Keceplosan ‘Sontoloyo’, Gambarkan Jokowi Sebagai Orang Jawa Tulen

Presiden Joko Widodo menyinggung politikus sontoloyo saat membagikan sertifikat tanah di Jakarta Selatan Selasa (23/10). Ia kelepasan lantaran jengkel dengan pihak-pihak yang menggunakan cara tidak sehat dalam meraih simpati masyarakat.
Menanggapi fenomena ini, Peneliti Madya Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kembdikbud) Sriyanto menyatakan, Jokowi menggunakan kata sontoloyo untuk menggambarkan dirinya sebagai orang Jawa.
“Jokowi berbicara seperti itu menggambarkan orang Jawa tulen. Dalam KBBI maknanya memang seperti itu (memaki karena kesal),” ungkap Sriyanto kepada kumparan, Jumat (26/10).
Sriyanto menambahkan, dalam masyarakat Jawa, sontoloyo digunakan untuk mengungkapkan kekesalan. Misalnya, ketika seorang anak dinasihati berkali-kali orang tuanya tapi tidak mendengarkan. Maka kata sontoloyo biasa keluar dari mulut si orang tua.
Meski begitu, Sriyanto belum memastikan apakah sontoloyo sudah ada dalam entri Kamus Bahasa Jawa. “Di kamus Jawa-Indonesia terbitan Balai Bahasa belum saya temukan. Tidak tahu kalau dalam kamus Bahasa Sansekerta dan lain-lain,” ujar Sriyanto.
Dia menambahkan, istilah sontoloyo juga mengalami pergeseran makna jika memang kata ini dimaknai sebagai penggembala itik atau bebek.
“Kalau dalam dunia bahasa, ini disebut peyorasi, seperti bancaan. Kalau dalam budaya Jawa ini dimaknai selamatan, tetapi maknanya jadi negatif ketika dikaitkan dengan korupsi,” ungkap Sriyanto.
Melihat konteks pidato Jokowi, Sriyanto membenarkan kalau Jokowi menggabungkan Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Ia menilai, penggabungan ini dinilai tepat secara makna.
Sementara itu, Penata Istilah Ivan Lanin berpendapat, sontoloyo yang diucapkan Jokowi maknanya sesuai dengan KBBI.
“Setelah membaca berita itu, saya pikir maksud Jokowi memang memaki. Seperti kita saja saat kesal dengan sesuatu,” tandasnya.
