Kazakhstan Mulai Kondusif, Tentara Rusia Berjaga di Fasilitas Kunci
·waktu baca 2 menit

Pasukan Rusia berjaga di beberapa fasilitas kunci di Kazakhstan. Sementara itu, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev kembali memecat dua pejabat keamanan.
Situasi tersebut terjadi setelah kondisi Kazakhstan berangsur-angsur pulih pada awal pekan ini. Sepanjang pekan lalu, Kazakhstan dilanda kerusuhan terbesar sepanjang sejarah negara tersebut pascakemerdekaan.
Kerusuhan dipicu kenaikan harga LPG dan BBM. Massa yang mengamuk merusak berbagai fasilitas publik dan membunuh 18 aparat keamanan.
Kazakhstan lalu meminta bantuan militer Rusia dan sekutunya yang tergabung dalam Collective Security Treaty Organisation (CSTO). Sebanyak 2.500 tentara CSTO dikerahkan di Kazakhstan untuk membantu mengendalikan keamanan.
Presiden Tokayev memastikan, tentara koalisi Rusia tidak terlibat langsung dalam upaya pengendalian kerusuhan. Tugas mereka hanya sebagai bala bantuan.
Kantor juru bicara Presiden Kazakhstan turut memastikan tentara koalisi Rusia akan segera angkat kaki di Kazakhstan.
"Pasukan tidak akan lama di Kazakhstan, mungkin satu minggu lebih atau kurang," ucap kantor juru bicara kepresidenan Kazakhstan seperti dikutip dari Reuters.
Sementara itu, pemimpin negara anggota CSTO, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, pada Senin (10/1/2021) berencana menggelar pertemuan darurat untuk membahas krisis Kazakhstan.
Pemecatan Berlanjut
Pada Minggu (9/1/2022), situs Kepresidenan Kazakhstan mengumumkan pemecatan dua orang anggota Komite Keamanan Nasional yaitu Marat Osipov dan Daulet Ergozhin. Tidak dijelaskan alasan pemecatan dua orang itu.
Sebelumnya, pemecatan dilakukan kepada Kepala Intelijen Kazakhstan, Karim Massimov. Bukan cuma dipecat, Massimov juga ditangkap atas tuduhan makar.
Sampai sekarang otoritas keamanan tak mengungkap detail tuduhan yang dialamatkan kepada Massimov. Pengacara Massimov juga masih bungkam sampai saat ini.
