Kedubes Kosta Rika Sebut “Bhinneka Tunggal Ika” Cocok untuk Komunitas Global

Kepala Perwakilan Diplomatik Kedutaan Besar Kosta Rika di Indonesia, Francisco José Masís Holdridge, menyebut bahwa semboyan nasional Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, patut menjadi pegangan komunitas internasional.
“Bhinneka Tunggal Ika—berbeda-beda tetapi tetap satu. Saya rasa ini tidak hanya berlaku bagi Indonesia… tapi juga untuk masyarakat internasional,” kata Francisco dalam sambutannya pada Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Kosta Rika ke-205 di Ayana Midplaza Hotel, Jakarta Pusat, Selasa malam (29/9).
Sebagai nilai dasar, Bhinneka Tunggal Ika menjadi mimpi komunitas global.
“Kita mungkin berbeda, tetapi pada akhirnya kita adalah satu. Kita menginginkan yang terbaik untuk rakyat kita. Kita mencari cara untuk saling membantu agar dapat mencapai potensi maksimal kita,” ujar Francisco di hadapan para diplomat negara sahabat, perwakilan kementerian/lembaga di Indonesia, dan mitra kerja strategis.
Meski resepsi diplomatiknya digelar akhir September, hari kemerdekaan Kosta Rika jatuh dua minggu sebelumnya. Kosta Rika meraih kemerdekaan dari Spanyol pada 15 September 1821 bersama negara-negara Amerika Tengah lain seperti Guatemala, El Salvador, Honduras, dan Nikaragua.
Francisco mengatakan, ini pertama kali pihaknya menggelar peringatan kemerdekaan di Jakarta, dan ia berharap dapat melakukannya setiap tahun.
“Terlepas dari kenyataan bahwa [letak geografis] Kosta Rika dan Indonesia sangat jauh karena kami (Kosta Rika) berada di sisi lain planet ini, kita berbagi nilai-nilai yang sama sehingga—dalam beberapa hal—membuat kita jadi satu,” ucap Francisco.
Diplomat karier yang merampungkan studi magisternya di University of London itu mengatakan, Kosta Rika datang sebagai teman yang memiliki kesamaan nilai.
“Seperti yang dikatakan Presiden Indonesia, seribu sahabat belumlah cukup. Untuk itu kami datang ke sini sebagai sahabat,” katanya.
Indonesia dan Kosta Rika sama-sama menjunjung perdamaian dan hak asasi manusia. Lebih lanjut, ujar Francisco, Indonesia berhasil merumuskan nilai-nilai itu secara luar biasa dalam Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa.
Walau kedua negara mungkin mempromosikan nilai-nilai tersebut secara berbeda dan melihatnya dari sudut berbeda pula, namun pada akhirnya targetnya sama: mencari yang terbaik untuk rakyat masing-masing negara.
“Dan kita berupaya mencapainya melalui kerja sama antarbangsa dan penguatan sistem internasional,” imbuh Francisco.
Francisco menyebut kerja sama kedua negara berkembang sejak Kedubes Kosta Rika dibuka di Jakarta. Peluang kemitraan itu terbuka luas di bidang manajemen risiko bencana, kesehatan, ekonomi, investasi, hingga pertanian.
Kosta Rika dan Indonesia sama-sama berada di kawasan tropis—sisi utara dan selatan khatulistiwa—sehingga menghadapi tantangan serupa, termasuk pada komoditas pertanian. Dalam hal ini, Kosta Rika memiliki pengalaman yang siap dibagikan, dan Indonesia menunjukkan kesediaan untuk berkolaborasi.
Francisco juga menyinggung kunjungan Grup Kerja Sama Bilateral DPR ke Kosta Rika tahun lalu untuk mempererat hubungan kedua negara. Dalam lawatan GKSB DPR ke San José, Kosta Rika, pada Mei 2025 itu, delegasi DPR bertemu Wakil Menteri Luar Negeri Kosta Rika Lidya Peralta Cordero.
Kiprah pesepak bola Kosta Rika di Indonesia tak luput disebut. Menurut Francisco, bukan tak mungkin pesebak bola negaranya yang merumput di Indonesia bertambah bila peluangnya bagus.
Pesepak bola Kosta Rika yang saat ini berlaga di Indonesia ialah Jefferson Brenes untuk Bhayangkara FC. Sebelumnya, ada pula Diego Campos di Bali United—namun kini telah kembali ke Kosta Rika.
Sepak bola yang merekatkan hubungan kedua negara membuat Francisco menyambut hangat kehadiran Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Suyadi Pawiro malam itu dan menyebutnya sebagai “tamu istimewa”.
Dalam sambutannya, Suyadi memuji capaian Kosta Rika pada Piala Dunia 2014, dan berharap Indonesia pun dapat meraih prestasi lebih besar dalam bidang olahraga.
“Perjalanan bersejarah Kosta Rika menuju perempat final Piala Dunia FIFA 2014 telah menunjukkan kepada dunia apa yang dapat dicapai melalui tekad, kerja sama tim, dan keyakinan. Indonesia berbagi ambisi yang sama untuk melihat para atlet mudanya bertanding dan bersinar di panggung dunia,” kata Suyadi.
Ia mengusulkan agar para atlet muda kedua negara lebih sering bertemu di lapangan bola, lapangan bulu tangkis, atau lapangan olahraga lain untuk pertandingan persahabatan.
Selain soal olahraga, Suyadi menyebut Kosta Rika dan Indonesia memiliki banyak ruang untuk bertukar pengalaman di sektor konservasi lingkungan, pariwisata berkelanjutan, energi terbarukan, ekonomi biru, dan mitigasi iklim.
Ada pula keterikatan geologis yang mendekatkan Kosta Rika dan Indonesia: sama-sama hidup berdampingan dengan gunung berapi dalam Ring of Fire. Dalam hal ini, terdapat peluang kerja sama strategis terkait kesiapsiagaan bencana, mitigasi risiko, dan penanganan tanggap darurat.
Satu kesamaan lain yang dimiliki Indonesia dan Kosta Rika adalah: kopi.
Kedua negara sangat terkenal dengan kopinya. Sementara Kosta Rika mendunia lewat kualitas kopinya, Indonesia menghadirkan beragam kopi dari penjuru Nusantara, mulai kopi Aceh, Sumatra, Jawa, Bali, Flores, hingga Papua.
Makanan kedua negara pun ada yang mirip, semisal Gallo Pinto yang tampilan dan rasanya sedikit banyak mengingatkan pada nasi goreng. Gallo Pinto ialah sarapan khas Kosta Rika berupa olahan nasi dan kacang hitam/kacang merah yang ditumis bersama rempah-rempah seperti bawang putih, bawang bombai, paprika, serta daun ketumbar.
Dengan demikian, ujar Suyadi, Indonesia dan Kosta Rika memiliki semua yang diperlukan untuk untuk kesuksesan diplomasi: good coffee, good food, and good friends.
Menutup sambutannya, Suyadi berharap malam itu lebih dari sekadar perayaan kemerdekaan Kosta Rika, tapi juga pembaharuan komitmen untuk mewujudkan persahabatan kedua negara yang lebih praktis, nyata, dan bermanfaat terutama bagi generasi muda.
"Setiap pertukaran pelajar, kemitraan usaha, pentas seni, hingga pertandingan olahraga memperkuat relasi antarpersonal, dan itulah yang menjadi fondasi abadi persahabatan kedua negara,” kata Suyadi seraya mendoakan kedamaian, kesejahteraan, dan kebahagiaan untuk rakyat Kosta Rika.
“Semoga persahabatan antara Kosta Rika dan Indonesia kian mekar dan mengakar. Viva Costa Rica! Viva Indonesia! Pura Vida!”
