Kebakaran Hutan di Bromo Tak Terkait Aktivitas Vulkanik, Status Tetap Waspada

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, Sabtu (8/8/2026). Foto: Dok. BB TNBTS
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, Sabtu (8/8/2026). Foto: Dok. BB TNBTS

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sekitar Gunung Bromo, Jawa Timur, sejak 3 Agustus 2026 tidak berkaitan dengan aktivitas vulkanik gunung tersebut.

Badan Geologi memastikan, sistem pemantauan Gunung Bromo tetap berjalan normal di tengah upaya pemadaman kebakaran.

Berdasarkan laporan petugas di lapangan, kobaran api terlihat membakar area tebing di sekitar Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) dan merembet hingga kawasan Gunung Kursi.

Kebakaran juga terjadi di sejumlah titik, antara lain sisi selatan dinding kaldera, kawasan Savana Bromo, serta satu titik di wilayah utara sekitar Argowulan.

"Kejadian kebakaran tersebut merupakan kebakaran hutan/lahan dan tidak berkaitan dengan aktivitas vulkanik Gunung Bromo," kata Kepala Badan Geologi, Lana Saria, Minggu (9/8).

Badan Geologi menyebut, kebakaran hingga kini belum mengganggu sistem pemantauan aktivitas Gunung Bromo. Pemantauan kegempaan dan parameter vulkanik lainnya masih dapat beroperasi dengan baik.

Upaya pemadaman dilakukan oleh sejumlah pihak, termasuk Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan relawan.

Foto udara kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (6/8/2026). Foto: Umarul Faruq/ANTARA FOTO

Status Bromo Tetap Level II Waspada

Berdasarkan evaluasi seluruh data pemantauan, tingkat aktivitas Gunung Bromo hingga 9 Agustus 2026 masih berada pada Level II (Waspada).

Badan Geologi mengingatkan masyarakat, wisatawan, pendaki, pedagang, dan pengelola wisata tidak memasuki kawasan dalam radius 1 kilometer dari kawah aktif Gunung Bromo.

Masyarakat diminta mewaspadai potensi letusan freatik yang dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa didahului peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan.

Foto udara sejumlah petugas berupaya memadamkan kebakaran hutan di Blok Bantengan, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Selasa (4/8/2026). Foto: Irfan Sumanjaya/ANTARA FOTO

Gunung Bromo merupakan gunung api kerucut cinder yang berada di dalam Kaldera Tengger dengan ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut. Secara administratif, kawasan gunung tersebut berada di Kabupaten Probolinggo, Malang, Pasuruan, dan Lumajang.

Karakter erupsi Bromo dapat berupa erupsi eksplosif maupun efusif dari kawah pusat. Material yang dikeluarkan antara lain abu, pasir, lapili, serta terkadang lava pijar dan bom vulkanik.

Erupsi terakhir Gunung Bromo terjadi pada Juli 2019 berupa erupsi freatik. Saat itu, erupsi tidak didahului peningkatan kegempaan yang signifikan.

Badan Geologi meminta pemerintah daerah dan BPBD di wilayah sekitar Bromo terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Bromo di Cemoro Lawang, Kabupaten Probolinggo.

Masyarakat dapat memantau perkembangan aktivitas Gunung Bromo melalui aplikasi MAGMA Indonesia dan situs resmi Badan Geologi.

Pemantauan perkembangan kebakaran serta evaluasi aktivitas Gunung Bromo akan dilakukan secara berkala atau sewaktu-waktu apabila terjadi perubahan signifikan.