Kedai Lontong di Bandung Gratiskan Makanan bagi Mahasiswa Perantau Asal Sumatera
8 Desember 2025 15:24 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kedai Lontong di Bandung Gratiskan Makanan bagi Mahasiswa Perantau Asal Sumatera
Kedai Lontong Medan Ka’ Zahra menyita perhatian masyarakat usai menyediakan makanan gratis bagi mahasiswa perantau asal Sumatera yang keluarganya terdampak bencana.kumparanNEWS

ADVERTISEMENT
Tagor Lubis (60 tahun) tengah sibuk di depan layar komputernya, memeriksa keluar masuknya uang dari kedai yang dirintisnya 14 tahun lalu.
ADVERTISEMENT
Kedai Lontong Medan Ka’ Zahra menyita perhatian masyarakat usai menyediakan makanan gratis bagi mahasiswa perantau asal Sumatera yang keluarganya terdampak bencana.
Melalui banner besar sepanjang 1 meter, Tagor menulis:
“Kepada adek-adek mahasiswa/mahasiswi asal Aceh, Sumut, dan Sumbar yang sedang kuliah di Bandung, jika belum dapat kiriman terkendala keluarga terkena musibah sementara uang simpanan mulai habis, silakan ambil makanan di kedai kami. Tetap makan, jangan lapar, tubuhmu butuh energi paling tidak untuk terus memberi doa.”
Tagor mengatakan, niatnya menggratiskan makanan di kedainya karena rasa kebersamaan dan kepedulian. Ia sendiri merupakan perantau asal Mandailing Natal, Sumatera Utara.
“Karena memang ada beberapa mahasiswa di sini juga yang sempat bercerita bahwa tidak bisa berhubungan dengan keluarganya,” ucap Tagor saat ditemui di kedainya, Senin (8/12).
ADVERTISEMENT
Tagor menyebut, niatnya ini terinspirasi dari kedai di Jogja yang telah melakukan hal serupa sebelumnya.
“Sebetulnya program seperti ini saudara-saudara kita yang di Jogja itu sudah lebih dahulu sebetulnya. Nah, kemudian kan tidak ada salahnya juga kita contoh yang baik ya,” ujarnya.
Ia mengatakan, program makan gratis ini mulai diinisiasi oleh putranya. Merasa tersentuh, Tagor menyetujui ide tersebut dan segera mencetak banner yang kini dipajang di depan kedai.
“Saat itu juga saya membuatkan, menyiapkan banner seperti ini karena di sini percetakan-percetakan itu saya langsung print itu. Saat itu juga kami tempelkan di sini,” kata Tagor.
Banner itu terpasang sejak Kamis (4/12), dan Jumat pagi mulai berdatangan mahasiswa perantau asal Sumatera. Tagor mengatakan, dalam satu hari setidaknya 10 mahasiswa perantau datang ke kedai untuk makan.
ADVERTISEMENT
“Mereka bilang itu, ‘Bang, kami terdampak’ ya udah udah cukup mengertilah kita sudah begitulah,” ujar Tagor.
Bebas Pilih Menu, Tidak Dibatasi
Tagor mengatakan, mahasiswa yang hadir boleh memilih menu apa saja. Ia juga tak membatasi berapa kali dalam sehari mahasiswa boleh datang untuk mendapatkan makan gratis.
“Bebas saja milih, belum saya batasin gitu ya selagi kita masih mampu,” ucap Tagor.
Ia juga kerap menghubungi kembali mahasiswa perantau yang pernah makan di kedainya. Ia menyebut hal itu dilakukan untuk menjaga hubungan baik dengan para mahasiswa tersebut.
“Karena ada malu, gengsi, ya apa segala macamnya itu harus kita jaga juga,” kata Tagor.
Banyak yang Ikut Berdonasi
Tagor mengatakan, sejak kedainya viral di media sosial, mulai banyak yang menghubungi untuk ikut berdonasi.
ADVERTISEMENT
“Ada orang yang datang ke sini gitu ya bilang ‘Bang, kami nitip tidak besar’ ada yang Rp 200 ribu, ada yang Rp 300 ribu ya macam-macamlah, sampai ada yang Rp 2 juta lebih,” ucap Tagor.
Selain dalam bentuk uang, ada juga masyarakat yang berkontribusi dalam suplai makanan. Beberapa supplier juga memotong biaya normal yang biasanya Tagor bayar karena ingin ikut berdonasi.
“Ada supplier kita itu gitu ya dia bilang ‘tagihan abang itu saya kurangi Rp 2 juta’,” ucap Tagor.
“Yang biasa mengirim tempe ke kita pagi-pagi biasanya dia kirim, siang dia nagih. Nah, begitu dia lihat ini, terus terang saya bilang air matanya mau melimpas. ‘Bang, enggak usah dibayar Bang. Aku nitip itu aja.’ Jadi saya rasa kebersamaan ini nikmat ya, indah ya,” kata Tagor melanjutkan.
ADVERTISEMENT
Tagor berharap dampak bencana longsor dan banjir yang terjadi di Sumatera dapat segera ditangani.
“Mudah-mudahan keluarga yang mendapat musibah di Sumatera, bisa normal kembali, baik kembali,” ucap Tagor.
“Sehingga anak-anaknya yang bersekolah di Bandung, yang melanjutkan pendidikan itu tuh pikirannya juga bisa lebih fokus kembali kan gitu ya, seperti itu,” ucap Tagor melanjutkan.
