Kebakaran Pasar Mobil Kemayoran, Sparepart Mobil Mewah Ikut Terbakar

Kebakaran melanda kawasan Pasar Mobil Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (21/9) malam. Sejumlah kios yang menjual sparepart, aksesori dan bengkel mobil terdampak kebakaran.
Ali (53), warga Sunter yang sudah sekitar tujuh tahun menjadi pelanggan di Pasar Mobil Kemayoran, datang ke lokasi pada Selasa (22/9) pagi untuk melihat kondisi toko-toko yang terbakar. Ia menyebut sejumlah sparepart yang berada di dalam kios memiliki harga mahal.
"Sparepart, ini ke sana tuh sparepart. Toyota kalau enggak salah mah ya. Mahal-mahal, ini mah udah ember-emberan (miliar) ini, Bang,” kata Ali saat ditemui kumparan di lokasi, Selasa (22/9).
Menurut Ali, sebagian barang di dalam kios masih terlihat berserakan setelah kebakaran. Ia juga melihat sejumlah oli yang berada di lokasi.
Ali mengatakan kawasan tersebut memang banyak digunakan untuk menyimpan onderdil dan kebutuhan perbaikan mobil. Ia menyebut barang-barang seperti oli dan tiner juga terdapat di sejumlah tempat.
Warga lainnya, Andi (43), menyebut toko yang terdampak kebakaran menjual aksesori dan sparepart. Menurut dia, sparepart yang dijual di kawasan tersebut memiliki nilai tinggi, termasuk untuk mobil-mobil mewah.
“Kalau sparepart M (miliar) ini mah. Ratusan juta. Mahal-mahal semua. Sparepart yang mobil mewah,” ujar dia.
Andi mengatakan terdapat tiga pemilik usaha pada deretan kios yang terdampak.
Kebakaran dilaporkan terjadi pada Senin (21/9) sekitar pukul 19.35 WIB. Berdasarkan data Command Center Damkar Jakarta, petugas tiba di lokasi sekitar pukul 19.40 WIB dan mulai melakukan pemadaman satu menit kemudian.
Dalam proses pemadaman, sebanyak 17 unit mobil pemadam kebakaran dengan 65 personel dikerahkan. Operasi pemadaman dinyatakan selesai pada pukul 21.00 WIB.
"Situasi/status kebakaran; pemadaman selesai," tulis Command Center Damkar Jakarta dalam keterangannya, Senin (21/9).
Belum diketahui penyebab kebakaran maupun total kerugian akibat kejadian tersebut. Tidak ada laporan korban jiwa dari warga sekitar.
Warga menyebut kios-kios tersebut tidak digunakan sebagai tempat tinggal sehingga tidak ada orang yang tinggal di dalamnya.
