siapa yang lengah. Siapa yang enggak menjalankan protokol kesehatan itu lengah, itulah di mana virus bisa menular," ungkap Wiku.
Melihat bahayanya dampak virus itu, Wiku meminta masyarakat dapat lebih hati-hati dengan terus menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
"Virus ini pintar dan kita harus belajar sama-sama tentang bagaimana dia menular. Kita harus tahu virus ini sangat berbahaya, enggak boleh dianggap enteng. Kalau dianggap enteng, buktinya kasusnya naik terus," tuturnya.
