Keanggotaan Rusia di G20 Terancam, Akankah Kejadian G8 Terulang Kembali?
·waktu baca 3 menit

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen mengatakan pada Rabu (6/4), Presiden Joe Biden ingin Rusia dikeluarkan dari forum G20. Ini adalah salah satu upaya AS dalam meminta pertanggungjawaban Rusia atas agresinya di Ukraina.
AS dan sekutu Barat tengah menilai apakah Rusia berhak tetap berada dalam G20 setelah invasinya ke Ukraina. Ternyata ini bukan pertama kalinya posisi Rusia dalam sebuah forum politik multilateral terancam akibat perseteruan dengan Ukraina.
Kremlin juga menghadapi ancaman serupa terhadap keanggotaannya di G8. Bagai deja vu, ancaman itu pun muncul sebab tindakan agresi terhadap Ukraina.
G8 atau Group of 8 adalah platform multilateral strategis yang menghubungkan negara-negara maju dan berkembang utama di dunia.
G8 didefinisikan sebagai 'forum politik antar-pemerintah'. Mereka memiliki tujuan membahas dan/atau bekerjasama dalam menyelesaikan masalah global. Di antaranya ialah krisis keuangan, sistem moneter, krisis penyakit, dan perubahan iklim.
Kelompok ini awalnya dimulai dengan enam negara anggota, sehingga disebut G6, pada tahun 1975. Negara-negara awal termasuk Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat. Kemudian, Kanada ditambahkan untuk membentuk G7 pada 1976.
Pada 1991, G7 mengundang Mikhail Gorbachev, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet, untuk berbicara di London. Kehadirannya itu bersamaan dengan KTT G7.
Rusia kemudian secara rutin menghadiri KTT G7. Saat KTT Birmingham tahun 1998, Rusia secara resmi diterima di G7, menjadikannya G8.
Lalu, pada bulan Februari dan Maret 2014, Rusia menginvasi dan mencaplok Semenanjung Krimea dari Ukraina. Rusia secara resmi memasukkan Krimea sebagai dua subjek federal Rusia—Republik Krimea dan kota federal, Sevastopol, pada 18 Maret 2014.
Sebagai akibat dari pelanggaran Rusia atas kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina, para kepala negara dan pemerintahan G7 memutuskan untuk tidak menghadiri KTT G8 yang direncanakan di Sochi, Rusia.
KTT tersebut akhirnya diadakan di Brussel, Belgia sebagai perwakilan Uni Eropa yang secara rutin menghadiri pertemuan G7. Keanggotaan Rusia dalam G7 pun ditangguhkan untuk sementara.
Pada April 2015, Menteri Luar Negeri Jerman saat itu Frank-Walter Steinmeier mengatakan, Rusia akan disambut kembali ke dalam G8 asalkan Protokol Minsk diimplementasikan.
"Tidak ada konflik internasional besar yang dapat diselesaikan tanpa Rusia," tambah Steinmeier pada 2016.
Pada tahun yang sama, Perdana Menteri Jepang Shinzō Abe menyerukan kembalinya Rusia ke G8. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Italia Angelino Alfano juga mengungkap pernyataan serupa pada Januari 2017.
"(Italia berharap untuk) melanjutkan format G8 dengan Rusia dan mengakhiri suasana Perang Dingin," tutur Alfano.
Namun, Moskow menegaskan, mereka tidak berniat bergabung kembali dengan blok itu. Pada 13 Januari 2017, Rusia mengumumkan, mereka akan secara permanen meninggalkan G8.
G8 lantas mengganti nama menjadi G7. Kini, forum tersebut hanya terdiri dari AS, Prancis, Jerman, Italia, Kanada, Jepang, dan Inggris.
Penulis: Airin Sukono
