KDM Akan Buat Sekolah Maung, Berisi Anak-anak yang Berprestasi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, usai Temu Industri dalam Kerangka Pengembangan Industri Inklusif, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan di Gedung Pakuan, Kota Bandung pada Kamis (23/4/2026). Foto: Abisatya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, usai Temu Industri dalam Kerangka Pengembangan Industri Inklusif, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan di Gedung Pakuan, Kota Bandung pada Kamis (23/4/2026). Foto: Abisatya/kumparan

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tengah menggagas konsep sekolah unggulan yang diberi nama Sekolah Maung. Sekolah ini nantinya berisi siswa-siswa berprestasi, baik secara akademik maupun non-akademik.

“Sekolah Maung nanti tahun pelajaran ini dimulai, tahun pelajaran sekarang. Sekarang sudah diidentifikasi dan nanti diberlakukan, yaitu sekolah yang menampung anak-anak berprestasi. Dua hal ya, prestasi akademik dan prestasi non-akademik,” kata KDM—sapaan akrab Dedi Mulyadi—usai menghadiri Temu Industri di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Kamis (23/4).

Ia menegaskan, konsep Sekolah Maung tidak hanya berfokus pada nilai akademik, tetapi juga mengakomodasi potensi siswa di bidang lain seperti olahraga, seni, dan industri kreatif.

“Jadi di Sekolah Maung itu nanti bukan hanya yang akademiknya baik, tetapi yang berprestasi di bidang olahraga, di bidang seni, industri kreatif, tetap sekolah di situ,” katanya.

Menurutnya, pendekatan ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif sekaligus relevan dengan kebutuhan industri masa depan.

“Nanti kelasnya jadi kelas industri kreatif fokusnya, kelas olahraga, kelas seni,” tambahnya.

Di sisi lain, program ini juga terintegrasi dengan kebijakan pemberian beasiswa bagi siswa dari keluarga ekonomi menengah ke bawah agar dapat mengakses sekolah unggulan.

“Sekolah-sekolah di Jawa Barat, terutama sekolah yang sudah punya kualifikasi sebagai penghasil siswa terbaik untuk kebutuhan industri saat ini, mendapat titipan siswa-siswa dari berbagai daerah di seluruh provinsi Jawa Barat,” ungkap Dedi.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berbincang dengan sejumlah siswa saat meninjau program pendidikan karakter dan kedisiplinan di Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (5/5/2025). Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO

Ia menyebutkan, pemerintah telah mulai menempatkan siswa penerima beasiswa di sekolah-sekolah dengan biaya tinggi yang selama ini sulit dijangkau oleh masyarakat kurang mampu.

“Misalnya, barusan ada 100 yang sekolahnya sebenarnya mahal, tetapi kita memberikan beasiswa bagi anak-anak Jawa Barat yang orang tuanya memiliki ekonomi menengah ke bawah untuk sekolah di situ,” jelasnya.

Bahkan, jumlah penerima program tersebut ditargetkan meningkat signifikan dalam waktu dekat.

“Tadinya 100, saya minta 400, ditambah lagi satu sekolah, ada 800. Mudah-mudahan apakah mampu 800 atau tidak, nanti saya cek,” ujarnya.

Dedi menekankan, tujuan utama dari kebijakan ini adalah melahirkan kelas menengah baru yang mampu menjadi penggerak ekonomi di Jawa Barat.

“Tetapi semangatnya adalah bahwa harus lahir kelas menengah baru dari Jawa Barat, yang lahir dari sekolah-sekolah industri unggulan yang selama ini jarang sekali masyarakat ekonomi menengah ke bawah bisa sekolah di situ,” tegasnya.

Upgrade Sekolah Lama

Program Sekolah Maung tidak dibangun dari nol, melainkan melalui penguatan sekolah-sekolah unggulan yang sudah ada di berbagai daerah.

“Nggak dibangun, kita meng-update sekolah-sekolah yang dulu menjadi unggulan. Misalnya, di Bandung SMA Negeri 3, misalkan di Subang SMA Negeri 1,” kata Dedi.

Sekolah-sekolah tersebut nantinya akan ditingkatkan dari sisi fasilitas, teknologi pembelajaran, hingga kualitas tenaga pendidik.

“Nah, sekolah favorit itu yang akan menjadi sekolah-sekolah yang diisi oleh anak-anak yang punya prestasi. Semuanya punya prestasi, dan kemudian nanti dipastikan ada penambahan ruang kelas, penambahan teknologi pengajaran, serta seleksi guru yang memadai,” jelasnya.

Lebih jauh, ia menilai pendekatan ini juga dapat mengurangi kecemburuan sosial di dunia pendidikan karena keberhasilan siswa tidak lagi hanya diukur dari aspek akademik semata.

“Tapi sekarang keunggulan anak itu di bidang olahraga, di bidang seni, industri kreatif, teknologi, itu tidak akan melahirkan kecemburuan. Akan jadilah yang terbaik,” pungkasnya.