KBRI: Belum Ada Laporan WNI Jadi Korban Bom Gereja di Filipina

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah petugas evakuasi korban ledakan bom di Gereja Jolo, Filipina.  (Foto: Twitter/@philredcross)
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah petugas evakuasi korban ledakan bom di Gereja Jolo, Filipina. (Foto: Twitter/@philredcross)

Sebanyak 21 orang tewas dan 81 orang luka-luka akibat serangan bom di Katederal Katolik Roman, Jolo, Provinsi Sulu, Filipina Selatan, Minggu (27/1) siang. KBRI Manila menjelaskan belum ada laporan WNI yang menjadi korban dari bom itu.

"Sejauh ini belum ada laporan WNI yang menjadi korban," ungkap Duta Besar RI untuk Filipina, Sinyo Harry Sarundajang, dalam pesan singkat, Minggu (27/1).

Meski demikian, Sinyo mengaku pihaknya akan terus memantau perkembangan dari peristiwa ini. KBRI Manila juga akan terus berkoordinasi dengan pemerintah setempat terkait penanganan bom ini. Ia mengaku prihatin dengan serangan ini.

"KBRI Manila dan KJRI Davao akan terus memantau dan berkoordinasi dengan otoritas Filipina," jelasnya.

Pasukan tentara berjalan di samping korban ledekan bom di Gereja Katolik Roman, Filipina. (Foto: Armed Forces of the Philippines - Western Mindanao Command/Handout via REUTERS )
zoom-in-whitePerbesar
Pasukan tentara berjalan di samping korban ledekan bom di Gereja Katolik Roman, Filipina. (Foto: Armed Forces of the Philippines - Western Mindanao Command/Handout via REUTERS )

Keamanan resmi Filipina mengatakan, bom pertama meledak di dekat Katederal Jolo saat acara Minggu Misa. Tak lama kemudian, ledakan kedua terjadi ketika pasukan tentara tengah mengevakuasi korban dan menanggapi serangan tersebut.

Kepulauan Jolo telah lama menjadi biang permasalahan kelompok militan Abu Sayyaf. Kelompok tersebut, telah menjadi daftar hitam negara Amerika Serikat. Menurut pemerintah Filipina, kelompok tersebut termasuk dalam kelompok teroris karena sering melakukan pengeboman, penculikan, dan pemenggalan kepala.