Kebakaran di Gunung Bromo Meluas Jadi 120 Hektare, Dua Helikopter Dikerahkan

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) melaporkan kebakaran hutan di kawasan Gunung Bromo meluas hingga sekitar 120 hektare. Kebakaran tersebut telah memasuki hari kelima pada Jumat (7/8).
"Sementara sekitar 120 hektare lahan terbakar. Angka itu masih merupakan hasil perhitungan sementara," kata Kepala BB-TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha dalam keterangannya, Jumat (7/8).
Untuk membantu mempercepat pemadaman, dua unit helikopter dikerahkan ke lokasi guna melakukan penyiraman air dari udara (water bombing).
"Masih ada beberapa titik api yang belum padam. Lokasinya berada di tebing-tebing terjal sehingga sulit dijangkau tim darat," ujarnya.
Menurut Rudijanta, meski kobaran api mulai mengecil pada Jumat pagi, pemadaman melalui jalur udara tetap dilakukan karena masih terdapat bara api di bawah permukaan vegetasi yang berpotensi kembali membesar apabila tertiup angin.
Vegetasi yang terbakar didominasi cemara gunung, mentigen, akasia, serta semak belukar. Kondisi tersebut membuat bara api sulit terdeteksi dan dipadamkan secara menyeluruh melalui jalur darat.
"Kalau di lereng dan tebing-tebing memang harus menggunakan helikopter karena tidak mungkin dijangkau petugas. Helikopter ini bukan hanya untuk mempercepat pemadaman, tetapi juga memastikan titik api di lokasi tersebut benar-benar padam. Tanpa alat itu, lokasi tersebut tidak mungkin dijangkau manusia," katanya.
Sementara itu, tim gabungan tetap melakukan pemadaman melalui jalur darat. Ratusan personel dari BNPB, BPBD, TNI, Polri, BB-TNBTS, serta relawan masyarakat dan pelaku wisata terus bersiaga mengendalikan kebakaran.
Mereka memadamkan api dengan menyemprotkan air menggunakan mobil tangki, memukul kobaran api menggunakan ranting, serta membuat sekat bakar untuk mencegah api meluas ke area lain.
Petugas juga terus memantau pergerakan api yang sebelumnya bergeser dari Blok Bantengan dan Watu Gede menuju Bukit Jantur, serta berada di bawah kawasan Jemplang.
"Petugas gabungan tetap bersiaga di jalur darat untuk mencegah api semakin meluas, sambil menunggu helikopter melakukan water bombing," tutup Rudijanta.
