Kazakhstan Membara: Aparat Dipenggal Massa, Rusia Sampai Turun Tangan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
24
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pasukan terlihat di alun-alun utama tempat ratusan orang memprotes pemerintah atas kenaikan batas harga bahan bakar gas cair, di Almaty, Kazakhstan Kamis (6/1/2022).
 Foto: Mariya Gordeyeva/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Pasukan terlihat di alun-alun utama tempat ratusan orang memprotes pemerintah atas kenaikan batas harga bahan bakar gas cair, di Almaty, Kazakhstan Kamis (6/1/2022). Foto: Mariya Gordeyeva/REUTERS

Kazakhstan, negara Asia Tengah yang sebelumnya cenderung stabil, mendadak bergejolak. Sejak kenaikan harga LPG dan bahan bakar pada awal 2022, demonstrasi pecah di sejumlah daerah, salah satunya di kota terbesar, Almaty.

Hingga Kamis (6/1), demonstrasi berubah menjadi kekacauan yang merenggut belasan nyawa aparat keamanan.

Dilaporkan juga penembakan dan pembunuhan terhadap pengunjuk rasa, yang jumlah korbannya belum diketahui hingga kini.

kumparan telah merangkum perkembangan situasi di Kazakhstan, yang bermulai dari demonstrasi di kota kecil hingga menjadi kerusuhan mencekam yang penuh darah.

Demo tolak kenaikan harga BBM di Kazakhstan. Foto: REUTERS/Pavel Mikheyev

Kenaikan Harga LPG di Awal Tahun

Kenaikan harga LPG di awal 2022 sangat disesalkan rakyat Kazakhstan. Hal ini dikarenakan harga yang jauh lebih murah ketimbang bahan bakar minyak (BBM). Di Kazakhstan, LPG digunakan untuk bahan bakar kendaraan.

Pemerintah Kazakhstan memutuskan untuk mencabut batas harga per liter LPG, dan harga pun melonjak.

Rakyat yang tidak terima akhirnya berdemo pada akhir pekan lalu. Kota kecil Zhanaozen, Provinsi Mangistau, diramaikan oleh warga yang menuntut penurunan harga.

Demo pun meluas ke Kota Aktau, kota yang berlokasi di pesisir Laut Kaspia.

Pada Selasa (4/1), demonstrasi mencapai kota terbesar Kazakhstan, Almaty. Di sinilah demonstrasi berubah rusuh. Kepolisian mencoba membubarkan aksi dengan menggunakan granat kejut dan gas air mata.

Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev. Foto: Christof Stache/AFP

Presiden Umumkan Keadaan Darurat

Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev, mengumumkan keadaan darurat di Kota Almaty dan beberapa daerah di Provinsi Mangistau. Ia pun berjanji akan membahas aspirasi warga dengan kabinet pemerintahan.

Pengunjuk rasa menyerukan “Pak Tua Minggir!” sembari berdemo. “Pak Tua” merujuk pada Nursultan Nazarbayev, eks Presiden Kazakhstan yang mundur pada 2019 lalu.

Meski sudah mundur, penguasa selama tiga dekade ini tetap memiliki pengaruh yang sangat besar di pemerintahan Kazakhstan.

Jaringan internet hingga aplikasi pesan singkat, seperti WhatsApp dan Telegram, tidak bisa diakses.

Aksi protes berakhir ricuh di Kazakhstan. Foto: REUTERS/Pavel Mikheyev

Almaty Kacau, Presiden Bubarkan Kabinet

Buntut dari kekacauan, Presiden Tokayev memutuskan untuk membubarkan kabinet pemerintahannya. Tokayev menyatakan menerima pengunduran diri Perdana Menteri Askar Mamin.

"Deputi PM Alikhan Smailov akan mengemban tugas dasar Perdana Menteri sampai kabinet baru terbentuk," tulis perintah Presiden Kazakhstan seperti dikutip dari AFP.

Selain itu, Nursultan Nazarbayev juga dipecat oleh Tokayev dari jabatan sebagai Kepala Dewan Keamanan Nasional. Ia juga memutuskan untuk kembali menurunkan harga LPG.

Tetapi, upaya-upaya Tokayev ini kurang mempan dalam meredakan kerusuhan.

Sejumlah mobil yang hangus selama protes terhadap kenaikan biaya LPG di Almaty, Kazakhstan Rabu (5/1/2022). Foto: Pavel Mikheyev/REUTERS

Pada Rabu (5/1), kediaman Presiden dan rumah Wali Kota Almaty dilaporkan dibakar. Suara tembakan terdengar. Anggota militer dan kendaraan lapis baja dikerahkan ke alun-alun Kota Almaty.

Pada hari ini, sebanyak delapan aparat keamanan dilaporkan tewas dan 317 orang luka-luka. Jumlah korban dari sisi demonstran masih belum diketahui. Keadaan darurat diperluas hingga mencakup seluruh wilayah Kazakhstan.

Minta Bantuan Rusia

Tokayev menuduh pengunjuk rasa melakukan serangan terhadap penegakan hukum. Ia mengeklaim, negaranya tengah diserang oleh “kelompok-kelompok teroris.”

Akhirnya, pada Rabu malam, Tokayev pun meminta bantuan kepada koalisi militer Collective Security Treaty Organisation (CSTO) yang dipimpin Rusia.

Demo tolak kenaikan harga BBM di Kazakhstan. Foto: REUTERS/Pavel Mikheyev

Permintaan Tokayev disambut baik CSTO. Mereka mengatakan, pasukan terjun payung dari Rusia beserta negara anggota lain seperti Belarusia, Armenia, Tajikistan, Kirgistan akan dikerahkan ke Kazakhstan.

"Pasukan terjun payung sudah bergerak ke Kazakhstan dan unit lanjutan kontigennya sudah mulai melakukan tugas yang diberikan," ucap organisasi itu.

Situasi Semakin Mencekam: 18 Aparat Tewas, 2 dalam Keadaan Terpenggal

Kamis (6/1) malam waktu setempat, kerusuhan antara pengunjuk rasa dan pasukan militer kembali pecah di plaza utama Almaty.

Reuters melaporkan, sebanyak 18 aparat keamanan tewas. Dua di antaranya ditemukan dalam keadaan terpenggal. 748 petugas luka-luka, dan 2.000 orang diamankan.

Kepolisian mengatakan, mereka membunuh puluhan pelaku kerusuhan pada Rabu (5/1) malam hingga Kamis dini hari. Tidak diketahui berapa banyak pengunjuk rasa yang menjadi korban jiwa.