Keindahan Sekaligus Keterbelakangan di Ujung Pulau Seram

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Beberapa rumah warga di Dusun Tatinang, Kabupaten Seram Bagian Barat (Foto: Bagas)
zoom-in-whitePerbesar
Beberapa rumah warga di Dusun Tatinang, Kabupaten Seram Bagian Barat (Foto: Bagas)

Dusun Tatinang adalah keindahan sekaligus keterbelakangan. Dari dusun di Kabupaten Seram Bagian Barat itu, misalnya, terlihat perbukitan nan hijau membentang dan lautan biru membentang.

Tapi masyarakatnya serba-kesulitan. "Di sini setengah mati kalau mengakses jalur darat. Ke depan dusun bertemu laut, ke belakang ada bukit terjal dan hutan bakau," ujar Oge (27), penduduk Tatinang, saat berbincang dengan kumparan, Selasa (21/8).

Setiap Bupati Seram Bagian Barat, menurut Oge, seakan lupa dengan janjinya membangun jalan penghubung di dusun yang terletak di Kecamatan Huamual Belakang--ujung kiri Pulau Seram--itu.

Warga Dusun Tatinang sedang beraktivitas (Foto: Bagas)
zoom-in-whitePerbesar
Warga Dusun Tatinang sedang beraktivitas (Foto: Bagas)

Mengharapkan pemerintah memang susah. Warga akhirnya membuat jalan seadanya. "Bupati berencana membangun jalan dan jembatan tapi masih ada pro-kontra, karena ada pihak-pihak yang tidak setuju wilayah di sini maju," kata Kepala Dusun Tatinang, Lapaco.

Mata pencaharian warga Tatinang bergantung pada hasil perkebunan seperti kelapa, cokelat, cengkeh, pala, dan minyak kayu putih. Yang disebut terakhir pernah sampai diekspor ke China tapi tak bisa dijual eceran karena transportasi antardusun dan kecamatan yang sulit.

"Kalau akses jalan sudah bisa terhubung, masyarakat bisa jual minyak kayu putih eceran pakai motor, Rp 200 ribu per kilogram," tutur Lapaco.

Rumah warga di Dusun Tatinang, Seram Bagian Barat (Foto: Bagas)
zoom-in-whitePerbesar
Rumah warga di Dusun Tatinang, Seram Bagian Barat (Foto: Bagas)

Sarana kesehatan juga serba-kekurangan. Tak ada dokter, hanya ada mantri. Itu pun harus menunggu lama karena sang mantri tinggal di Kecamatan Waisala yang letaknya di seberang bukit.

Artinya, ada dua pilihan bagi warga Tatinang yang sakit: Ke Puskesmas di Waisala atau ke Kecamatan Piru yang lebih jauh--berjarak sekitar 12 kilometer. Dua-duanya harus ditempuh pakai kapal karena tak ada jalur darat yang memadai.

Anak-anak di Dusun Tatinang (Foto: Bagas)
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak di Dusun Tatinang (Foto: Bagas)

Pendidikan anak-anak Tatinang juga miris. Sarana dan tenaga pendidik masih minim. Hanya terdapat sebuah SD Inpres, dengan 2 guru honorer yang mengajar 6 kelas.

"Guru-guru yang mengajar di sini hanya untuk cari gelar PNS saja. Saat sudah dapat (gelar), pindah ke desa sebelah dengan alasan sulit akses jalan," lanjut Oge.

Salah satu yang terdampak adalah Ode Jensen. Bocah berumur 15 tahun itu tidak bersekolah karena tak ada SMP dan SMA di Tatinang. Jika mau mengenyam pendidikan, orang Tatinang terpaksa 'merantau' ke Waisala.

"Terpaksa harus pisah dari keluarga dan tinggal di Waisala, karena kalau pulang pergi itu jauh dan melelahkan," ujar Ode.

Kondisi sekolah yang ada di Dusun Tatinang, Seram Bagian Barat (Foto: Bagas)
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi sekolah yang ada di Dusun Tatinang, Seram Bagian Barat (Foto: Bagas)

Reporter: Bagas Putra Riyadhana