Kebrutalan Polisi AS Terhadap Warga Kulit Hitam Terekam Tak Pernah Mati

Kembali berulang. Aksi protes warga Amerika Serikat atas kekerasan polisi terhadap warga kulit hitam seakan tak ada habisnya. Seperti de javu, ada lagi warga Afrika-Amerika yang tewas dicekik polisi.
George Floyd megap-megap saat dijerembapkan polisi ke aspal jalanan Minneapolis pada Senin (25/5) lalu. Pria kulit hitam 46 tahun itu tak bisa napas. Lutut polisi menekan kuat belakang lehernya, selama sekitar lima menit.
"Please, please, saya tidak bisa napas," kata Floyd yang tak bersenjata.
Polisi bergeming kendati para warga telah memintanya untuk mengendurkan cekikan. Floyd yang dituduh menjual barang ilegal itu kemudian dilarikan ke rumah sakit, tapi nyawanya tak tertolong.
Pembunuhan Floyd diabadikan di kamera ponsel dan ramai dibagikan di media sosial -- mengutip lirik The Upstairs -- peristiwa itu 'terekam tak pernah mati'. Keempat polisi dalam kasus itu dipecat dan mereka diselidiki. Tak butuh cenayang untuk tahu apa yang terjadi berikutnya, aksi protes, kerusuhan, bentrok, dan penjarahan.
Bukan kali ini saja polisi AS menuai kemarahan seantero negeri karena tindakan berlebihan yang menewaskan warga kulit hitam. Selama beberapa tahun terakhir, berbagai aksi protes besar pecah karena kebrutalan polisi.
Pembunuhan Floyd mengingatkan pada kematian Eric Garner pada Juli 2014 di Kota New York. Garner, pria kulit hitam, 44, juga tewas dalam cekikan polisi. Kejahatan pria beranak enam itu: dituduh menjual rokok tanpa pita cukai.
Sama seperti kasus Floyd, pembunuhan Garner juga terekam abadi. Setidaknya 11 kali dia mengatakan "Saya tak bisa napas" ketika lehernya dipiting polisi. Aksi protes besar pecah pada Desember setelah pengadilan memutuskan polisi pembunuh Garner tidak bersalah.
Salah satu kasus paling memilukan adalah kematian bocah kulit hitam di Ohio, Tamir Rice, pada November 2014. Bocah 12 tahun itu ditembak mati oleh polisi Timothy Loehmann, 26. Alasannya, Rice dituduh membawa senjata api dan mengacungkannya ke orang lain.
Dalam penyelidikan, diketahui senjata itu cuma mainan, ditandai ujung berwarna oranye. Loehmann dipecat dan aksi protes kembali pecah. Berbagai kematian warga kulit hitam di AS ini yang lantas memicu kampanye nasional "Black Lives Matter".
Kebrutalan Polisi AS
Berbagai data yang tersaji juga membuat bukti kebrutalan polisi AS semakin terekam tak pernah mati. Bahkan angka kematian di tangan polisi di AS lebih tinggi dibanding negara-negara maju lainnya di dunia.
Situs Statista mencatat, tahun ini hingga 30 Maret sudah ada 228 warga sipil AS yang ditembak mati oleh polisi, 31 di antaranya warga kulit hitam. Sepanjang 2019, ada 1.004 orang yang dibunuh polisi AS. Washington Post menyebut, pada kematian 2019, proporsi warga kulit hitam yang ditembak mati lebih banyak ketimbang ras lainnya.
Sebuah studi oleh Asosiasi Kesehatan Publik Amerika (AJPH) pada 2018 lalu menunjukkan polisi AS menembak mati rata-rata tiga orang per harinya. Per tahunnya, polisi menyumbang angka pembunuhan hingga 8 persen di negara itu.
Salah satu sasaran tembak terbanyak adalah warga kulit hitam. Organisasi watchdog Sentencing Project mencatat peluang masuk penjara warga kulit hitam AS enam kali lebih tinggi dibanding warga kulit putih.
Sebuah studi tahun lalu yang digawangi para ahli dari Rutgers University, Washington University, dan University of Michigan, menyebutkan sekitar 1 dari 1.000 warga kulit hitam di AS berpotensi mati di tangan polisi. Peluang mereka dibunuh polisi 2,5 kali lebih tinggi dibanding warga kulit putih.
"Peluang dibunuh polisi lebih banyak dibanding peluang menang lotere," kata Frank Edwards, peneliti di Fakultas Kriminologi Rutgers University, sebagaimana dikutip dari Los Angeles Times, Agustus 2019.
Hal ini terjadi lantaran stereotip yang masih kental di Amerika Serikat bahwa warga kulit hitam adalah kriminal. Tidak hanya di kepolisian, tapi juga di masyarakat.
Salah satu kasus yang terkenal adalah penangkapan dua pria kulit hitam di Starbucks Kota Philadelphia pada 2018. Manajer kafe tersebut memanggil polisi karena kedua pria itu meminjam toilet lalu duduk tanpa memesan. Padahal, keduanya sedang menunggu kawannya untuk berbisnis, dan mereka baru duduk 10 menit.
Sejak kasus itu, Starbucks menutup 8.000 gerainya di AS selama sehari untuk pelatihan antibias terhadap warga kulit berwarna.
Bias ras atau racial profiling membuat warga kulit hitam ini lebih banyak diperiksa di AS, dihentikan karena mengebut, atau diborgol karena kejahatan yang belum terbukti, ketimbang warga kulit putih. Hal ini diakui sendiri oleh pensiunan polisi Mayor Neill Franklin kepada LA Times.
Franklin mengatakan, selama puluhan tahun polisi merasa "sebagai ujung tombak dari penanganan masalah kesehatan publik" yaitu kecanduan narkoba. Sayangnya karena bias ras, kata Franklin, ujung tombak itu selalu diarahkan kepada masyarakat kulit hitam.
