Kata Turis Malaysia soal CFD di Jakarta

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kegiatan Flashmob pencak silat oleh 6.500 pesilat dari perguruan seluruh DKI Jakarta di Car Free Day, Bundaran HI, Jakarta, Minggu (9/8/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan Flashmob pencak silat oleh 6.500 pesilat dari perguruan seluruh DKI Jakarta di Car Free Day, Bundaran HI, Jakarta, Minggu (9/8/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparan

Bagi sebagian warga negara asing, car free day (CFD) di Jakarta menawarkan pemandangan yang tidak biasa.

Terlebih bagi turis yang mengenal Jakarta sebagai kota yang lekat dengan kemacetan dan padatnya kendaraan pribadi, melihat ruas jalan utama berubah menjadi ruang bagi pejalan kaki dan pesepeda menjadi pengalaman tersendiri.

Chang, turis asal Malaysia, menyempatkan diri datang ke kawasan Sudirman hingga Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, untuk melihat langsung pelaksanaan CFD pada Minggu (9/8) pagi.

“Kegiatan hari ini sangat baik karena orang datang untuk jalan, bersepeda, berjoget, menggunakan kostum, jadi sangat bagus ya,” kata Chang.

Chang mengatakan, dirinya memang datang khusus untuk melihat suasana CFD Jakarta. Ia ingin melihat langsung bagaimana kawasan yang biasanya dipenuhi kendaraan berubah menjadi ruang bagi masyarakat untuk beraktivitas.

“Pagi ini saya terutama datang ke sini terutama untuk car free day pagi-pagi pukul 8 lebih,” ujarnya.

Turis asal Malaysia, Chang, bicara soal car free day (CFD) Jakarta yang kontras dengan imej macet di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparan

Pengalaman tersebut membuat Chang membandingkan Jakarta dengan sejumlah kota lain yang pernah dikunjunginya, termasuk Singapura.

Menurut dia, kota tersebut sudah terbiasa mengandalkan transportasi publik dalam mobilitas sehari-hari.

Namun, Chang menilai CFD memiliki keunikan tersendiri ketika diterapkan di Jakarta. Sebab, di tengah kota yang dikenal memiliki lalu lintas padat, ruas jalan utama justru dapat berubah menjadi ruang bagi warga untuk berjalan kaki, bersepeda, berjoget, hingga mengikuti berbagai aktivitas komunitas.

“Kalau di Singapura (misalnya) itu transportasi publik tidak ada komplain ya. Itu (CFD Jakarta) adalah ide yang hebat (karena) Jakarta memang lalu lintasnya amat buruk, memang gila,” sambungnya.

Bagi Chang, perubahan suasana tersebut menjadi pengalaman tersendiri selama berada di Jakarta. Jalan yang biasanya menjadi bagian dari kesibukan lalu lintas kendaraan untuk sementara berubah menjadi ruang terbuka yang dapat dinikmati warga dan wisatawan.