Kata Saksi soal Tragedi Kanjuruhan: Mencekam, Suporter Dikelilingi Gas Air Mata
·waktu baca 5 menit

Pertandingan antara Arema FC dengan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada Sabtu (1/10) berujung tragedi. Rizky, saksi mata, sekaligus suporter membeberkan detik-detik kericuhan yang menewaskan ratusan orang terjadi.
Iaberujar stadion dan pertandingan masih berjalan aman tanpa kericuhan hingga kickoff sekitar pukul 20.00 WIB. Yang terlihat hanya suporter Arema yang saling melontarkan psywar kepada pemain Persebaya.
“Kick off dimulai dan pertandingan berjalan aman, tanpa kericuhan sedikitpun. Yang ada hanya suporter Arema saling melontarkan psywar ke arah pemain persebaya,” ujar Rizky melalui akun twitternya. Ia telah mengizinkan kumparan mengutip cuitannya, Minggu (2/10).
Setelah babak pertama selesai mulai ada 2-3 kali kericuhan di tribun 12-14 yang secara cepat ditindaklanjuti oleh petugas.
Babak kedua berlanjut, tim Persebaya berhasil mencetak gol ketiga. Arema FC balas menyerang tetapi tidak ada gol yang tercipta. Menurutnya, kondisi ini mulai membuat suporter gemas.
“Babak ke-2 berlanjut dan tim Persebaya berhasil mencetak gol.nya yang ke-3 Arema FC semakin tampil menyerang menggempur gawang Persebaya, tapi tidak ada gol yang tercipta. Semakin banyak serangan, semakin gemas juga kita sebagai suporter menontonnya,” jelas Rizky.
Hingga akhir peluit dibunyikan tanda permainan berakhir, skor tidak berubah dan Arema harus menerima kekalahan. Saksi berujar kericuhan dimulai di sini.
Pemain Arema Tertunduk, Suporter Terabas Lapangan
Setelah peluit dibunyikan, para pemain Arema tertunduk lesu, pelatih Arema dan manajer tim mendekati tribun timur dan menunjukkan gestur minta maaf ke arah suporter.
Di sisi lain, salah seorang suporter dari arah tribun selatan nekat memasuki arena pertandingan guna mendekati pemain Arema, Sergio Silva dan Adlinso Maringa. Disusul beberapa oknum yang turut masuk untuk meluapkan kekecewaan mereka kepada pemain.
“Di sisi lain, ada 1 orang suporter yang dari arah tribun selatan nekat masuk dan mendekati sergio silva dan maringa, terlihat sedang memberikan motivasi dan kritik kepada mereka,” ujar Rizky
“Kemudian ada lagi beberapa oknum yang ikut masuk untuk meluapkan kekecewaannya kepada pemain Arema, terlihat Johan Alfarizi mencoba memberi pengertian kepada oknum-oknum tersebut,” tambahnya.
Semakin lama semakin banyak suporter yang turun ke lapangan dari berbagai sisi stadion. Kondisi ini diperparah dengan suporter yang melempar berbagai benda ke arah lapangan.
Pemain akhirnya digiring masuk ke ruang ganti dengan dikawal pihak berwenang. Setelah pemain meninggalkan lapangan, suporter semakin banyak dan tidak terkendali.
Ia mengatakan, aparat kepolisian telah melakukan berbagai upaya guna memukul mundur pada suporter.
“Pihak aparat juga melakukan berbagai upaya untuk memukul mundur para suporter, yang menurut saya perlakuannya sangat kejam dan sadis, dipentung dengan tongkat panjang, 1 suporter dikeroyok aparat, dihantam tameng dan banyak tindakan lainnya,” kata saksi.
Akan tetapi saat aparat memukul mundur suporter di sisi selatan, suporter di sisi utara balik menyerang aparat. Akibat banyaknya suporter yang masuk ke lapangan kondisi menjadi tidak kondusif.
Aparat kemudian menembakkan beberapa kali gas air mata ke arah suporter yang memenuhi lapangan. Saksi berujar suporter kemudian menyerang aparat dari sisi selatan dan utara disertai dengan hujan lemparan benda.
Gas Air Mata
Akibatnya, kata saksi, puluhan gas air mata ditembakkan ke arah suporter dan di setiap sudut lapangan telah dikelilingi gas air mata. Ada pula yang ditembakkan ke tribun penonton.
“Terhitung puluhan gas air mata sudah ditembakkan ke arah suporter, di setiap sudut lapangan telah dikelilingi gas air mata. Ada juga yang langsung ditembakkan ke arah tribun penonton, yaitu di tribun 10,” kata dia.
Suporter yang panik karena gas air mata dan kericuhan di tribun berlarian mencari pintu keluar tetapi pintu keluar sudah penuh sesak. Di luar stadion sudah banyak korban yang terkapar dan pingsan akibat efek terjebak di dalam stadion yang penuh gas air mata.
“Di dalam stadion mereka sesak karena gas air mata yang sudah ditembakkan ke berbagai arah. Sedangkan untuk keluar stadion pun gak bisa karena macet penuh sesak di pintu keluar. Di luar stadion banyak yang terkapar dan pingsan karena efek terjebak di dalam stadion yang penuh gas air mata,” kata saksi.
Sekitar pukul 22.30 WIB saksi berujar masih banyak insiden pelemparan batu ke mobil aparat dan pengeroyokan suporter terhadap aparat. Akibatnya gas air mata kembali ditembakkan di luar stadion, di sekitar tribun 2 Kanjuruhan.
“Kondisi luar Stadion Kanjuruhan sudah sangat mencekam. Banyak suporter yang lemas bergelimpangan, teriakan dan tangisan wanita. Suporter yang berlumuran darah, mobil hancur, kata-kata makian dan amarah. Batu batako, besi, dan bambu berterbangan,” pungkas saksi.
Keterangan Kapolda Jatim
Kapolda Jawa Timur Irjen. Pol. Dr. Nico Afinta berujar awalnya suporter masuk ke lapangan untuk menyampaikan kekecewaan dan dilakukan upaya pencegahan oleh keamanan.
"(Masuk ke lapangan) untuk menanyakan atau melampiaskan. Pengamanan melakukan upaya pencegahan dan melakukan pengalihan supaya mereka tidak masuk ke lapangan dan mengejar para pemain," terang dia.
Karena upaya ini dirasa kurang efektif, upaya lain pun kemudian dilakukan oleh pihak kepolisian. Salah satunya menembakkan gas air mata untuk mencegah tindakan anarkis suporter.
"Karena sudah mulai anarkis sudah menyerang petugas dan merusak mobil dan akhirnya karena gas air mata mereka keluar ke satu titik di pintu keluar. Yaitu kalau enggak salah di pintu 10 ya. Kemudian terjadi penumpukan," kata Nico.
"Dalam proses penumpukan itulah terjadi sesak napas, kurang oksigen, yang oleh tim medis dilakukan upaya pertolongan yang ada di dalam stadion dan dievakuasi ke beberapa rumah sakit," beber dia.
Akibat kerusuhan suporter yang dipicu kekecewaan Arema ditekuk 2-3 oleh Persebaya ini diketahui 127 orang tewas, 180 orang lainnya dirawat di rumah sakit, 13 kendaraan rusak.
